PANDANGAN PERTAMA

Posted By Cerpen universal on Wednesday, September 2, 2020 | September 02, 2020

PANDANGAN PERTAMA 

Aulyani Indira. Panggil saja aku Aulya. Gadis berusia 17 tahun, yang sampai saat ini masih mengenakan seragam putih abu-abu. Kakiku masih terus melangkah, menelusuri sepanjang koridor sekolah. Kuamati keadaan sekitar, bermacam aktivitaspun mewarnainya. Apalah maksudnya? Sok mengajari bermain basket, dasar modus! Itu pula, bercerita sambil tertawa bahkan berteriak-teriak, apa yang mereka bicarakan? Adakah yang lebih bermanfaat?

Tak kufokuskan mataku terus-menerus pada aktivitas-aktivitas tersebut. Tak ada gunanya kurasa, melakukan hal yang sama seperti mereka. Kusandarkan tubuhku ini pada sandaran bangku tempat dudukku.

5 menit kemudian…

Kring.. Kring.. Kring.. Tak ada satu pun telinga tak mendengar suara bel berbunyi nyaring yang telah berhasil membubarkan sekumpulan siswa-siswi untuk masuk kelas masing-masing. Semua segera duduk tenang, sebab guru laki-laki berkumis tebal itu tepat membuntuti di belakang mereka. Syukurlah, hanya sekedar membuntuti. Apa jadinya jika ia masuk kelasku? Lalat pun mungkin tak akan berani berkutik, atau bahkan semut tak berani berjalan mencari makanan.

Ah, membosankan. Guru yang mengajar kami rupanya tak berangkat, tak ada pula tugas yang wajib kami kerjakan. Mataku terasa berat, padahal ini baru jam pelajaran pertama. Entahlah. Kuturuti permintaan itu. Kepalaku kini tepat kutaruh di atas meja. Perlahan, mataku mulai terpejam, menelusuri alam bawah sadar.

1 menit kemudian, terpaksa kuangkat kembali kepalaku dari atas meja, sebab suara-suara itu begitu mengganggu telingaku. Kuperhatikan mereka satu-persatu. Sekumpulan calon ibu-ibu duduk melingkar di depan kelas, membahas gosip-gosip terhangat yang tengah beredar. Andai aku adalah Spider Girl, akan kututup mulut mereka menggunakan jaring-jaringku, agar suara mereka tak mengganggu telingaku. Lebih baik menjadi siswi di pojok kiri belakang itu, diam, tampak sibuk menulis sesuatu. Entahlah, mungkinkah itu surat cinta? Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Kucoba kembali pejamkan mata dengan kepala menunduk di atas meja. Lagi dan lagi sebuah suara mengganggu telingaku. Kali ini, kumarahi dia, pemilik suara itu. Namun saat aku menatapnya, aku tak dapat berkata. Sungguh, pandangan pertama yang begitu indah setelah bersusah payah memejamkan mata.

“Nih, bukumu tadi ketinggalan. Ibumu titip ke aku. Ambil!!” ucapnya sambil menyodorkan buku itu padaku. Memalukan. Ingin sekali rasanya secepat kilat aku berlari ke toilet cuci muka untuk menghilangkan rasa berat pada mataku ini. Tapi, apa boleh buat? Jika aku melakukannya, pasti ia sudah pergi. Tanganku perlahan mulai mengambil buku itu, dan ia segera melangkah pergi. Huh. Setelah ia pergi, tak ada lagi pandangan yang lebih menarik di kelas membosankan ini. Menyebalkan.

Siang ini. Aku tepat berada di rumah sahabat lamaku, Kanella. Kami berpisah ketika memasuki SMA. Ia pergi mengambil minum di dapur. Mataku berjalan-jalan mengelilingi setiap sudut ruang tamu Kanella. Tunggu!! Ada sesuatu yang begitu menarik perhatianku. Foto itu. Iya, foto di sebelah vas bunga putih itu. Aku tak salah melihat. Kanella tampak begitu akrab dengan seorang lelaki di foto itu. Dan lelaki itu adalah pandangan pertamaku.

“Ini foto kamu sama siapa Kan? Kayak akrab banget.”.

“Oh, itu Aris pacar aku. Kami udah pacaran selama dua tahun.”.

Degh.. Pernyataan Kanella bagai menusuk jantungku. Ingin rasanya kubanting foto itu dan kubakar hingga tiada yang tersisa. Tapi aku tak mungkin melakukannya. Aku tak mau menjadi Spider Girl, menggunakan jaring-jaringku untuk memisahkan mereka. Sebab persahabatan kami lebih penting daripada apapun.
Blog, Updated at: September 02, 2020

0 komentar:

Post a Comment