RINAI HUJAN
“Maaf membuatmu menunggu lama”
Lelaki itu, Hujan. Nama yang bagus bukan? seperti orangnya. Senyumnya meneduhkan, tatapan matanya setajam Elang namun terlihat begitu teduh.
“Ya, tidak apa. Tidak usah sungkan begitu”
Dan aku Rinai perempuan biasa yang tidak sempurna tapi begitu beruntung bisa mengenal lelaki seperti Hujan. Dia lelaki yang luar biasa.
“Minumlah dulu tadi aku sudah memesankanmu minuman. Kopi hitam tanpa gula bukan?” Ujarku sambil melirik ke arah secangkir kopi hitam di atas meja itu.
“Ya, terima kasih”
Tidak ada percakapan setelah itu. Hujan mulai sibuk dengan laptopnya entah apa yang dikerjakannya, sesekali ia terlihat menyeruput kopi hitamnya. Dan aku kembali sibuk dengan segala khayalku.
“Bagaimana kabarmu?” Suaranya kembali terdengar memecah kesunyian.
“Seperti yang kamu lihat” Aku menanggapinya acuh tak acuh entah kenapa moodku mendadak lenyap.
“Jangan seperti ini terus, Rinai?”
Ah, jangan seperti ini terus. Seperti ini apa maksudnya?
“Banyak yang peduli padamu, termasuk aku” Kembali Dia berujar. Tenang seperti tak ada emosi padahal aku tau betul apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.
“Aku tau kamu peduli padaku, Hujan tapi Hujan ada atau tidak ada yang peduli pada akhirnya semuanya akan tetap seperti ini. Tidak akan ada yang berubah”
Untuk pertama kalinya aku menyentuh Caramel Macchiatoku. Menyeruputnya lalu meletakkanya kembali.
“Pada akhirnya kamu akan tetap menikah dengannyakan, Hujan?” Suaraku berubah serak. Selalu saja seperti ini jika itu sudah menyangkut apa pun yang berkaitan tentang pernikahannya Hujan.
“Lalu aku? Aku akan tetap terlihat menyedihkan seperti mayat hidup”
Hening…
“Rinai…”
“Ya”
Aku pun ikut berdiri. Berhadapan dengan Hujan yang telah berdiri lebih dulu.
“Hari ini kamu mungkin bisa bicara seperti tadi”
Tatapan matanya meneduhkan “Tapi, Rinai untuk beberapa waktu ke depan. Entah itu satu minggu, satu bulan atau bahkan satu tahun ke depan” Senyumnya menenangkan.
“Bila saat itu tiba aku bisa pastikan saat itu tiba nanti perasaanmu hari ini tidak akan sama lagi”
“Ya, aku tau. Tapi aku juga bisa pastikan itu akan memakan waktu yang lama”
“Ya aku tau”
Hening…
“Berjuanglah, Rinai kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaanmu–”
“Maaf kan aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku pergi dulu ya. Jaga dirimu baik-baik”
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas.
Hilang…
“Ya, tidak apa. Tidak usah sungkan begitu”
END
Untuk seseorang yang suaranya sangat menenangkan. Terima kasih sudah menginspirasi.


0 komentar:
Post a Comment