EKSPERIMEN

Posted By Cerpen universal on Saturday, August 1, 2020 | August 01, 2020

EKSPERIMEN

Namaku Diki dan rumahku terletak di pinggiran kota yang sangat jarang terliput oleh media. Aku baru berumur 20 tahun dan sudah menjadi dokter bedah di salah satu rumah sakit besar di Surabaya. Sepulang bekerja pukul 18.00 sore, aku selalu mengajak pacarku yang bernama cindy untuk melakukan penelitian kita bersama. Yaah, kami memang sepasang kekasih yang suka melakukan eksperimen gila. Dan aku sudah tidak sabar untuk melakukan eksperimen kami itu..

Kupacu mobilku dengan kencang menuju rumahku yang jaraknya cukup jauh dari tempat kerjaku. Setelah sampai di rumah, aku pun melihat jam dan sudah pukul 18.45. lalu aku memberikan pesan singkat kepada cindy untuk membawa bahan eksperimen kami ke rumahku.

Beberapa lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu rumahku.

“Iya, tunggu sebentar”

“Siapa di luar?”

“Ini aku cindy”

“Sebutkan kata sandimu?”

“Ninkinipret ninkinipret, mukamu kampret, orang yang tidak peduli pada pacarnya disebut sampah”

“Ternyata benar memang kau Cindy”

Lalu aku pun membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.

“Aku sudah membawa bahan eksperimen kita dan kali ini aku membawa seorang anak kecil laki-laki”

“Dimana anak itu?”

“Ada di dalam mobilku”

“Cepat bawa dia masuk sebelum ada yang melihat kita!!”

Cindy pun membawa anak kecil itu ke ruang bawah tanahku, aku mulai menyalakan lampu dan menyiapkan bahan-bahan untuk eksperimen kami.

Aku pun mulai bertanya pada anak kecil.

“Siapa nama mu Nak?”

“Nama saya Bayu Farhan, Om” jawabnya dengan sedikit takut. 

“Berapa umurmu?”

“9 tahun Om”

“Hmmm”

“Kita mau ngapain Om?

Aku pun mengabaikan pertanyaannya dan mengambil pisau kesayanganku yang tadi sudah kuasah hingga tajam.

Dan aku mulai menusukan pisau itu ke perut anak itu, menusuknya pelan-pelan dengan niat untuk memberikan rasa sakit yang sangat perih.

Ia pun menjerit, namun dengan sigap cindy membekap mulutnya agar ia tak bisa berteriak.

Anak itu mulai sekarat karena kehabisam darah, Cindy pun mengambil ember untuk menampung darah yang keluar dari tubuh anak tersebut. Lalu aku dan cindy mengambil segelas darah anak itu untuk kita minum bersama.

“Darah anak ini sungguh menyegarkan”

“Iya dik, aku pun juga merasa puas dan segera ingin menghabiskan semuanya”

“Dan besok aku akan membawakamu anak kecil lagi agar kita bisa melakukan eksperimen kita lagi”

“Bagus cin, aku sayang padamu”

“Aku juga sayang padamu”

Sudah hampir dua tahun kita melakukan eksperimen terus menerus. Hingga suatu saat kami merasakan ketidaknyamanan karena banyak arwah-arwah anak kecil yang terus menghantui kami untuk menuntut balas atas kekejian kami.

END
Blog, Updated at: August 01, 2020

0 komentar:

Post a Comment