TAKDIR CINTA
“Putri kamu lagi ngapain di sini, kok di pinggir jalan sendirian?”, Tanya laki-laki berbadan tinggi itu. Wanita itu memandangi laki-laki tersebut sambil mengingat siapa laki-laki itu.
“Ehmmm kamu Erick kan, ngapain kamu di sini?” sahut putri dengan sinis.
“Aku baru pulang dari lampung dan aku kerja di sini” jawab laki-laki yang bernama Erick.
“Oh begitu, kenapa gak betah ya di sana atau cewek-cewek sana gak ada yang bisa diselingkuhi” sahut putri.
“Putri kamu masih marah sama aku, aku kan sudah minta maaf sama kamu” jawab Erick.
“Wanita mana yang tidak sakit hati!, disaat dia sayang dan cinta tiba-tiba kau selingkuh dan akhirnya kau tinggalkan begitu saja, tak pernah memberi kabar, kau menghilang membiarkan ku merasakan sedih ini dan sekarang saat aku sudah lupa kau muncul lagi di sini dan membuat aku mengingatnya kembali dan apa yang kau katakan MAAF! Buang semua maafmu aku tak sudi memaafkanmu” jawab Putri lalu pergi meninggalkan Erick.
Erick dan Putri pernah menjalin hubungan sejak SMA dan sampai akhirnya hubungan mereka kandas pada saat Erick pergi kuliah di Lampung dan akhirnya mereka memutuskan untuk LDR. Namun semua tak seindah seperti apa yang mereka bayangkan, suatu hari Putri yang datang ke lampung untuk bertemu dengan Erick malah melihat Erick berjalan dan bermesraan dengan wanita lain dan hal itu sungguh membuat hati Putri hancur.
Dan sekarang Erick mendapat pekerjaan di kampung halamannya. Erick kembali ke kampung halamannya dan ia pun sudah membuat rencana untuk meminta maaf dan berusaha menjelaskan semuanya kepada Putri.
Setelah kejadian di pinggir jalan itu Erick langsung bergegas ke rumahnya. Setelah sampai di rumah
“Assalamualaikum,” salam Erick pada seorang wanita tua yang sedang menjahit.
“Waalaikumsalam,” jawab wanita itu sambil menoleh ke arah Erick.
“Kamu kenapa kok wajahnya muram seperti itu?” tanya wanita itu.
“Tidak apa Bu, Ercik hanya lelah habis lari pagi” jawab Erick.
Ya wanita itu adalah ibu Erick, sejak SMP Erick hanya tinggal bersama oleh Ibunya, Ayahnya telah tiada karena kecelakaan yang menyebabkan nyawa Ayahnya hilang. Ibunya hanya seorang penjahit, walaupun hanya seorang penjahit, beliau sudah berhasil membuat Erick menjadi seperti yang sekarang.
Erick hanya terduduk di lantai kamarnya, dia masih memikirkan bagaimana caranya supaya Putri bisa mendengarkan penjelasannya dan memaafkannya. Memang harus diakui semua ini salah Erick, dia telah menyia-nyiakan wanita yang baik, dan membuat wanita tersebut sakit hati. Namun apa daya nasi sudah menjadi bubur, semua telah terjadi, sesal tiada artinya lagi.
Tak terasa sudah satu minggu Erick tinggal di Jogja. Masa liburan Erick sudah berakhir dan saatnya dia mempersiapkan diri untuk bekerja besok. Erick bekerja di suatu Perusahaan semen di Jogja. Dia diamanahkan sebagai kepala bagian keuangan perusahaan tersebut.
Keesokan harinya seperti biasa Erick bangun tepat azan shubuh berkumandang. Setelah solat shubuh dia lari pagi mengelilingi kampung dan Erick selalu bertemu dengan Putri namun hubungan keduanya tidak baik, Putri hanya membalas secukupnya saja apabila Erick bertanya sesuatu ataupun menyapanya. Setelah lari pagi Erick bergegas mandi dan siap-siap pergi bekerja.
Setelah sampai di kantornya Erick diperkenalkan oleh atasannya oleh semua karyawan di perusahaan tersebut.
“Hey Erick, apa kau masih ingat aku,” tiba-tiba seseorang laki-laki bertubuh besar menyapanya dan menghampirinya.
“Kau? Apa benar itu kau?” jawab Erick sambil memandanginya.
“Hahaha iya aku Dimas, apa kau masih ingat sahabat kecil, dekil yang dulu sering mencuri mangga Pak Udin bersama setelah pulang sekolah hahahaha” jawab Dimas.
“Iyaa kau, aku tidak pernah lupaaa, bagaimana kabar muuu, aku rindu sekali padamu” jawab Erick sambil langsng menjabat tangan dan memeluknya.
“Selamat ya pekerjaanmu, kamu luar biasa, akhirnya kau berhasil bekerja sesuai apa yang kau harapkan, bukan begitu rick?” sahut Dimas.
“Iya syukur alhamdulilah Mas, ini semua kalo bukan berkat masukanmu waktu itu ya gak mungkin lah bisa kayak gini, berkat kau juga lah aku jadi seperti ini,” jawab Erick.
“Itu lah gunanya sahabat, senang rasanya jika melihat sahabt itu sukses dan saling memotivasi, ya gak, aku bangga dan bersyukur memiliki sahabt sepertimu Rick,” ujar Dimas.
“Hahha aku jugaa, ngomong-ngomong kamu kerja di sini juga?” tanya Erick.
“Oh aku sama sepertimu, aku bekerja di sini sebagai kepala bagian produksi. Aku bekerja sebagai karyawan di bagian itu selama 3 tahun dan akhirnya diangkat sebagai kepala bagian” jawab Dimas.
“Luar biasa, kamu gak berubah Mas, kamu selalu tekun, tidak mudah mengeluh dan pantang menyerah dalam menjalankan sesuatu. Salut aku sama kamu gak salah aku milih sahabat sepertimu Mas,” jawab Erick.
“Ah kamu Rick bisa aja,” jawab Dimas.
Erick bersahabat dengan Dimas sejak mereka duduk di bangku SD. Mereka berpisah setelah lulus SMA karena Erick kuliah di Lampung sedangakan Dimas lebih memilih untuk berkerja. Sekarang Tuhan mempertemukan mereka kembali di perusahaan yang sama.
“Asalamualaikum Bu,” salam Erick
.“Walaikumsalam, kamu udah pulang nak” sahut Ibu Erick.
“Sudah bu, karena tidak lembur jadi tidak sampai malam, sore sudah pulang,” jawab Erick.
“Iyalah nak, masa baru hari pertama kerja sudah lembur hehehe,” ujar Ibu Erick.
“Iya ya bu heheh, eh bu apa ibu masih ingat sahabat kecilku Dimas?” tanya Erick.
“Dimas, ya kenal lah masa ibu lupa, iya ibu kemarin lupa memebritahu kalo dia bekerja di perusahaan yang sama kayak kamu,” jawab Ibu Erick.
“Yah ibu padahal aku mau meberi tahunya hehehe, ibu selalu bisa memnebak apa yang akan aku bicarakan,” jawab Erick.
“Heheheh,” tertawa Ibu Erick.
Allahuakbar, Allahuakbar… tak terasa adzan magrib telah berkumandang menandakan hari telah gelap. Seperti biasa Erick menjalani rutinitas malamnya, solat dan membaca alquran. Tepat pukul 20.00 Wib Erick selesai mengerjakan rutinitas malamnya. Seperti biasa dia sering duduk di teras rumah sambil minum teh hangat dan mendengarkan musik gamelan jawa.
“Rick,” tiba-tiba suara seorang wanita memanggil Erick.
Erick merasa ketakutan karena di sekitarnya tidak ada seorang pun. Erick pun langsung menengok ke belakang dengan rasa ketakutan nya, “Astaghfirolahhaladzim, Putri, kamu ngapain di sini, ngagetin aja loh kamu,” jawab Erick dengan nada ketakutan.
“Kamu kira aku hantu apa, dasar kamu ya udah aku pulang,” jawab dengan sinis.
“Eh eh bukan begitu loh, aku gak bermaksud seperti itu, sini duduk sini, cerita ada apa,” jawab Erick.
“Aku minta maaf dengan sikapku yang mungkin menyakitimu, kemarin aku hanya emosi sesaat,” ujar Putri.
“Haaaa!?” Erikc terkejut “Aku yang seharusnya minta maaf Put, aku yang salah telah menyakitimu namun kejadian yang kau lihat itu tidaklah seperti apa yang kau kira, dia adalah sahabatku dan dia sekarang pun sudah meninggal yu, percayalah padaku,” jawab Erick.
“Sudah tidak penting bagiku kejadian itu seoerti apa, sudah berlalu jadi untuk apa lah diingat kembali, kita saling memaafkan dan introspeksi diri saja, aku sudah tidak marah lagi denganmu, jadilah temanku,” ujar Putri.
“Iya baiklah aku akan selalu menjadi temanmu, terimakasih sudah mau memaafkan,” jawab Erick.
“Ya sudah aku ingin pulang, maaf mengganggu waktumu,” jawab Putri.
“Baiklah hati-hati Put,” ujar Erick.
Sungguh senang hati Erick mendengar kata-kata seperti itu langsung dari mulut Putri. Sejak itu hubungan mereka baik. Mereka seriing mengobrol, saling tegur sapa dan menjadi hubungan mereka seperti mereka baru kenal semua yang masalah yang terjadi seakan hilang sudah. Tak terasa waktu berlalu sudah 6 bulan. Tidak ada yang berubah dengan Erick. hubungannya dengan Putri semakin baik, pekerjaannya lancar dan mendapat patner kerja yang menyenangkan. Erick masih jatuh cinta dengan Putri namun permsalahaannya apakah Putri mau menerimanya kembali dan apakah hal ini akan membuat hubungannya hancur. Semakin ia memikirkan itu, semakin membuatnya berpikir. Dia ingin bercerita dengan Ibunya dan Ibunya pun menyuruhnya untuk solat supaya diberikan yang terbaik oleh sang kuasa. Akhirnya dia memutuskan untuk menyatakan perasaannya dengan Putri.
Kesokan harinya sepulang kerja, Erick membeli serangkaian bunga. Niatnya malam ini dia akan nyatakan perasaannya. Setelah ia membeli bunga itu dia bergegas pulang. Setelah pulang, solat dan menjalankan rutinitas malamnya, Erick bergegas pergi kerumah Putri.
“Mau ke mana nak, malam-malam rapih wangi begini,” tanya Ibu Erick.
“Mau ke rumah Putri Bu,” jawab Erick.
“Oh iya kamu mendapat undangan dari Dimas, malam ini,” ujar Ibu Erick.
“Oh begitu iya udah nanti Erick mampir, Erick buru-buru, assalamualaikum,” Ujar Erick sambil mencium tangan Ibunya dan pergi.
20 menit kemudian sesampainya di rumah Putri. Erick bingung terlihat ramai sekali di rumah Putri. Sejenak berhenti langkah Erick di parkiran motor.
“Hey Rick, kenapa datengnya telat,” ujar tiba-tiba Dimas sambil menghampirinya.
“Ehhh Mas kok rame sekali ya ada apa?” tanya Erick.
“Loh tadi kan saya sudah titipin undangan ke ibu Rick,” jawab Dimas.
“Oh undangan itu aku tidak membaca apa isinya,” ujar Erick.
“Hari ini aku serah-serahan Rick dan 2 minggu lagi aku menikah dengan Putri Rick,” kata Dimas.
“Ohhh begitu yaa selamat yaa Dimas, kamu memang cocok dengannya,” kata Erick.
“Dateng loh kamu temanin aku saat ijab,” minta Dimas.
“Oh iya pasti itu, kalo gitu aku pulang dulu ya, sekali lagi selamat Mas,” jawab Erick lalu pergi.
“Mas Erick,” panggil Putri dan menghampiri Erick.
“Ada apa Put?” jawab Erick.
“Aku mohon masa lalu kita hanya kita yang tahu, jangan sampai Mas Dimas tau, aku tidak mau hubunganmu dan dia canggung,” ujar Putri.
“Ehm baiklah, selamat ya, jadilah ibu yang baik dan menjadi panutan anak-anakmu nantinya dan menjadi istri yang solehah terhadap suamimu, sekali lagi selamat,” kata Erick dan bergegas pergi.
Sungguh kecewa rasanya hati Erick, Putri telah bersama orang lain, sedih, menyesal dan kecewa sudah tak bisa lagi digambarkan. Namun semua itu harus ditutupi karena Erick tak mau membuat hati sahabatnya itu hancur dan hubungan dengannya menjadi canggung. Setidaknya sampai mereka menikah nanti Erick harus menyembunyikan rasa kecewanya tersebut.
Dua minggu kemudian tepatnya di hari pernikahan Dimas dan Putri. Sesuai janjinya Erick menemani Dimas sampai selesai acara presepsi. Kesal di hati, kecewa, dan marah semua ada di hati Erick namun mau tidak mau dia harus menyembunyikannya dibalik senyum palsu dan pastinya dia harus merelakan semuanya. Hal tersebut sangat mempengaruhi pikiran Erick, bagaimana dia hidup dengan melihat seseorang yang dia cintai tapi hidup bersama orang lain, bermesraan dengan orang lain walaupun itu sahabatnya sekali pun pasti ada rasa cemburu dalam dirinya.
Ibu Erick melihat dan merasakan akan apa yang sedang dirasakan anaknya. Selama ini Ibu Erick seakan tidak pernah tahu tentang masalah yang dialami oleh anaknya dengan Putri. Padahal semua masalah tersebut juga diketahui oleh Ibunya.
“Kamu kenapa nak,” tanya Ibu Erick.
“Eh Ibu, ah tidak apa bu, hanya capek saja,” jawab Erick.
“Ibu tau nak apa yang kamu rasakan, selama ini walaupun kamu tidak perah bercerita dengan ibu soal bagaimana hubunganmu dengan Putri dan sekarang ibu tau apa yang sedang kau rasakan,” kata Ibu Erick danmenghampiri Erick yang sedang duduk termenung sendirian di teras.
“Ibu,” jawab Erick.
“Kekecewaan ini, kekesalan ini tidak seharusnya menjadi momok untukmu melanjutkan hidup nak, masih banyak cita-cita yang masih harus kau kejar dan kau impikan pastinya. Jangan sampai semua itu akan hancur hanya karena cobaan ini. ini semua takdir nak, kau pernah bersamanya namun akhirnya kalian dipisahkan tapi mungkin Tuhan punya rencana indah yang lain,” kata Ibu Erick.
Erick hanya bisa berlutut di depan Ibunya sambil menangis.
“Ini semua bukan hal yang harus disesali, relakan nak, jika kau cinta dengannya kau harus merelakan dan doakan untuk kebaikannya, dia juga menikah dengan sahabatmu Dimas kan, kau harusnya bahagia melihatnya bahagia bukan malah seperti ini,” kata Ibu Erick.
“Ini bukanlah akhir dari segalanya, berdoa mohon agar kau diberikan yang terbaik, relakan dan ikhlaskan, semua akan indah pada waktunya,” tambah Ibu Erick.
Erick hanya bisa menangis di pangkuan Ibunya, dia mengikuti perintah dari ibunya.
Seminggu kemudia di kantor dia kembali bertemu Dimas.
“Hayo pengantin baru sudah masuk kerja yaa, sudah selesai honey moonnya ya heheh,” ujar Erick.
“Ahahahaha kamu bisa ajaa yaa Rick,” Jawab Dimas.
Erick harus bisa merelakan walaupun itu semua membutuhkan waktu. Dia sudah mulai merelakan secara perlahan dan sadar ini bukan lah hal yang harus disesali dan bukan karena hal ini semua mimpinya akan hancur. Doakan, relakan dan ikhlaskan, semua akan indah pada waktunya.


0 komentar:
Post a Comment