MALAM ITU
“Itu bukan siapa-siapa, biarkan saja” Kata itu yang masih terngiang dalam ingatanku. Berusaha menenangkanku dengan kehangatan telapak tangannya.
“Arrrghh!” Teriakku disela isak tangis.
“Mengapa kejadian itu selalu selalu berulang? Mengapa bayangmu selalu ada Rezan?”
Rezan, ya, pria itu adalah Rezan. Seorang pria dengan perawakan tinggi, tegap, rahang tegas, kulit yang kecoklatan dan mata yang tajam yang meluluhkan hatiku. Orang yang keras dan lembut hatinya, setidaknya itu yang aku pikirkan. Walaupun, banyak orang yang menantang keras apa yang aku pikirkan itu.
“Aku mencintainya seperti dia mencintaiku”
“Dia tidak mencintaimu, Sanny. Dia hanya memanfaatkanmu”
“Tidak, Rezan tidak seperti itu” ucapku dan berlalu pergi.
Sebenarnya, apa yang aku pikirkan waktu itu? Sebodoh itukah aku?
Aku membencinya, tapi mengapa disaat dia ada di hadapanku hatiku terasa sakit. Rasanya ingin berlari dan memeluknya dengan erat.
Aku membencinya, tapi mengapa disaat dia menatapku hatiku luluh kembali?
Aku membencinya, tapi mengapa saat ia terjatuh aku selalu khawatir dengan keadaannya?
“Tapi handphonemu terus bergetar, Rezan? Mungkin itu dari orang yang penting”
“Biarkan saja, sayang. Tidak ada orang yang lebih penting selain kamu”
Malam itu, malam yang terindah untukku. Aku dan Rezan sedang di perjalanan menuju kota kelahiran kami, aku sangat bahagia karena sebentar lagi aku akan pulang melepas kelelahan ini. Perjalanan yang panjang, dinginnya malam begitu menusuk tulang. Jaket yang aku pakai rasanya sudah tidak mampu menghangatkan tubuhku.
Rezan meraih tanganku, melingkarkannya di tubuh tegapnya. Dia bermain dengan jemariku, jemariku yang sedingin es. Menciumya dan memegangnya kembali, seakan tangannya akan memberikan kehangatan. Darahku berdesir dan jantungku berdegup dengan kencang.
Pelukan ini semakin erat.
“Itu rumah orangtuaku, Sanny. Kau ingin mengunjunginya?” senyumnya mengembang terlihat dari pantulan kaca spion.
“Aish, Zan. Aku tak ingin mereka melihatku dengan penampilan yang kusut seperti ini” aku memelas manja.
“Bagaimanapun penampilanmu, kau masih terlihat begitu cantik” ucapnya seraya melirikku.
“Apa kau mencintaku?”
“Kau sudah tahu jawabannya, sayang”
Rezan, aku membencimu. Kau begitu jahat kepadaku. Aku takkan pernah memberikan maafku kepadamu walau sudah beribu kali kau memintanya. Di mana? Di mana dia orang kau cintai itu? Yang terus menerus meneleponmu karena khawatir padamu? Bukankah dia adalah gadis yang cantik dan memiliki bakat bermain voli yang baik? Kau terpesona padanya? Begitu?
Ingatkah malam itu? Ketika langit mendung dan bintang tak terlihat? Ketika hujan grimis membasahi kita? Tapi itu adalah malam yang indah bagiku. Indah karena bersamamu. Indah karena melihat senyummu. Indah karena.. entahlah, Zan.
Ingatkah malam itu? Ketika kau mencium tanganku, ketika kau bermain dengan jemariku, ketika kau ungkapkan bahwa akulah yang terakhir bagimu?
Tapi, ingat pulakah malam itu? Ketika kita sampai ketempat tujuan dan aku mengambil handphonemu? Seketika kau meronta dan membentakku agar aku mengembalikan handphonemu. Aku menangis karena tak percaya kau berkata kasar padaku. Lalu kau memelukku dan memperlihatkan handphonemu itu agar aku berhenti menangis. Aku melihat nama ‘Alda’ mengirimkan pesan singkatnya. Tapi, aku percaya bahwa itu adalah saudarimu seperti apa yang kau katakan.
Notebook?
Loading.. Facebook.
“Ini masih facebook Rezan, akunnya belum di log out di Notebookku” gumamku dalam hati
-Alda 1- “Rezan, kamu ke mana saja, sayang?”
Aku disibukkan dengan mencari segala informasi. Berita yang tak pernah kudengar sekarang aku mendengarkannya. Segala apapun tentang Rezan. Ya, Rezan. Haha. Betapa bodohnya aku selama ini. Karena cintaku padanya seakan aku buta dan tuli tentang keburukannya. Yang selama ini aku tahu dia mencintaiku. Ternyata aku melakukan kesalahan besar, kesalahan karena mencintai orang yang salah. Terimakasih, Zan. Luka ini begitu menyakitkan.


0 komentar:
Post a Comment