EDELWEIS PUSAKA INTRAVERSIA
Makhluk hitam yang dipimpin seorang
lelaki berambut merah tembaga itu, menyebar ke segala penjuru belantara
Intraversia.
“Ayo cepat cari mereka! Bawa mereka ke
hadapanku sekarang juga!” Titah lelaki itu.
“Grrr..” Makhluk hitam itu menggeram.
Mereka beringas. Menebas tanpa ampun pepohonan di hutan kesunyian.
Seorang lelaki berambut pirang melompat
dari balik ilalang. Tangannya melempar tombak sekuat tenaga. “Mati kau,
Redvey!” Teriak pemuda bermata amber itu.
Sluppp!
Berhasil. Tombak itu kini bersarang di
dada Redvey. Mata merah lelaki itu membelalak. Tangannya mencengkram tombak,
lalu menariknya secara paksa. “Arghhh” Seketika darah mengucur deras dari
lubang yang dibuat tombak.
“A-awas kau, Ditya! Tunggu pembalasan
dari Kakakku!” Katanya sarat emosi. Kemudian tubuhnya tersungkur tak bernyawa.
Para makhluk hitam itu murka. Tak terima
pimpinan mereka terbunuh begitu saja. “Grrrr!” Gerombolan makhluk itu menyerang
Ditya berbarengan.
“Sekarang, Kenzie!” Titah Ditya.
Lelaki berambut hitam legam itu menarik
busurnya. Mata biru sapirnya memicing. Seketika anak panah melesat cepat ke
arah kawanan makhluk hitam besar itu.
“Pancadasa!” Seru Kenzie mengucap
mantra. Seketika anak panah itu bertambah jumlah. Dalam sekejap, 15 makhluk
hitam tumbang.
“Sekarang giliran kau, Sara!” Perintah
Ditya.
Gadis bersurai indigo panjang itu
mengibaskan sayap putihnya. “Bayuangkara!” teriaknya. Angin berembus kencang
menerjang 10 makhluk hitam.
Tanpa mereka sadari, satu makhluk hitam
bertubuh besar berlari di belakang Ditya, hendak menyerangnya. Kenzie yang berada
di atas pohon tentu melihatnya. Ia telah siaga dengan anak panah di busurnya.
Belum sempat ia melesatkannya, tiba-tiba tubuh tingginya di selimuti cahaya.
“Ck, sial!” umpatnya kesal.
—
Sousa kanashimi wo yasashisa ni
jibun rashisa wo chikara ni
Lelaki tujuhbelas tahun itu mematikan
alarm di ponselnya. Tepat pukul 06:00 pagi. Kenzie meringis. Mata birunya
menyipit. Kepalanya terasa sangat pening.
Ingatan pertempuran dengan makhluk hitam
itu berkelebatan. Membuat ngilu setiap sendi di tubuhnya. “Sial! Kenapa aku
harus terbangun di tengah keadaan genting seperti tadi?!” Rutuknya. Kemudian
Kenzie mempersiapkan diri untuk sekolah.
Di kelas, Kenzie nampak tak bersemangat.
Ia melipat tangan di meja dan menyembunyikan wajah di baliknya. Sungguh,
kehidupan nyatanya sangat membosankan. Ia muak. Tak merasa tertantang. Merasa
hidup berjalan datar layaknya zombie.
Tiba-tiba ada perasaan aneh mendera
hatinya. Membuat fokus utamanya teralih. Kenzie cukup terganggu. Ia merasa
diawasi. Entah siapa orang yang telah berani mengusik ketenangan seorang
Kenzie.
Kemudian Kenzie menegakkan kepalanya. Ia
menoleh ke sana kemari. Pandangannya menyapu ruangan. Mencari sesuatu.
Ketemu! Sepasang mata hitam menatap
tajam dari balik jendela kelas. Mata perempuan. Kenzie yakin itu. Namun ia tak
dapat menerka siapa pemilik mata itu. Sebab bagian hidung ke bawah terhalang
oleh dinding kelas.
Mereka berdua masih bersitatap. Seolah
ada sesuatu yang membuat mata Kenzie terpaku pada manik kelam gadis itu.
Kenzie berkedip dan mata hitam itu
menyala. Lelaki itu tersentak dan menganggap kejadian barusan hanya halusinasi.
Kemudian ia memejamkan mata lagi lebih lama. Penasaran. Dan benar! Mata gadis
itu memancarkan cahaya ungu.
“Ken, kembalilah! Kami membutuhkanmu!”
Semayup suara terdengar lirih menyapa telinga Kenzie.
Lelaki itu membuka mata. Menampilkan
manik biru samudra di baliknya. Jatung Kenzie berdegup kencang. Kembali ia
bertemu pandang. Sorot lekat ungu itu seakan menghipnotisnya. Kenzie beranjak
dari duduknya.
Lalu ia menoleh dan… ah! Kepala bersurai
hitam legam masih terlungkup nyaman di atas meja. Tak bergerak sedikit pun.
Kini sukmanya telah keluar dari raga. Ia baru sadar, dirinya melakukan Astral
Projection di siang hari. Padahal, biasanya ia bisa melakukan AP di malam hari
saja.
Nginggg…
Kenzie menutup telinga. Matanya
terpejam. Seketika dirinya terhisap ke dalam pusaran portal antar dimensi.
Dunia serasa berputar-putar sekarang. Menambah pening kepalanya.
—
“Ken!” Seseorang meneriaki namanya. Mata
Kenzie terbuka. Dahinya mengeryit. Tak salah lagi. Kini ia berada di medan
perang!
“Sh*t!” umpatnya. Entah sejak kapan
makhluk hitam itu kini ratusan jumlahnya.
“Kalau terus melamun, kau akan terbunuh,
Ken!” kata Ditya.
Ken menoleh. “Astaga, kau terluka parah,
Dit! Kalau tak segera diobati, kau akan mati.” cemas Kenzie.
“Cerewet! Kau pikir aku selemah itu,
heh?! Lebih baik kau cemaskan dirimu. Kalau kau terbunuh di sini, kau takkan
bisa kembali ke duniamu!” Cerocos Ditya dengan senyum meremehkan tersungging di
wajah pucatnya.
“Sudahlah, ini bukan waktunya berdebat!
Kita bertiga sebagai prajurit istana harus melindungi Putri Ratimaya dengan
segenap kekuatan kita. Dan jangan biarkan Edelweis Pusaka jatuh ke tangan yang
bukan pewarisnya.” kata Sara berapi-api. Ia berharap kalimatnya barusan dapat
membakar semangat kedua rekannya.
Kenzie mengangguk setuju. Meski ia bukan
berasal dari Intraversia, ia berjanji akan ikut berjuang menumpas penyihir
jahat demi kejayaan negeri ini. Negeri dimensi yang hanya bisa dikunjungi
Kenzie melalui perjalanan astral.
Walaupun ia tak mengenal Putri Ratimaya,
tapi ia tetap ingin melindungi Edelweis Pusaka yang katanya menjadi pusat
Intaversia.
“DITYA!!!”
Kejadian itu begitu cepat. Entah
bagaimana Abigail menjadikan Ditya sandera. Tak ada yang menyadari kapan ia mengendap-endap
mengincar Ditya.
“Hei, Ratimaya! Cepat kau keluar dari
istanamu! Atau lelaki yang kau cintai ini akan berakhir mengenaskan.”
Tangan Ditya dipelintir ke belakang.
Beberapa inci lagi ujung pedang api hitam Abigail menyentuh leher Ditya.
Lelaki berambut pirang itu mengutuk
dalam hati. Seharusnya dia berusaha sekuat tenaga melindungi Ratimaya, tapi dia
malah menjadi sandera. Dirinya yang terluka parah menjadi sasaran empuk Abigail
-si penyihir jahat- yang ingin merapas Edelweis Pusaka demi kepentingan
sendiri.
Tiba-tiba angin berembus kencang,
bersamaan dengan kepakkan sayap putih turun ke bawah. Sesosok gadis bergaun
panjang *eburnean mendarat. Helaian rambut perak panjang melambai-lambai.
Mahkota kecil berwarna kencana menghias kepalanya. Kemilau violet memancar dari
dirinya.
Gadis itu memegang bola kristal yang di
dalamnya terdapat bunga edelweis.
“Turunkan senjata kalian! Jangan
menyerang!”
Para prajurit terkecuali Kenzie menurut.
Bahkan Sara pun kini berdiri di sisinya. Mereka terdesak. Pasukan putih kalah
jumlah dengan para makhluk hitam.
Kenzie tetap menarik busurnya. Siaga
melesatkan panah.
“Turunkan senjatamu, Ken! Jangan
membantah.” Ratimaya melirik Kenzie dari balik bahunya.
Ken terhenyak. Kaget. Manik mata ungu
itu… sama seperti milik gadis misterius yang mengawasinya di kelas. Apa benar
keduanya orang yang sama?
Kenzie mendesah sebelum akhirnya
meletakkan senjata di tanah.
“Cepat serahkan Edelweis Pusaka itu!”
Suara begis kakak Redvey menggelegar.
Jika Edelweis Pusaka jatuh ke tangan
Abigail, maka tamatlah sudah riwayat Intraversia. Konon katanya, Edelweis
Pusaka akan memberikan kekuatan dahsyat bagi siapapun pemegangnya.
“Tapi lepaskan Ditya, dan kumohon jangan
hancurkan Intaversia.” Ratimaya mencemaskan rakyatnya. Biar bagaimana pun, rakyat
sangatlah berarti baginya.
Abigail tersenyum licik. Lalu
mengangguk.
Hei, Ratimaya! Mana mungkin kau bisa
percaya dengan penyihir kejam macam Abigail. Namun tak ada pilihan lain, selain
menyerahkan apa yang diinginkan Abigail.
Dengan hati-hati Ratimaya meletakkan
kristal itu di atas rerumputan hijau. Secepat kilat Abigail menyambar Edelweis
pusaka. Lalu terbang ke angkasa.
“‘Kan ku tundukan Intaversia dibawah
kekuasaanku. Hahaha” tawa Abigail membahana, memekakkan telinga.
Kenzie tak berdim diri. Ia arahkan anak
panah mengikuti Abigail. Dan… bravo! Berhasil. Anak panah itu menancap,
menembus salah satu sayap kelelawar Abigail.
“Sara, bawa aku terbang ke arahnya!”
Sara mengangguk. Digenggamnya sebelah
tangan Kenzie. Mereka pun terbang mendekati Abigail.
Tangan kiri Kenzie terjulur ke depan.
Mencoba meraih kristal di genggaman wanita berambut merah terang itu.
“Takkan kubiarkan kau memilikinya, wahai
penyihir.”
Abigail terus mengelak. Ia akan jatuh
nanti. Sayapnya tak bisa digunakan lagi.
Sebilah pedang di tangan kiri Abigal
terus mengobarkan api hitam. Melihat kesempatan, Abigail mengayunkan pedang ke
arah Kenzie.
“Agni ireng bakarlah dia hingga hangus!”
“Arghhh” Kenzie memekik.
Sabetan api hitam mengenai lengan kanan
Kenzie. Tangannya terlepas dari cengkraman Sara. Seketika itu ia terjun bebas.
Perhatian Abigail tersita pada Kenzie.
Tentu Sara tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia kibaskan sayapnya kuat-kuat.
Dan… oh, angin yang tercipta memiliki ketajaman setara pisau. Abigail terluka,
dan kristal terlepas darinya.
Hap!
Kenzie menangkap kristal itu.
Celaka! Kristal pelindungnya pecah
terkena api hitam. Tertinggal Edelweis Pusaka di genggaman Kenzie.
Bunga edelweis itu menyala terang.
Cahaya putih menyilaukan menyerang mata Kenzie.
“KEN!!!” Sara berteriak sebelum sempat
menolong Kenzie.
Lelaki itu terpejam. Tubuhnya terjun
bebas. Semakin dekat dengan bumi. Tanah di bawah siap meremukan tulangnya.
“Violeta Intraversia!”
Seberkas sinar keunguan menyelimuti
tubuh Kenzie. Seketika tubuh Ken melambat. Ia melayang laksana kapas yang
ringan. Kenzie mendarat mulus di tanah.
Sementara itu tubuh Abigail
berputar-putar di angkasa. Jurang kesepian menyapa garang di bawahnya. Siap
melumat tubuh yang jatuh ke dalamnya.
“Awas kau, Ratimaya! Aku akan kembali
membalas kematian Redvey! Dan akan kurebut Edelweis Pusaka darimu! Ingat itu!!”
lantang Abigail sarat emosi.
Seluruh makhluk hitam -ciptaan Abigail-
musnah, berbarengan dengan lenyapnya Abigail di dasar jurang.
Ket:
*Eburnean = warna putih gading dengan
semburat kuning


0 komentar:
Post a Comment