PRINSIP CINTA YANG BERBEDA
Bel istirahat pun berbunyi, kulangkahkan kaki menyusuri sudut sekolah. Langkahku terhenti di depan bangku taman sekolahku. Duduk adalah pilihanku. “Citraa”, teriak seseorang. Ya, itu pasti Zahra, sahabatku. Mendengar teriakannya, aku langsung berusaha menyembunyikan sebuah surat yang sedari tadi kugenggam. Itu adalah surat pertama yang kuterima dari seorang pria.
“Sendirian aja Cit”, ujar Zahra.
“Iya Ra”, sahutku.
“Eh ngomong-ngomong apa yang tadi kamu bawa?” Tanya Zahra.
“Oh ini,” ujarku sembari menyodorkan surat yang kusembunyikan.
“Ini surat dari Reza”, tambahku.
“Reza?, kamu udah baca suratnya?”,
“Belum”.
“Boleh nggak aku baca, aku penasaran nih”, pinta Zahra.
“Ya udah nih baca aja”, ujarku.
“Wah, Citra surat ini tuh surat cinta dari Reza, dia nembak kamu Cit”, jelas Zahra.
“Apa? Nggak mungkin, kamu tau kan Ra kalau aku nggak pengen pacaran dulu” kataku.
“Tapi apa salahnya dicoba, siapa tau kalian cocok”, terang Zahra.
“Nggak, pokoknya aku nggak mau pacaran dulu”, cetusku sembari pergi meninggalkan Zahra sendiri.
“Citra, aku kok ditinggalin sendiri sih, emang kalau udah kebiasaan ya gitu! Hufft. Citra tunggu”.
Bel pulang sekolah berbunyi, seperti biasa aku pulang dengan Zahra. Kami sudah tidak tegang lagi seperti tadi karena aku sadar bahwa Zahra berkata seperti itu karena dia ingin yang terbaik untuk sahabatnya. Langkah kami tiba-tiba terhenti saat seorang pria yang mengendarai sebuah mobil berhenti tepat di samping kami. Reza, ya itu mobil Reza.
“Cit, ayo pulang bareng aku daripada harus naik angkutan umum, lebih baik ongkosnya kamu tabung”, tawar Reza.
“Udah Cit, terima aja tawarannya, rezeki tau nggak”, ujar Zahra.
“Ya udah aku mau tapi Zahra juga harus ikut bareng dengan kita”, ucapku.
“Ya udah boleh, ayo”. Aku pun masuk ke dalam mobil dengan Zahra.
Selama perjalanan Reza selalu memperhatikanku yang duduk di kursi belakang lewat kaca mobilnya. Aku agak risih dengan sikapnya itu. “Cit, aku turun dulu ya. Reza makasih udah nganterin aku”, ujar Zahra ketika hendak turun dari mobil.
Kini hanya ada aku dan Reza di dalam mobil. Suasana keheningan pun pecah karena pertanyaan yang dilontarkan Reza kepadaku.
“Gimana Cit”.
“Gimana apanya Za?”.
“Jawaban dari surat yang aku kasih tadi, kamu udah baca kan?”.
“Iya udah kok, emang kamu beneran suka sama aku? Beneran cinta sama aku? Yakin?”.
“Insya Allah aku yakin Cit”.
“Maaf ya Za, aku masih belum ingin pacaran dulu, kita kan masih sekolah, belum saatnya untuk pacaran”.
“Tapi apa salahnya dicoba Cit?”.
“Maaf sekali lagi Za, lagipula aku nganggep kamu cuma teman dan nggak lebih”.
“Cinta itu hadir seiring berjalannya waktu Cit, aku akan berusaha membuat kamu cinta denganku”.
“Maaf Za, aku nggak bisa”.
“Tapii…!”. Percakapan kami terhenti saat mobil yang kita kendarai tiba di depan rumahku.
“Thanks ya Za, maaf kalau ngrepotin”.
“Iya, aku pulang dulu ya”.
Malam harinya, ponselku berbunyi. Kulihat satu pesan dari nomor yang tak ku kenal. Saat kubaca ternyata itu pesan dari Reza. Sejak saat itu, kami sering berkomunikasi lewat ponsel. Sejak itu juga Reza sering memberikan perhatian yang lebih kepadaku hingga benih-benih cinta untuk Reza mulai kurasakan. Aku merasa nyaman saat bersamanya. Namun, aku tetap tidak bisa menerima permintaannya untuk berpacaran, karena aku harus berpegang teguh pada prinsip hidupku selama ini. Lagipula orangtua melarangku untuk pacaran.
Hingga suatu hari, dia mengirim pesan untukku. “Cit, aku boleh tanya?”.
“Iya, silahkan”.
“Kamu cinta nggak sama aku? jawab jujur ya”.
“Oke, aku akan jujur. Sebenarnya aku memang mulai cinta sama kamu”.
“Berarti kamu mau dong, pacaran sama aku?”.
“Maaf Za, untuk itu aku nggak bisa”.
“Kenapa?”.
“Aku takut dosa Za”.
“Nggak bakal Cit, kita pacaran islami aja”.
“Gini ya Za, namanya pacaran itu nggak ada yang islami, hubungan yang islami adalah menikah. Tapi, sekarang kan kita masih sekolah jadi belum saatnya kita untuk bercinta”. Itu adalah pesan terakhir dalam riwayat percakapan kami. Sejak saat itu, Reza mulai menjauh dariku. Aku tidak terlalu memikirkannya karena aku fokus dengan sekolahku.
Satu bulan berlalu…
Hari ini, hari Minggu. Aku bersiap untuk pergi bersama Zahra. Ketika tiba di tempat tujuanku dan Zahra, aku nggak sengaja melihat Reza jalan dengan seorang cewek dan mereka terlihat sangat mesra. Aku penasaran dengannya, akhirnya kuberanikan diri untuk mengajak Zahra menghampiri mereka.
“Za”, sapa Zahra. Reza terlihat kaget melihatku dan Zahra. “Eh, hai”, ujar Reza nampak terlihat panik.
“Ini siapa Za?” Tanyaku.
“Kenalin, aku pacarnya Reza. Kita baru aja jadian sekitar sebulan yang lalu”, jawab cewek yang bersama Reza. Entah kenapa mendengar jawaban itu hatiku terasa hancur berkeping-keping, ingin aku menangis sekeras-kerasnya. Namun, nggak mungkin aku nangis di depan mereka. “Ya udah kamu lanjutin lagi aja ya Za”, ucap Zahra. Kami pun pergi meninggalkan Reza dengan pacarnya.
Malam harinya tiba-tiba Reza mengirim pesan untukku, di dalam pesannya ia menuturkan bahwa dia nggak bermaksud mengkhianatiku namun dia hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari seorang pacar. Dan itu sangat berbeda dengan prinsipku. Dia juga sempat meminta maaf padaku. Akhirnya aku sadar bahwa Reza bukanlah orang yang selama ini aku cari. Kami memiliki perbedaan prinsip yang nggak akan bisa disatukan. Sejak saat itu, aku berusaha untuk melupakan Reza dan fokus ke sekolahku. Aku menata diriku untuk menjadi insan yang lebih baik agar nantinya aku mendapatkan sosok yang baik pula.


0 komentar:
Post a Comment