WHO IS DEATHNYA
Namanya Deathya Girla. Orang-orang biasa memanggilnya Deathya. Gadis pendiam yang menurutku selalu sedih. Setiap jam istirahat Deathya menangis di bangkunya, tidak ada yang tahu akan hal itu. Aku tahu karena aku selalu memperhatikannya. Entah mengapa hatiku menaruh perasaan curiga pada Deathya. Aku sudah berusaha untuk membuangnya, tetapi aku tidak bisa. Entah mengapa. Oh ya, semenjak datangnya Deathya ke sekolahku, masalah besar terjadi. Setiap harinya pasti ada seorang murid yang tewas dan jenazahnya ditemukan di tempat yang tersembunyi yang jarang bisa ditebak. Tapi ku coba buang pikiran jelek tentang Deathya. Sekarang aku hanya ingin tahu siapa itu Deathya. Yang jelas rasa penasaranku membuatku ingin menyelidiki siapa itu Deathya.
“Blender, kamu kenapa sih? Bengong terus dari tadi!” ya, seperti itulah sahabatku Venecia memanggilku. Namaku sebenarnya Agatha Brenda Viona atau singkatnya Brenda. Venecia memanggilku Blender karena Brenda mirip dengan kata Blender dan aku? Aku memanggil Venecia dengan panggilan china sipit, karena dia orang china yang matanya sipit sekali. Oke, lanjut kecerita. “Itu, aku curiga sama Deathya. Kok setiap istirahat Deathya nangis?” tanyaku dengan raut wajah serius, karena aku memang sedang serius. Venecia pun memandang Deathya lalu kembali memandangku, dia memasang wajah bertanya-tanya.
“Nggak kok. Baru kali ini kan dia nangis.” Jawab Venecia. Aku pun menghela napas panjang lalu membuangnya.
“Aku selalu memperhatikannya. Setiap istirahat dia pergi ke luar terus habis itu baliknya sambil nangis.” Ucapku memberitau Venecia. Venecia pun manggut-manggut.
“Eh.. kita selidikin Deathya yuk china sipit.” Ajakku dengan wajah semringah. Venecia pun melongo bingung ke arahku. “Kamu serius?” tanya Venecia memastikan. Aku pun hanya mengangguk dan Venecia setuju.
Kami pun menyelidiki Deathya. Kami mencari tahu tentang Ayah dan Ibunya, tempat tinggalnya, kebiasaannya, pokoknya semua tentang Deathya. Tapi, nihil. Kami tidak menemukan apa pun. Awalnya kami hanya main-main saja, tapi lama-kelamaan jadi serius. Sampai akhirnya Venecia memberiku ide untuk mengikuti Deathya pulang ke rumahnya. Awalnya aku agak takut, namun rasa penasaranku semakin lama, semakin bertambah. Ditambah kematian yang setiap hari terus terjadi di sekolahku.
“Ayo Blender. Jangan sampai ketahuan ya.” Beritau Venecia padaku. Aku hanya mengangguk serius sambil terus mengikuti Deathya. Tapi anehnya dari tadi kami belum sampai juga ke rumah Deathya. Untuk menuju rumah Deathya kami sampai harus melewati jembatan dan menembus hutan. Kami harus mengendap-endap dan bersembunyi di belakang pohon. Sampai akhirnya kami melihat Deathya menembus salah satu pohon rindang dan besar. Aku dan Venecia sungguh kaget melihatnya. Tanpa pikir panjang lagi aku dan Venecia langsung berlari ke arah pohon besar yang tadi ditembus oleh Deathya. Tapi saat kami sampai di sana, kami tidak menemukan apa pun. Deathya tiba-tiba menghilang. Kami pun mencoba berlari lebih jauh, tapi tetap saja kami tidak menemukan apa-apa. Sampai akhirnya aku dan Venecia memutuskan untuk kembali ke rumah saja. Saat kami sampai di tempat Deathya menghilang tadi tiba-tiba kami dihalangi oleh seseorang yang tak lain adalah Deathya. Dia tersenyum licik ke arahku dan Venecia.
“Deathya?” kataku kaget. Deathya hanya tersenyum licik.
“Ada apa kalian mengikutiku? Kalian ingin tahu tentangku? Aku gadis yang penuh misteri. Kalian tidak akan pernah berhasil menyelidikiku bila kalian menggunakan cara kampungan seperti ini. Hahaha..” Katanya sambil tertawa seperti kuntilanak.
“Siapa kamu sebenernya? Dan kenapa setiap istirahat kamu selalu nangis?” tanya Venecia ketakutan. Deathya pun kembali tertawa seperti kuntilanak.
“Hahaha.. Temukan siapa aku!” tiba-tiba Deathya menghilang. Aku dan Venecia jadi merinding dan memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
Di rumah aku merenung sendiri di kamarku. Aku masih memikirkan siapa itu Deathya. Mengapa dia begitu misterius? Tidak ada yang menyadari akan misteriusnnya Deathya, kecuali aku dan Venecia. Aku pun menulis nama lengkap Deathya di buku diaryku lalu aku tanpa sadar mencoret nama Deathya. Saat aku melihat nama lengkap Deathya yang sudah ku coret sebagian aku kaget. Apa ini salah satu petunjuk? Bila kata YA dari Deathya dicoret, kata Deathya berubah menjadi kata DEATH yang artinya mati dan bila huruf A dicoret dari Girla, maka kata Girla berubah menjadi kata Girl yang artinya gadis atau perempuan. Bila digabung menjadi Death Girl yang artinya gadis mati atau logisnya gadis yang sudah mati. Aku harus memberitahu ini pada Venecia besok.
Besoknya aku langsung memberitahu Venecia tentang apa yang ku temukan dari nama Deathya. Venecia pun langsung sadar akan hal itu lalu kami memutuskan untuk kembali menemui Deathya di tempat kemarin Deathya menghilang. Tapi, hari ini Deathya tidak masuk dan anehnya saat Deathya tidak masuk, tidak ada satu pun murid yang tewas. Ini sungguh aneh. Saat pulang sekolah aku dan Venecia langsung pergi ke tempat di mana Deathya menghilang kemarin. Saat kami sampai di sana Deathya langsung muncul.
“Kalian sudah memecahkannya ya?” tanyanya, kami pun saling memandang dan akhirnya aku angkat bicara.
“Namamu. Aku menemukannya. Death Girl, gadis mati atau logisnya gadis yang sudah mati,” ucapku, Deathya pun tertawa sekeras-sekerasnya.
“Ya. Kalian pintar juga ya,” pujinya sambil bertepuk tangan.
“Apa maksud dari namamu itu?” tanya Venecia kemudian.
“Karena memang aku sudah mati! Aku dibunuh oleh salah seorang gurumu! Dia membunuhku dengan kejam dan setelah itu membuangku di sini! Jenazahku menjadi makanan binatang di sini! Aku ingin balas dendam dan ternyata ku temukan kabar bahwa guru itu telah meninggal. Akhirnya aku membalaskan dendamku pada murid-murid di sekolah. Tapi, setiap kali aku membunuh untuk membalaskan dendamku, aku kembali mengingat saat guru itu membunuhku. Aku kesakitan seperti apa yang dirasakan korbanku. Aku kembali menangis,” jawabnya.
Aku dan Venecia terkesiap mendengarnya. Jadi, Deathya itu adalah roh gentayangan yang punya dendam? Tapi, kenapa tidak satu pun guru yang mengenal Deathya?
“Tapi, mengapa tidak satu pun guru yang mengenalmu?” tanyaku sambil terus memegang tangan erat tangan Venecia.
“Ini bukan wujud asliku. Hahahaha.. Ini wujud asliku!” tiba-tiba Deathya berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Matanya terus mengeluarkan darah, baju SMP yang ia pakai sudah kotor dengan tanah dan darah, rambutnya yang panjang sesiku sangat berantakan, ia sangat menyeramkan, dan wajahnya bukan wajah Deathya. Wajah orang lain yang tidak kami kenali.
“Siapa kau? Di mana Deathya?” tanya Venecia ketakutan dan sekarang posisi kami saling memeluk.
“Hahaha.. Deathya itu aku! Aku menyamar sebagai Deathya. Aku mengambil raga seorang wanita. Inilah aku. Namaku Skylar Maria Angelina. Aku hanya ingin membalaskan dendamku pada guru itu. Tapi, ku dapatkan kabar bahwa guru itu sudah meninggal dunia,” jawab Deathya yang ternyata adalah Skylar.
“Siapa guru yang kau maksud Sky.. Sky.. Skylar?” tanyaku tergagap-gagap.
“Pak Jo,” jawabnya.
“Pak Jo? Pak Jo sudah meninggal. Ia tertabrak mobil. Pelakunya sudah bebas dari penjara,” ucapku memberitahu.
Skylar pun menatapku. Aku yang ditatap oleh sosok yang matanya berdarah itu ketakutan.
“Antar aku ke rumah orang itu,” katanya. Aku dan Venecia pun saling berpandangan dan akhirnya menyetujuinya.
“Ini rumahnya,” ucapku sambil menunjuk gubuk tua di dekat sungai. Venecia pun segera mengetuk pintu dan keluarlah seorang bapak-bapak yang sepertinya sudah tiada harapan lagi. “Siapa kalian?” tanyanya. Venecia pun memberitahu siapa kami. “Apa mau kalian? Sudah ku bilang. Aku tidak sengaja,” katanya dengan raut muka khawatir.
“Tidak. Bukan itu maksud kami. Ada yang ingin menemuimu,” kataku meluruskan.
“Siapa?” tanyanya.
“Aku,” jawab Skylar yang tiba-tiba muncul di depan bapak itu. Bapak itu pun kaget ingin pingsan, mungkin karena ia takut akan wujud Skylar.
“Jangan takut. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah membalaskan dendam ku,” ucap Skylar sambil tersenyum. Saat Skylar tersenyum tiba-tiba wujudnya berubah menjadi wanita cantik berkulit kuning langsat, rambut ikal berwarna hitam kecokelatan, matanya yang lentik, tidak terlalu sipit juga tidak terlalu belok, ia memakai jubah putih panjang. Mungkin inilah Skylar. Gadis yang sangat cantik. “Aku pamit. Terima kasih untuk kalian semua yang telah membantuku.” Skylar pun mundur dan tersenyum lalu rohnya menghilang menjadi debu. Ya, memang itulah asal manusia. Terbuat dari debu dan akan kembali menjadi debu.
***
Setelah Deathya, eh maksudnya Skylar. Setelah Skylar sudah tiada lagi, sekolah menjadi sangat tenang. Pembunuhan sudah tidak terjadi lagi. Aku dan Venecia merasa senang akan hal itu juga karena kami telah membantu roh yang ingin tenang. Deathya Girla yang ternyata adalah Skylar Maria Angelina sudah tenang di sana. Selamat jalan Skylar.

0 komentar:
Post a Comment