AKU BUKAN LAYANG-LAYANG
“Kenapa Nisa? Bukannya beberapa hari lalu kamu sudah berjanji untuk terus bersamaku, bahkan hingga kita menikah nanti?”
“Maaf, aku minta maaf!”
Nisa pun pergi meninggalkan aku sendirian duduk di kursi cafe itu. Aku hanya bisa terdiam sambil perlahan menghabiskan air minum yang ada di meja itu dan dengan perasaan yang sudah biasa.
Nisa sudah kesekian kalinya melakukan hal ini. Mengakhiri hubungan denganku meski ujung-ujungnya ia akan kembali lagi bersamaku. Sudah hal yang biasa bagiku, dan entah kenapa aku selalu mau kembali bersamanya.
Sore hari itu aku ke luar rumah dengan sepedaku untuk menenangkan diri melupakan semua permasalahan yang ada. Sambil mengayuh sepeda dengan perlahan, aku menuju ke sebuah tempat dimana terlihat banyak anak-anak sedang bermain. Di sebuah lapangan yang terbentang luas itu aku berhenti. Kulihat banyak anak-anak kecil yang bermain.
Tapi, entah kenapa aku hanya terfokus kepada anak-anak kecil yang sedang berlarian itu. Menyenangkan sepertinya. Melihat anak-anak kecil itu berlarian dengan penuh gembira di tengah lapangan luas. Sambil membawa helaian benang yang digulung di kaleng bekas yang diikatkan di sebuah benda dengan potongan bambu yang menyatu dengan kertas plastik berwarna pelangi yang berbentuk segitiga yang tidak sama antara bagian atas dan bawahnya. Anak-anak itu berlari-lari melawan hembusan angin yang saat itu dapat kurasakan terasa sangat sejuk.
Anak-anak itu terus berlari, dan benang pun terus diulur. Tanpa terlihat di wajah mereka rasa lelah. Mereka terus saja berlari-lari. Hingga akhirnya, benda itu pun terbang. Benda yang sama yang lainnya pun ikut menyusul. Ya, ada dua, maksudya tiga. Tidak, tapi ada banyak. Benda itu pun terbang bersamaan di udara layaknya burung yang mempunyai sayap. Ia terbang mengikuti hembusan angin kemanapun. Ia membuat langit sore hari itu menjadi indah, ada biru, merah, hijau dan banyak warna lain.
Terlihat cantik saat benda-benda itu terbang menghiasi langit. Semakin benang diulur semakin jauh dan semakin tinggilah ia terbang. Terlihat raut wajah penuh kegembiraan pada anak-anak kecil itu. Aku pun hanya duduk tersenyum di sebuah kursi yang tersedia di pinggir lapangan itu sambil menikmati langit yang menjadi cantik sore hari itu.
Tapi, entah kenapa aku hanya terfokus kepada anak-anak kecil yang sedang berlarian itu. Menyenangkan sepertinya. Melihat anak-anak kecil itu berlarian dengan penuh gembira di tengah lapangan luas. Sambil membawa helaian benang yang digulung di kaleng bekas yang diikatkan di sebuah benda dengan potongan bambu yang menyatu dengan kertas plastik berwarna pelangi yang berbentuk segitiga yang tidak sama antara bagian atas dan bawahnya. Anak-anak itu berlari-lari melawan hembusan angin yang saat itu dapat kurasakan terasa sangat sejuk.
Anak-anak itu terus berlari, dan benang pun terus diulur. Tanpa terlihat di wajah mereka rasa lelah. Mereka terus saja berlari-lari. Hingga akhirnya, benda itu pun terbang. Benda yang sama yang lainnya pun ikut menyusul. Ya, ada dua, maksudya tiga. Tidak, tapi ada banyak. Benda itu pun terbang bersamaan di udara layaknya burung yang mempunyai sayap. Ia terbang mengikuti hembusan angin kemanapun. Ia membuat langit sore hari itu menjadi indah, ada biru, merah, hijau dan banyak warna lain.
Terlihat cantik saat benda-benda itu terbang menghiasi langit. Semakin benang diulur semakin jauh dan semakin tinggilah ia terbang. Terlihat raut wajah penuh kegembiraan pada anak-anak kecil itu. Aku pun hanya duduk tersenyum di sebuah kursi yang tersedia di pinggir lapangan itu sambil menikmati langit yang menjadi cantik sore hari itu.
Aku suka dengan benda itu. Layang-layang, itulah gelar untuk benda tanpa sayap yang bisa terbang layaknya ada sihir di benda itu.
Terus saja aku menikmati pemandangan langit sore itu. Ya, sangat indah bagiku. Aku bisa merasakan kegembiraan seperti halnya yang dirasakan anak-anak kecil itu.
Benang terus diulur, dan layang-layang itu semakin tinggi bagaikan ingin menyentuh atap bumi. Entah kenapa rasa takut muncul pada diriku. Bagaimana seandainya layang-layang itu putus? Apakah masih bisa diselamatkan? Tentunya layang-layang itu tak akan bisa lagi kembali. Pasti anak kecil itu akan bersedih. Aku tahu itu.
Kulihat seorang anak kecil dari tadi selalu menarik kemudian mengulur, dan kemudian menarik dan mengulur lagi hingga seterusnya akan layang-layangnya. Apakah dia tidak takut layang-layangnya putus? Dan dia bersedih. Entahlah?
Petaka pun terjadi. Layang-layang anak kecil itu pun putus. Terlihat wajahnya begitu sedih. Dia berusaha berlari mengejar layang-layangnya itu. Dalam hatiku berkata “TAK MUNGKIN”.
Sekarang pemandangan di langit itu berkuranglah satu. Tapi tenang, masih ada layang-layang yang lain, langit masih tetap cantik.
Kulihat lagi seorang anak kecil bertubuh paling gendut di antara semua anak kecil di situ yang mencoba melilitkan benang layangannya ke benang layangan anak lain. “Apa yang dilakukan anak itu?”. Dan ternyata, anak itu mencoba memutuskan layang-layang anak kecil yang satunya. Dan berhasil, tamatlah kisah sang layang anak itu. Layangan itu putus. Anak itu berlari mengejar layangannya yang telah putus. “Jahat sekali kamu anak gendut”. Dan lagi, anak gendut itu kembali berulah. Ia kembali melilitkan benang layangannya ke benang layangan anak kecil lain. Dan layangan yang lain pun kembali putus. Dua, tiga, empat.
Terus saja anak gendut itu begitu. Hingga akhirnya hanya tersisa dua layang-layang di langit. Pemandangan di langit sudah tidak indah lagi, bahkan suasana berubah seperti sebuah pertempuran pesawat tempur. Dan kembali anak gendut itu melakukan hal yang sama. Kini dia mencoba memutuskan layangan terakhir. Dan kini dia kembali berhasil. Tapi…, sekarang justru layangan miliknya pun juga ikut putus.
Sekarang lenyaplah sudah tanpa ada satu pun yang menghiasi langit sore itu. Anak-anak kecil itu pun berlari mengejar layang-layang mereka yang telah putus. “Tak akan mungkin mereka mendapatkan kembali layang-layang mereka. Seandainya dapat pun, itu pun paling didapatkan oleh orang lain, atau layang-layang itu akan tersesat jatuh di hutan atau tenggelam jatuh di laut.” Dalam hatiku begumam.
Terus saja anak gendut itu begitu. Hingga akhirnya hanya tersisa dua layang-layang di langit. Pemandangan di langit sudah tidak indah lagi, bahkan suasana berubah seperti sebuah pertempuran pesawat tempur. Dan kembali anak gendut itu melakukan hal yang sama. Kini dia mencoba memutuskan layangan terakhir. Dan kini dia kembali berhasil. Tapi…, sekarang justru layangan miliknya pun juga ikut putus.
Sekarang lenyaplah sudah tanpa ada satu pun yang menghiasi langit sore itu. Anak-anak kecil itu pun berlari mengejar layang-layang mereka yang telah putus. “Tak akan mungkin mereka mendapatkan kembali layang-layang mereka. Seandainya dapat pun, itu pun paling didapatkan oleh orang lain, atau layang-layang itu akan tersesat jatuh di hutan atau tenggelam jatuh di laut.” Dalam hatiku begumam.
Karena pemandangan yang tadinya kulihat sudah sirna dan malam tak lama lagi akan datang. Aku pun beranjak pergi dan pulang dengan sepedaku.
Malam harinya, aku kembali teringat dengan indahnya layang-layang yang menghiasi sore hari tadi. Dan juga betapa dahsyatnya pertempuran layang-layang sore tadi. Wow menyenangkan sekali.
Entah kenapa aku tersadarakan oleh suatu hal. Apakah hal itu?
Layang-layang, tarik-ulur, memutuskan. Ya, aku sadar satu hal. Semua itu ada hubungannya dengan kehidupan percintaanku selama ini. Aku teringat dengan Nisa. Aku menyadari suatu hal bahwa selama ini aku hanya dijadikan mainan oleh Nisa. Tepatnya dijadikan layaknya sebuah layang-layang.
Nisa mempermainkan perasaanku. Dia menarik ulur cintaku seperti halnya dia sedang bermain layang-layang di langit. Dia tak pernah tahu bagaimana sakitnya hatiku. Dia tak pernah tahu bagaimana sedihnya saat layang-layang itu putus. Yang dirinya tahu adalah asalkan dia merasa bahagia tanpa dia peduli dengan diriku.
Nisa mempermainkan perasaanku. Dia menarik ulur cintaku seperti halnya dia sedang bermain layang-layang di langit. Dia tak pernah tahu bagaimana sakitnya hatiku. Dia tak pernah tahu bagaimana sedihnya saat layang-layang itu putus. Yang dirinya tahu adalah asalkan dia merasa bahagia tanpa dia peduli dengan diriku.
Aku baru menyadari akan hal yang menyakitkan ini saat aku melihat indahnya layang-layang di langit sore itu yang membuatku memahami sebuah pelajaran berharga dari mainan anak-anak kecil itu. Selama ini mungkin aku masih bisa bersabar disaat kamu Nisa menarik ulur perasaanku. Meski sejujurnya hatiku sakit. Tapi adakalanya perasaanku itu merasakan letih seperti halnya dengan layang-layang yang adakalanya ia terputus. Saat layang-layang itu terputus, tak akan lagi kamu bisa berharap ia kembali. Seperti itu pula aku Nisa, saat aku sudah benar-benar letih tak akan lagi aku mau kembali bersamamu.
Saat layang-layang itu terputus, dan ditemukan oleh orang lain, tak bisa lagi kamu mengatakan itu punyaku. Seperti itu pula dengan diriku Nisa, saat aku sudah benar-benar pergi dari hidupmu dan telah bersama dengan perempuan lain, tak bisa lagi kamu mengatakan dia adalah KEKASIHKU.
Saat layang-layang sudah terputus, tak akan ada lagi yang menghiasi langit sore hari. Seperti itu pula saat diriku sudah benar-benar pergi dari kamu Nisa, tak akan ada lagi canda tawa dan kercerian yang akan ikut mewarnai cinta antara aku dan kamu Nisaku sayang.
Jadi kamu paham Nisa, aku bukan layang-layangmu.


0 komentar:
Post a Comment