ILUSI HATI (PART3)
Seperti apa yang ditawarkan Arza. Malam ini mereka berdua tengah berjalan berdua di bawah gemerlapnya malam Taman Rekreasi di kota ini. Diandra sibuk mengunyah kembang gulanya sembari menarik tangan Arza untuk mencoba semua permainan ekstrem. Mulai dari rollercoaster, rumah hantu, dan Bom-bom Car.
Namun yang paling ekstrem bagi Arza adalah bermain Bom-bom Car berbeda mobil dengan Diandra. Bukannya apa, hanya saja Diandra menyetir mobilnya asal-asalan. Apa yang bisa ditabrak, pasti dilakukan olehnya. Mulai dari menabrak mobil Arza berulang kali, menabrak mobil pengendara lainnya, menabrak pagar pembatas, bahkan Diandra berusaha menabrak penjaga permainan tersebut yang lari kocar-kacir dari mobil maut Diandra.
“Kamu parah, Di. Nggak lagi deh ngajakin kamu ke sini.” gerutu Arza ketika mereka berdua tengah duduk di sebuah kafe.
Diandra tertawa lebar sambil mencubit lengan Arza. “Gitu banget, Za. Kan aku udah lama nggak main selama di Kanada. Tega banget.”
“Bukan gitu, Di. Masalahnya anak kecil tadi mau kamu tabrak pake mobil kamu dengan muka tanpa dosa.” sahut Arza pura-pura memasang wajah jengkel.
“Iya deh. Maaf, Za. Kan aku cuma pingin main.” Diandra memasang tampang memelas yang membuat Arza semakin gemas melihat tingkahnya.
“Iya deh nggak pa-pa. Yang penting kamu seneng kan malam ini?”
“Banget, Za.” kata Diandra tersenyum sumringah. “Thanks ya.”
Arza tersenyum tipis. Mencintai seorang Evelly Diandra, gadis kuliahan, memang tidak mudah. Namun ketidakmudahan itulah yang membuat Arza terus bertahan hingga saat ini. Penolakan yang kerap kali ia santap tidak merubah ke mana haluannya menuju. Arza tetap akan di sana hingga pintu hati Diandra terbuka untuknya. Arza tahu, disakiti oleh seseorang yang pernah menjadi alasan untuk tersenyum memang sakit. Itulah yang Diandra rasakan. Namun Arza hadir berusaha untuk menutupi semua luka yang pernah tersayat di hati Diandra. Walaupun pintu hati itu masih tertutup untuknya saat ini, tetapi Arza yakin. Suatu saat pintu hati yang telah lama ia tunggu akan terbuka lebar untuknya.
“Kayaknya aku mulai ngantuk deh, Za. Pulang yuk.” Diandra melongok pada jam tangannya, kemudian menatap Arza.
“Tumben banget, Di. Ini masih jam sembilan malam, lho. Bukannya ini kesorean buat kamu?”
Tepat sekali. Diandra tertawa dalam hati. Ternyata Arza bukan main. Cowok itu paham betul bagaimana sikap Diandra, sifat Diandra, apa saja yang gadis itu biasa lakukan. Namun sekali lagi, Diandra tidak ingin terjatuh untuk yang kedua kalinya. Bersama Arza semakin membuat hati Diandra tersayat lebih dalam. Semakin dekat hubungan mereka, semakin banyak rasa sakit yang akan Arza rasakan. Dan Diandra tidak ingin hal itu terjadi.
Hanya satu hal yang dapat gadis itu lakukan; Menghindar darinya.
Sepulang sekolah Arza langsung tancap gas menuju apartemen Diandra. Sebucket mawar putih yang baru saja dibelinya terpampang manis di genggaman tangan Arza. Cowok itu ingin memberi kejutan untuknya dengan bunga mawar putih kesukaannya sejak kecil. Kemudian di tengah-tengah mawar tersebut terselip sepucuk surat kecil.
Be mine, Di. I love you.
Arza tersenyum tipis. Walaupun penolakan yang terus menyambut cintanya, Arza akan tetap berusaha. Diandra adalah gadis yang telah Arza incar sejak kecil. Bocah perempuan yang selalu membuat Arza menangis. Bocah perempuan yang selalu merebut semua mainan Arza lalu merusaknya. Bocah perempuan yang justru akan semakin memaki-maki Arza jika menangis. Bocah perempuan yang membuat hati Arza kini bergerak tak karuan.
Hingga kemudian, bocah perempuan itu menghilang tanpa kabar. Meninggalkan bocah laki-laki yang menunggunya sendirian di tengah lapangan. Meninggalkan sekelebat pertanyaan tanpa adanya jawaban. Meninggalkan bocah laki-laki yang menangis tanpa adanya caci-makian. Dan yang terakhir, meninggalkan secangkir rindu pada bocah laki-laki yang tidak tahu ke mana sahabatnya meninggalkannya.
Barulah pertanyaan itu terjawab ketika Arza diam-diam men-stalker Instagram Diandra. Gadis itu kini bertempat tinggal di Kanada. Menjalani lembaran barunya di sana, dan melupakan bocah laki-laki yang terus menunggunya di tengah lapangan. Berharap ada bocah perempuan yang akan memakinya ketika menangis. Namun penantian panjang itu tak kunjung datang. Hingga pada akhirnya bocah laki-laki itu menyerah.
Kini Tuhan memberi bocah laki-laki itu kesempatan untuk bertemu lagi dengannya. Di sebuah kafe dengan nuansa hujan. Arza kembali menemukan sebuah cahaya yang sempat mewarnai kehidupan masa kecilnya.
Arza benar-benar bertemu dengan Diandra.
“Cari siapa atuh? Kok dari tadi saya denger bunyi bel terus.”
Arza memutar tubuhnya dan langsung berhadapan dengan perempuan paruh baya yang sedang mengerutkan dahi.
“Eh, anu, saya lagi menunggu pintu ini terbuka. Soalnya berulang kali saya ketuk pintu ini, nggak kunjung terbuka.” Arza tesenyum manis.
Perempuan paruh baya tersebut termanhgut-manggut. “Maksudnya Neng Diandra, teh? Bukannya Neng Diandra sudah nggak tinggal di sini lagi? Barusan aja tadi Neng Diandra pamit sama saya.”
Arza membulatkan mata. Hampir saja cowok itu menjatuhkan bucket mawarnya. “Serius, Bu? Kalo boleh tau, Diandranya ke mana?”
Perempuan paruh baya itu mengingat-ingat.
“Kayaknya pergi ke bandara, atuh. Saya rada lupa.”
“Hah?! Y-ya udah. Makasih, Bu.”
Buru-buru Arza langsung berlarian keluar apartemen menuju mobilnya. Lalu melemparkan bucket mawarnya ke kursi belakang, dan cowok itu langsung menancap gasnya dalam-dalam.
Dalam hitungan beberapa menit dari apartemen menuju bandara, belum lagi macetnya, Arza sudah sampai. Cowok itu celangak-celinguk mencari keberadaan Diandra. Belum lagi harus berdesakan dengan pengunjung lainnya. Yang Arza tahu, ia harus secepatnya menemukan Diandra. Ia tidak ingin kejadian masa lalunya terulang kembali. Cowok itu tidak ingin kehilangan hatinya yang pergi entah ke mana.
Arza lari secepat mungkin mencoba menemukan di mana gerbang pesawat yang menuju ke Kanada. Itu pun kalau perkiraan Arza benar. Namun ternyata, Arza salah. Diandra tidak ada di pintu gerbang pesawat ke Kanada. Padahal sebentar lagi pesawat akan take off.
Arza mengusap wajahnya dengan gusar. Kepalanya terus menengok kanan-kiri. Hingga tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Diandra! Gadis itu tengah blusukan memasuki gerbang pesawat menuju Kanada. Diandra tampak terburu-buru karena pesawat sebentar lagi lepas landas.
Secepat kilat Arza berteriak, “DIANDRAAA!!!”
Gadis itu dan beberapa orang di sekitaran mereka menoleh pada Arza. Kali ini cowok itu tidak memperdulikan tatapan aneh dari orang di sekitarnya. Diandra tampak terkejut mendapati kehadiran Arza —sosok yang berusaha ia hindari dengan kembali terbang ke Kanada. Diandra hendak pergi menjauh dari Arza jika cowok itu tidak mencekal pergelangan tangannya. Memaksa Diandra untuk menatap mata Arza saat ini.
“Jangan ngehindar, Di.”
Diandra dapat melihat kilatan kesedihan di balik bola mata hitam milik Arza. Di sana tersimpan ribuan pilu yang siap menusuk hatinya begitu Diandra pergi meninggalkannya.
“Tolong jangan hindarin aku, Di.”
Diandra menepis tangan Arza dengan kasar.
“Enggak.” Kemudian gadis itu hendak memutar tubuhnya lagi jika Arza tidak buru-buru mencekal pergelangan tangannya.
“Kenapa pergi lagi?” Kini Arza melembutkan nadanya. Berusaha mencari alasan yang membuat Diandra tiba-tiba ingin pergi meninggalkannya.
Diandra terdiam.
“Di, kasih aku kesempatan sekali lagi.” ucap Arza membuat napas Diandra tercekat kuat.
“Aku janji nggak akan ngebiarin satu orang pun nyakitin kamu, apalagi ngeremukin hatimu. Aku akan jadi orang pertama yang akan maju untuk ngelindungin kamu.”
Diandra menggeleng. “Sori, nggak bisa, Za.”
Arza menatap mata Diandra dalam-dalam. Berusaha mencari sebuah kejujuran di balik mata itu. “Boleh tau apa alasannya kamu nolak aku setiap hari?”
Diandra menarik kasar tangannya dari genggaman tangan Arza. “Mau tau alasannya? Pertama, kita sahabat. Dan aku nggak mau ngerusak tali itu, Za. Ke dua, kamu adalah adik kelasku. Aku nggak bisa gitu aja ngebuka hatiku buat anak yang masih labil, cengeng, manja, apalagi begajulan. Kamu seharusnya bisa menikmati masa-masamu yang bisa cari cewek cantik yang sebaya denganmu di mana-mana. Bukan cewek kuliahan kayak aku gini, Za. Kita nggak cocok. Aku yang sudah bisa berdiri sendiri di mana pun aku berada, nggak bisa berpacaran dengan kamu yang labil, manja, dan pikirannya masih anak-anak.”
Jujur, perkataan Diandra membuat hati Arza jatuh berkali-kali. Namun ketika Diandra berbalik badan, Arza langsung menangkap lagi tangan gadis itu. Mati-matian Arza menyembunyikan rasa sakitnya dalam-dalam, hingga hanya senyuman manis nan tulus yang terpapar di wajah Arza.
“Kalo gitu, tunggu aku lima tahun lagi, Di. Aku janji akan jadi laki-laki yang cocok buat kamu, yang mandiri, yang nggak cengeng. Dan aku berusaha buat jadi cowok yang kuat buat kamu. Tunggu aku lima tahun lagi, Di.”
Diandra menoleh sambil tersenyum. Tanpa diduga-duga, gadis itu merengkuh erat tubuh Arza. “Makasih ya, Za. Tapi kamu nggak usah terlalu ngotot kayak gitu. Aku nggak bakal nagih janjimu kok kalo kamu sudah mendapatkan penggantiku.” Diandra menarik napas dalam-dalam. “Selamat tinggal, Arza Ganendra. Sampe ketemu lagi.”
—
Laki-laki itu menutup piano serta melodi yang membangun kembali kisah menyayat lima tahun yang lalu. Di tangannya terdapat setangkai mawar putih.
Laki-laki itu terus menggenggamnya seakan tidak membiarkannya terlepas. Ia berjalan menuju balkon kamarnya. Memandangi setiap kisah di tiap buliran air mata langit.
Mungkin laki-laki itu membenci hujan. Namun laki-laki itu tersadar, hanya hujanlah yang tersisa ketika laki-laki itu merindukan sebuah senyuman. Hanya hujanlah yang mampu mengantarkan sekelebat memori yang menjadi bayang-bayang kamuflase senyuman itu.
Laki-laki itu menaruh kedua lengannya di pagar pembatas balkon. Dalam derasnya hujan, laki-laki itu justru membiarkan setangkai mawar putih itu basah akan tetesan air langit. Dengan begitu, laki-laki itu berharap mawar putih ini akan menyampaikan pesan kepada gadis itu bahwa laki-laki ini sedang menangis.
Ke mana lagi laki-laki itu mencari keberadaan hatinya yang tak kunjung datang. Setiap harinya hanya bayangan tak nyata yang menghampirinya. Kini gadis itu bagaikan air hujan yang hampa dan tak bisa digapai. Bisa datang dan pergi sekehendaknya. Membiarkan laki-laki ini menunggu lebih lama dengan jutaan belati di hatinya.
Gadis itu benar-benar menghilang. Ketika laki-laki itu siap, gadis itu justru menghilang tanpa jejak.
Mengapa waktu tidak berkehendak pada laki-laki itu? Harus seberapa lama lagi laki-laki itu menunggu? Apakah mampu ia menunggu lebih lama akan sesuatu yang tidak pasti kapan datangnya?
Laki-laki itu menangis dalam diam. Dalam tangisannya, ia berdoa. Ia berdoa agar Tuhan memberikan satu lagi kesempatan untuknya merengkuh gadis itu.
“Tuan Muda Arza, ini ada kiriman dari seseorang yang tidak mau menyebutkan nama.”
Laki-laki itu menoleh. Kemudian dengan senyuman seperti biasanya, ia menerima kiriman tersebut. Nama Arza Ganendra semakin dikenal di seluruh penjuru kota. Laki-laki tampan yang menjabat sebagai pemilik perusahaan Bank di kota tersebut. Tidak berbeda dengan masa SMA, kini laki-laki itu lebih sering mendapatkan kiriman dari penggemarnya yang tak kunjung mereda. Banyak yang menanyakan mengapa pada usia 23 tahun masih belum menikah. Namun laki-laki itu hanya tersenyum, walaupun jauh di lubuk hatinya ia sedang menunggu seseorang yang semu.
Laki-laki itu mengamati kiriman tersebut. Mungkin ini kiriman dari penggemarnya lagi. Laki-laki itu membawanya kembali ke balkon. Dalam derasnya hujan, laki-laki itu tidak mengetahui bahwa di bawah sana terdapat seorang gadis yang sedang menatapnya dalam sendu. Tangisannya meluncur deras bersama hujan. Namun gadis itu memilih untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
Laki-laki itu dengan hati-hati membuka kiriman tersebut. Kemudian matanya menangkap sesuatu yang membuatnya nyaris kehilangan semangat hidup. Bagaikan tombak yang meluncur mulus menusuk hatinya, laki-laki itu menatap sederetan tulisan yang terpampang. Tangannya bergetar hebat. Matanya tak lagi sanggup membaca tulisan yang tertera di surat tersebut. Seluruh penantiannya hingga saat ini terbuang sia-sia. Namun apa daya, laki-laki itu hanya mampu berdiam diri tanpa mampu berkutik. Genggamannya melemas dan membiarkan surat itu melayang bebas di udara bersama hujan. Membiarkan seluruh penantian itu hanyut dalam tangisan langit.
Selamat menempuh hidup baru.
Alfano Tom & Evelly Diandra.
Saat itulah laki-laki itu menyadari bahwa dirinyalah yang paling tersakiti.
-END-


0 komentar:
Post a Comment