CINTA DALAM BAYANGAN

Posted By Cerpen universal on Thursday, September 3, 2020 | September 03, 2020

CINTA DALAM BAYANGAN

Cantik, baik, ramah dan pintar, mungkin itu yang terlintas di pikiran orang-orang sekitar ketika mendengar nama Putri. Ya, seorang gadis desa yang sangat dicintai dan dikagumi di desa maupun di sekolahnya. Gadis yang selalu membuat desa dan sekolahnya bangga akan prestasinya. Dia pernah menjuarai lomba olimpiade Fisika tingkat kabupaten maupun provinsi, dan juga pernah membawa desanya ke tingkat nasional dalam acara pentas seni daerah.

Berkat prestasinya yang gemilang itu, tidak heran jika banyak sekali pemuda-pemuda sekitar yang tertarik dengan Putri. Namun Putri selalu menolak mereka lantaran dia menyukai pemuda lain. Pemuda itu bernama Andra, Seorang anak petani yang kehidupannya biasa-biasa saja. Namun Andra tidak seperti pemuda-pemuda lain, orangnya sangat sopan, baik, jujur dan taat kepada orangtua maupun agama. Karena itulah Putri menaruh hati kepada Andra. Namun sayangnya, Andra dikabarkan telah mempunyai kekasih, sehingga Putri hanya bisa melihat Andra dari jauh dan mencintainya dalam sebuah bayangan.

Namun, tanpa sepengetahuan Putri, diam-diam Andra juga tertarik dengan Putri. Andra selalu memperhatikan Putri dan suka mencuri pandang ketika ada kesempatan. Sayangnya, Andra juga tidak berani mengenal Putri terlalu jauh. Dia sadar status sosial mereka jauh berbeda. Sehingga Andra berniat membuang perasaan itu jauh-jauh.

Suatu saat, Putri diutus oleh sekolah bersama seorang kakak kelasnya dalam lomba pidato tingkat kabupaten. Betapa terkejutnya Putri melihat siapa kakak kelas yang akan ikut bersamanya dalam lomba tersebut. Dia adalah Dhina, teman satu kelas sekaligus pacarnya Andra.

“Kamu juga diutus ya buat lomba” tanya Dhina yang yang membuyarkan lamunan Putri.

“Y, y, ya kak” jawab Putri sambil terbata-bata.

“Nama kamu siapa” tanya Dhina dengan ramah.

“Putri kak, kalau nama kakak siapa?”

“Nama kakak Dhina. oh ya nanti sore kita latihan di taman Sekolah, jadi jangan sampai tidak datang ya”

“Ya kak”

“Kalau begitu kakak pulang dulu ya”

“Ya kak, hati-hati”

Putri berbicara di dalam hatinya sambil melihat kepergian Dhina “Beruntung sekali kak Dhina mendapatkan kak Andra, dan beruntung juga kak Andra mendapatkan kak Dhina. Udah cantik, baik, ramah, sopan lagi. Hmm seandainya aku jadi kak Dhina”.

Sore itu mereka terihat serius sekali, mungkin mereka berdiskusi tentang tema pidato yang akan mereka tampilkan. Namun seberapa seriusnya seorang perempuan, jika bertemu sesamanya, maka gosip dan curahan hati tidak dapat dielakkan. Begitu juga dengan Putri dan Dhina.

“Gimana kak, udah ketemu jenis pidatonya?” tanya Putri pada Dhina.

“Udah dek”

“Hmm kakak udah punya pacar belum”

Dhina terkejut mendengar pertanyaan Putri tersebut.

“Kok nanya kayak gitu dek” jawab Dhina sambil menghentikan pekerjaannya.

“Nggak ada kak, Cuma pengen tahu aja” jawab Putri yang diam-diam menyembunyikan maksud lain dari pertanyaannya itu.

“Hmm, gak ada dek, mana ada orang suka sama kakak”

Putri terkejut mendengar jawaban dari Dhina, yang dia tahu selama ini Dhina berpacaran dengan Andra.

“Hah, tapi Putri sering lihat kalau kakak sering berduaan dengan teman kelas kakak itu” tanya Putri lagi kepada Dhina.

“Dari mana kamu tahu, kamu sering ngintipin kakak ya” jawab Dhina sambil tersenyum pada Putri

Putri hanya diam dan malu-malu kucing mendengar jawaban Dhina tersebut.

“Berduaan bukan berarti berpacaran loh dek, kakak hanya suka padanya. Namun dia menghiraukan kakak, kakak juga tidak tahu entah apa alasannya.” Lanjut Dhina.

Mendengar penjelasan dari kakak kelasnya itu, hati Putri merasa senang sekali. Ternyata selama ini dia telah salah paham terhadap Andra.

Setelah merasa puas dengan hasil latihan sore ini, mereka memutuskan untuk melanjutkan Besok sore. Dhina meminta tolong kepada Putri untuk merapikan naskah pidato yang sudah mereka cari serta meminta Putri untuk mengantarkan pada Dhina besok pagi ke kelasnya. Mendengar permintaan dari Dhina, Putri merasa senang sekali, itu artinya dia akan ke kelas Andra dan punya kesempatan untuk bertemu dengan Andra. Putri menyusun rencana agar dia dapat berkenalan dengan Andra besok pagi. Dia terus memikirkannya hingga larut malam datang.

Tak terasa kicauan burung telah bernyanyi di balik jendela Putri. Menandakan hari sudah pagi. Dia bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Dia tahu Andra selalu datang lebih pagi ke sekolah, makanya hari ini dia lebih cepat pergi dari hari-hari biasanya agar dia bisa bertemu dengan Andra sekaligus berkenalan dengan cara berpura-pura meminta tolong kepada Andra agar menyerahkan naskah pidato itu kepada Dhina.

Benar dugaan Putri, tidak sia-sia dia pergi lebih cepat ke sekolah hari ini, ternyata Andra telah datang, dia sedang duduk di depan kelasnya sambil membaca buku. Putri merasa gugup sekali, kakinya terasa berat untuk melangkah padahal jaraknya dengan Andra cukup dekat.

Perlahan namun pasti, Putri sudah berada di depan Andra. Merasa ada yang berdiri di depannya, Andra memalingkan wajahnya dari buku dan meihat siapa yang ada di depannya. Alangkah terkejutnya Andra ketika yang di depannya itu seorang yang ia cintai selama ini.

Sekarang kedua mata saling memandang, mata yang menyimpan sejuta rasa, menyembunyikan sebuah makna yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata. Keduanya merasa gugup sehingga tidak ada yang ingin membuka pembicaraaan. Tiba-tiba Putri dikejutkan oleh suara seorang wanita dari belakang.

“Putri, udah tiba ya di sekolah” sapa orang itu dari belakang.

Putri menoleh ke belakang meihat siapa yang memanggilnya itu, ternyata yang memanggilnya itu tidak lain adalah Dhina.

“Udah kak” jawab Putri dengan singkat.

“Oh ya kak, ini hasil latihan kita kemaren, sudah Putri rapiin” lanjut Putri.

“Terima kasih ya bi” jawab Dhina sambil tersenyum.

“Sama-sama kak, oh ya kak, Putri ke kelas dulu ya kak” jawab Putri yang langsung pergi ke kelasnya.

Raut wajah Putri tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Hampir saja rencananya untuk berkenalan dengan Andra berhasil, namun siapa sangka Dhina akan menggagalkan usaha Putri tersebut sehingga Putri harus memikirkan cara lagi agar bisa berkenalan dengan Andra.

Sorenya mereka kembali latihan, Putri yang dari pagi tadi memikirkan Andra sulit untuk berkonsentrasi pada latihan sore itu. Dia terus memikirkan bagaimana caranya agar bisa berkenalan dengan Andra. Hingga akhirnya dia menemukan satu cara lagi.

“Kak, boleh minjam ponselnya kak. Tadi Putri lupa ngasih tahu ke ibu kalau Putri akan latihan sore ini”

“Oh ya silakan, ini pnselnya” jawab Dhina yang mengasihkan pnselnya pada Putri.

“Bentar ya kak” jawab Putri yang langsung meninggalkan Dhina.

“Bagus” tutur hati Putri. Dengan cepat-cepat dia mencari nomor Andra. ”Aha, ketemu juga”. Dia segera menyalin nomor itu ke kertas kecil yang disembunyikannya ketika sedang latihan tadi. Setelah selesai menyalin nomor Andra, dia bergegas menuju ke tempat Dhina agar Dhina tidak curiga.

“Ini kak ponselnya. Terimakasih ya kak” kata Putri pada Dhina yang sedang serius.

“Ya dek, sama-sama” jawab Dhina.

Putri tidak sabar ingin menghubungi Andra, dia senyum-senyum sendiri sambil membayangkan apa yang akan ia bicarakan nantinya ketika akan menghubungi Andra.

Latihan telah selesai, mereka pulang kerumah masing-masing. Setibanya di rumah, Putri langsung menghubungi Andra, namun sayangnya nomor ponsel Andra tidak aktif. Mungkin baterai ponselnya habis ucap Putri dalam hatinya. Dia memutuskan untuk menghubungi Andra nanti malam. Namun lagi-lagi nomor Andra juga tidak aktif. Dia kembali kecewa, ternyata nomor yang dia salin nomor yang tidak aktif lagi. Namun Putri tidak berputus asa, dia terus mencari cara agar bisa berkenalan dengan Andra.

Keesokan sorenya, mereka kembali latihan. Sore ini sore terakhir mereka latihan, besok pagi mereka akan akan pergi mengikuti lomba tersebut.

“Tumben hari ini mendung kak” kata Putri sambil menatap langit.

“Iya mau hujan deh kayaknya” jawab Dhina yang ikut-ikutaan menatapl angit.

“Bi, kak mau cerita boleh nggak” sambung Dhina yang masih menatap langit.

“Mau cerita apa kak” jawab Putri yang tatapannya sudah berpaling ke wajah Dhina.

“Nah itu ceitanya datang” jawab Dhina yang tersenyum melihat ke belakang Putri.

“Maksud kakak” jawab Putri dengan penuh keheranan.

“Lihat ke belakang” jawab Dhina.

Putri pun melihat ke belakang, alangkah terkejutnya Putri siapa yang ada di belakangnya itu. Sesosok pemuda yang dicintainya sedang berjalan mendekati mereka. Namun Putri masih bingung apa maksud dari Dhina tadi.

“Hai” sapa Andra kepada mereka.

“Ayo sini duduk sayang” kata Dhina kepada Andra.

Mendengar perkataan Dhina itu membuat Putri mengerti apa maksud dari Dhina tadi. Dia kaget sekali, Jantungnya langsung bedebar-debar cepat, tubuhnya bergemetar hebat, badannya lemas seketika, air matanya tak dapat lagi ditahan, betapa pedihnya hati ini ketika meihat orang yang kita sukai telah dimiiliki orang lain. Sekarang dia hanya bisa menyembunyikakan air matanya di depan Andra dan Dhina.

“Putri kamu kenapa?” tanya Dhina yang khawatir melihat keaadaan Putri yang tiba-tiba berubah.

“Gak apa-apa kak, tiba-tiba kepala Putri sakit, sakit sekali kak”

“Tunggu di sini ya, kakak cariin obat buat kamu dulu” jawab Dhina yang langsung mencari obat buat Putri.

Melihat suasana seperti itu, Andra merasa canggung, tidak tahu harus berbuat apa. Namun jauh di dalam hatinya dia merasa kasihan melihat Putri yang sedang kesakitan. Dia masih menyimpan rasa kepada Putri namun dia sadar dirinya tidak pantas untuk Putri, makanya dia menerima cinta Dhina.

Putri yang sudah tak tahan lagi akan perihnya hati, pergi meninggalkan Andra, dia berlari dengan mata yang bercucuran air mata. Kenapa, kenapa ini terjadi kata Putri dalam hatinya. Sakit sekali rasanya, mengapa ini bisa terjadi lanjut Putri dalam hatinya. Mungkin sudah ini jalannya, aku memang tidak diciptakan dari tulang rusukmu. Aku harus melupakanmu, walaupun butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk melupakan dirimu. Semoga dirimu bahagia dengannya. Ungkap Putri yang mencba menghibur dirinya sendiri.

Semenjak kejadian itu Putri selalu menghindar dari Andra maupun Dhina, ketika meihat mereka, hati Putri selalu merasa sakit. Walaupun sampai saat ini dia masih belum bisa melupakan Andra. Dia masih mencintainya walaupun dalam bayangan.
Blog, Updated at: September 03, 2020

0 komentar:

Post a Comment