LUBANG HATI

Posted By Cerpen universal on Wednesday, August 26, 2020 | August 26, 2020

LUBANG HATI

Tuhan memberikan kita rasa agar kita dapat merasakan semua rasa yang ada. Baik itu rasa suka, duka, sedih, kecewa, sakit hati, bahagia, bangga, frustasi dan sebagainya. Semua rasa itu akan menjadi paduan rasa yang indah dalam menjalani kehidupan ini. Apapun semua rasa yang terjadi, hendaknya kita mensyukuri karena rasa itu akan mengajarkan kita banyak hal.

Aku tatap layar ponsel handphoneku yang sedari tadi berdering. Tertera di layar monitor “my mother”. Ya, sedari tadi ternyata ibuku menelepon. Tetapi aku sama sekali tak berkutik. Bagaikan mayat hidup aku hanya menatap layar ponsel tanpa berkedip. Telah menjadi rutinitas bagi ibuku untuk menelepon setiap hari. Tapi kali ini, aku tak bertenaga untuk menjawab telepon ibuku. Karena pasti berakhir dengan perseteruan antara aku dan ibuku.

Setelah ponselku tidak lagi berdering, aku menghela napas lega. Setidaknya rentetan pertanyaan ibu yang selalu menghujam ulu hatiku tidak kudengar untuk kali ini. Aku beranjak mendekati cermin yang berada di sudut ruangan kantorku. Aku tatap cermin lekat-lekat. Ya, mulai terlihat kerutan di sekitar mata indahku.

Aku wanita berusia 32 tahun, Diandra Larasati, aku bekerja di sebuah perusahaan asing kalimantan. Karirku bisa dibilang lumayan bagus, aku dikelilingi oleh keluarga yang sangat menyayangiku. Di usiaku yang sudah kepala tiga ini aku bersyukur kepada Tuhan, yang telah memberi kehidupan yang bahagia ini. Tetapi akhir-akhir ini keluargaku lebih agresif untuk memintaku segera berumah tangga. Maklum lah, tinggal aku anak yang belum menikah. Sedangkan adikku sudah menikah dan punya anak.

Kubuka laci meja kerjaku, tampak di sana sebuah kotak merah berbentuk hati. Aku kumpulkan segenap keberanianku. Tanganku bergetar, mataku mulai berlinangan air mata. Tanpa bisa dikompromi ingatanku kembali ke 5 tahun yang lalu.

5 tahun yang lalu, aku dilamar oleh kekasihku. Aji Diningrat. Saat itu aku merasa menjadi wanita terbahagia di dunia ini, karena impianku untuk bisa membina rumah tangga dan menjadi istri serta ibu buat anak-anaknya akan terwujud. Ya, 4 bulan lagi aku akan dinikahi oleh Aji.

Ketika kami sedang asyik menikmati secangkir kopi di cafe langganan kami, hendpone aji terus berdering. Aku melirik ke arah handphone, tertera nomor baru. “kok gak diangkat sih yank, kali aja penting”. Ujarku ketika melihat aji gelisah.

“udah gak papa, pasti orang iseng. Lagian mas juga gak kenal nomornya”. Sambil mematikan hp. “habis ini kita pergi nonton ya sayang, ada film bagus hari ini”.

Aji sosok yang romantis dan penuh perhatian, dia bukan hanya sebagai pacar, tapi dia adalah ayah juga sahabat buat aku. Aku begitu mencintainya.

Hari ini kami foto praweding, ya kami memilih pantai. Karena kami suka pantai. Dimana biar langit biru serta deburan ombak di pantai yang akan menjadi saksi cinta kami berdua. Aji menggenggam tanganku erat menyusuri pantai, tampak keceriaan di antara kami. Ombak yang berdebur serta burung camar yang terbang kesana kemari menambah keakraban. Setelah selesai foto, handphone aji kembali berdering.

Aji menjauh sembari mengangkat teleponnya, dari kejauhan aku melihat Aji tampak sedang berseteru dengan seseorang di seberang telepon. Setelah itu Aji datang dengan muka kusut.

“Ada apa yank, siapa yang menelepon, kok kamu jadi gelisah gini,” tanyaku sambil menggenggam tangannya. “Gak papa, tadi biasa orang gak penting,” jawabnya sembari tersenyum. Aku merasa ada yang aneh, tapi apa.

Pernikahan kami tinggal 3 minggu lagi. Persiapan sudah 80 %. Dari mulai catering, gedung, kartu undangan, kami juga udah fitting baju. Aku sangat deg-degan menunggu hari H.

Sebelum ambil cuti, aku disibukkan dengan laporan yang menumpuk. Maklumlah banyak laporan yang harus diselesaikannya. Aku dijejeli dengan angka-angka di layar komputerku. Sedari tadi handphone aku berdering, tetapi aku tidak punya waktu untuk mengangkatnya.

Setelah sekian lama, laporannya baru selesai. Aku mengambil handphone dan melihat sms yang masuk, dunia terasa gelap, aku lemas seketika membaca sms itu. Aku terduduk bersimpuh sambil menangis histeris.

Aku tidak menyangka Aji tega berbuat seperti itu. Dia telah menghamili Rehana, mantan pacarnya yang kini minta pertanggungjawaban. Dengan sekuat tenaga aku menghubungi aji, tetapi aji sama sekali tidak membantahnya.

Setelah kejadian itu, seminggu aku mengurung diri di kamar. Aku benar-benar kecewa, marah, malu, sakit hati. Semuanya bercampur jadi satu. Dengan rasa sakit yang bersemayam di hati dan untuk menenangkan hati, aku menerima tawaran atasanku dipindahkan ke kalimantan.

Di sini aku mencoba untuk hidup normal, tapi sayangnya hati ini masih membeku. Dan itulah alasannya mengapa sampai sekarang aku masih sendiri menyepi dengan kesendirian. Karena lubang hati ini terlalu dalam dan penuh dengan jazirah luka.
Blog, Updated at: August 26, 2020

0 komentar:

Post a Comment