TINGGAL KENANGAN (PART 1)

Posted By Cerpen universal on Wednesday, October 14, 2020 | October 14, 2020

TINGGAL KENANGAN (PART 1)

Aku Rayan siswa sekolah asal tsanawiyah negeri Jakarta. Aku sekarang duduk di kelas IX. Aku mempunyai sahabat namanya Fani Kholifatunnada, kini sahabatku itu tinggal kenangan yang telah pergi untuk selamanya.

Jakarta, 10 september 2015.

Senangnya hari ini dimana hari ini aku berulang tahun! Dan hadiah yang paling dinantikan adalah sahabatku. Saat jam istirahat tiba-tiba Fani datang dengan khas ledekannya.

“Cie! yang ulang tahun. Mana nih teraktirannya?” dan belum sempat aku jawab dia menyodorkanku sebuah bungkusan kotak warna biru yang tertata rapi.

“Ini kado dariku. Semoga kamu suka! Selamat ulang tahun Rayan! Semoga kamu dapat meraih ranking satu lagi karena kemarin ranking satumu dicomot orang!”

Lalu aku menjawab, “Wah! Terima kasih Fani.. Iyaa aku pasti akan meraih ranking satuku!” Lantas Fani meninggalkanku karena dia sedang dipanggil bu Istianah.

Aku melihat senyum dan tawa riangnya. Manis sekali. Dengan tampang kerudungnya yang khas terlihat alim.

Jakarta, 1 desember 2015

Sekolah seperti biasa dengan pelajaran yang menyenangkan. Namun keganjilan aku alami karena saat itu sahabatku tidak hadir hari ini. Aku sangat khawatir, biasanya dia akan memberitahuku kalau dia tidak masuk sekolah. Dan tiba-tiba guru bidang wakil kesiswaan masuk ke kelasku, “Kabar duka bagi kita semua, atas meninggalnya orangtua dari Fani Kholifatunnada dini hari tadi. Dan marilah kita sama-sama membaca surat al-fatihah semoga arwah orangtua dari Fani diterima di sisi Allah SWT.” aku pun terkulai lemas tubuhku kaku dan tidak percaya dengan barusan apa yang aku dengar tadi Fani adalah anak semata wayang, apakah dia mampu hidup seorang diri? Langsung aku pun membuncah lamunanku dan membaca doa untuk orangtuanya Fani dan semoga Fani bisa tabah dengan peristiwa apa yang dialaminya.

Jakarta, 27 desember 2015

Selepas pulang sekolah kebetulan hari ini pulang cepat, jadi aku bisa pergi ke rumah Fani karena dia telah berhari-hari tidak masuk sekolah. Setelah aku sampai ke rumahnya, dan.. Bertapa terkejutnya aku. Rumahnya kini tidak tampak seperti dihuni lagi, halaman rumah yang berserakan dengan daun-daun kering, bunga-bunga kesayangannya pun layu, dan cat rumah Fani yang kusam menandakan pemilik rumah yang sedang berduka. Saat aku ingin membuka pagar rumah Fani, datanglah sepasang kakek dan nenek yang rumahnya tak jauh dari rumah sahabatku lalu menghampiriku sang kakek bertanya.

“Sedang apa Nak, kamu ke mari?”

Lalu aku menjawab, “Aku ingin ke rumah Fani dan ingin menanyakan keadaannya Kakek,” setelah aku menjawab kakek dan nenek itu langsung berwajah pucat dan tak percaya dengan apa yang aku lakukan. “Kamu yakin Nak? Dengan tindakanmu itu? Temanmu itu sekarang tidak normal lagi. Ia lebih suka mengurung diri di rumah. Dan sering terdengar di malam hari jeritan isakan tangis perempuan yang sangat perih jika kau mendengarnya,” ujar nenek itu. Aku pun terdiam dengan ucapan kakek dan nenek itu.

“Lalu apa yang harus saya lakukan Nek? Saya adalah sahabatnya, saya tidak ingin dia menderita,”

Nenek itu pun menjawab, “Boleh saja jika kamu ingin menemuinya dan menyadarkannya, asal jangan sendiri kamu akan dibunuh olehnya karena banyak warga yang terbunuh karena perempuan itu.” aku tak percaya kalau sahabatku bisa membunuh seperti itu, dan aku berterima kasih kepada kakek dan nenek itu yang telah memberikan informasi kepadaku, lalu mengurung niatku dan tidak jadi ke rumah Fani. Dan terlihat sesosok perempuan bergaun putih mengintip dari jendela, aku melihatnya dan ia tersenyum sedih ke arahku lantas ku percepat langkahku dan pulang.

Jakarta, 10 januari 2016

Berhari-hari aku bingung apa yang harus aku lakukan. Karena aku saking kesalnya dengan hal ini muncul dua temanku yaitu Adi dan Isna.

“Kamu kenapa sih? Baru tahun baru udah cembetut aja!” ujar Isna.

“Tahu tuh! Ceritain lo kenapa Rayan? Ceritalah..” ujar Adi, aku menceritakan apa yang terjadi dengan Fani hingga saat ini Adi dengan wajah sangat takut. Tetapi berbeda dengan Isna, bocah satu ini gak ada takutnya dengan hal-hal yang seperti itu, sampai-sampai waktu aku, Fani, Adi, dan Isna ke rumah hantu di wahana trans studio bandung itu bukannya lari karena dikejar kuntilanak. Malah dia melambai-lambai ke arah kuntilanak itu.

“Oh kok bisa kayak gitu? Mungkin aja di stres karena kehilangan orangtuanya,” ujar Isna. 

Iya dia selalu berpikir dengan fakta bukan karena tahayul tentang hantu.

“Bagaimana kalau kita pergi ke rumahnya dan melihat keadaannya?” ujarku.

“Ide bagus! Ayo aku setuju!” balas Isna.

“Tapi kan kata Rayan.. Fani.. Udah pernah bunuh orang.. Hiiii!” ucap Adi.

“Ahh, udahlah! Besok aja jam 9 pagi kita ketemuan di rumah Rayan. Habis itu kita otw rumah Fani.” kata Isna. Kami sepakat dengan Isna dan akan merencanakan ini besok.

Jakarta, 11 januari 2016

Sesuai dengan kesepakatan kemarin kami menuju rumah Fani. Dibukalah pintu gerbangnya. (Krieekk) Adi yang ketakutan langsung memelukku dari belakang.

“Apaan sih! Meluk-meluk! Baru buka gerbang. Belum juga masuk!”

Adi dengan khas cengirannya. “Hehe maaf! Kebawa suasana..”

Kami pun melangkah masuk ke arah depan pintu rumah Fani. Isna pun mengetuk pintu. Tok, tok, tok. “Halo ada orang di dalam? Kami ingin menjengukmu Fani..”

Tiba-tiba pintu pun terbuka sendiri. “Ehh udahan yuk pulang..” ujar Adi.

“Ish udah! Ayo masuk!” balas Isna narik tangan Adi masuk ke dalam rumah. Kami tercengang dengan isi rumah ini dimana barang-barang berserakan di mana-di mana dan.. Terlihat juga bercak darah di lantai dan kami menyusuri ruangan di rumah ini menaiki tangga hingga ke lantai dua. Dan menemukan sesosok makhluk perempuan bergaun putih rambut panjang terurai hingga pinggang yang sedang menatap ke luar jendela lalu dia memutar kepala ke arah kami dan dia terbang ke arah kami.

“Hihihihi!!”

“Aaaaaaa!!!” teriak kami bertiga.

Kami berlari menuruni tangga dan lebih gilanya lagi pintu itu terkunci rapat. “Duh, kok gak bisa kebukaa?!!” kata Isna dengan muka pucat dan panik.

“Baru nyadar kan lo! Di mana-mana setan itu serem tahu untung lo insyaf!” balas Adi.

“Dahhh.. ribut mulu lo berdua. Mikirin nihh gimana caranya kebuka!” ku potong percakapan mereka yang dari tadi ribut.

Tiba-tiba terdengar suara orang menuruni tangga. Tak, tak, tak, tak, tak.

“I ..it-tuu siapa ya? Tolooong buka pintunya!”

Bersambung
Blog, Updated at: October 14, 2020

0 komentar:

Post a Comment