MIMPI, MENTARI DAN HATI

Posted By Cerpen universal on Tuesday, September 8, 2020 | September 08, 2020

MIMPI, MENTARI DAN HATI

Jika memang cinta memerlukan kesempurnaan, lebih baik cinta seharusnya tidak pernah ada

Pagi ini mentari bersinar dari ufuk timur. Pertanda waktu masih terus berjalan. Detak jam masih terdengar nyaring di sudut kamar. Bukan waktunya untuk masih tertidur. Saatnya bangun. Menyajikan secangkir kopi hangat.

Sambil menikmati indahnya mentari pagi aku kembali teringat. Mimpi semalam masih terngiang jelas dalam ingatan. Bukan sekedar mimpi. Mimpi yang menakutkan. Mungkin ini suatu pertanda, hal buruk akan terjadi. Kembali mengambil kopi, mencoba menenangkan pikiran. Berharap itu hanya bunga tidur. Bukan hal yang seharusnya terjadi.

Aku menghampiri ponselku. Melihat notifikasi yang ada di layar. Ah, masih terasa hangat komunikasi kita. Benar kan, mimpi itu hanya bunga tidur. Bukan sesuatu yang nyata, buktinya masih tertulis dengan indah kata “sayang” dari kamu. Aku mulai beranjak dari tempat dudukku. Bersiap menikmati indahnya hari ini bersama dengamu.

Mulai kunyalakan mesin motorku. Bersiap berangkat menuju sekolah. Menuju tempat dimana kamu dan aku akan bertemu. Sudah tak sabar rasanya aku ingin melihat senyummu, canda tawa kita bersama. Aku harap semua akan terus baik-baik saja.

Akhirnya kita bertemu, bertemu di tempat yang kita janjikan. Di tepi halaman kelas kita. Aku tersenyum melihatmu, namun kamu hanya bersikap biasa saja. Malahan ada yang berbeda. Seperti ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan. Aku bertanya-tanya dalam kepala ini, apa yang sebenarnya kamu pikirkan. Tanpa sempat aku bertanya padamu, aku mengabaikan semua pikiran itu. Ternyata aku melakukan kesalahan besar, tanpa menanyakan apapun kepadamu.

Aku mulai merasa ada yang berbeda. Perubahan sikapmu terlalu signifikan. Entah apa yang merubahmu menjadi seperti ini. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Ada apa?

Perlahan kumulai bicara denganmu. Berharap semoga tidak terjadi apa-apa. Namun, Bukan sahutan yang kudapat. Malah dirimu terdiam terpaku tak menghiraukan apa yang aku katakkan. “Pasti terjadi sesuatu” dalam pikirku. Kupikir hal yang baik mulai berbicara dengan hal yang telah kita sepakati semalam. Kupikir kamu tak akan mengacuhkanku. Tapi kamu masih saja acuh tak acuh padaku.

Emosiku mulai menguasai setiap bagian tubuhku. Tubuhku mulai memanas. Kepalaku mulai terasa berat. Tapi, kamu masih saja tak menghiraukanku. semakin memanas emosiku. Aku dikuasai amarah padamu. Apa aku melakukan kesalahan? pertanyaan itu mulai muncul menghampirimu. Tetap saja kamu masih tak menghiraukanku. Aku putuskan untuk memarahimu. Berharap kamu mulai peduli.

Akhirnya, amarahku sontak keluar. Kamu mulai lirih dan menatapku. Aku pikir kamu mulai peduli padaku. Namun, semua tak sesuai dengan yang aku bayangkan. Kamu memilih untuk mengakhiri hubungan kita. Memilih untuk kita berpisah. Tanpa pernah aku tahu sebabnya.

Ternyata, mimpi tak sekedar bunga tidur. Mimpi bisa jadi nyata. Pikiranku kacau, semua hal yang sudah kurencanakan hancur sudah. Aku mulai mengutuk, mulai membenci setiap hal. Bahkan aku bertanya, mengapa tuhan menciptakan hati jika hanya untuk dipatahkan? mengapa cinta selalu berakhir dengan luka? mengapa ini semua terjadi? mengapa kita dipertemukan jika tak untuk bersama?

Aku tahu ini kesalahanku, aku dikuasai emosi. Namun, apa hanya karena amarahku, yang mencoba agar kamu tak mengacuhkanku salah? apa belum cukup kesetiaanku padamu? atau apakah rasa sayangku padamu masihlah kurang?. Lalu ke mana perginya dirimu yang berkata mari bersama-sama mendaki menuju puncak kebahagiaan kita. Apa itu hanya sebuah kebohongan belaka yang kamu padukan dengan kemanisan wajahmu. Pertanyaan-pertanyaan gila terus bermunculan dalam kepalaku.
Blog, Updated at: September 08, 2020

0 komentar:

Post a Comment