MIMPI YANG TERHEMPAS
Sambil terisak kuingat kembali saat-saat indah bersamamu. Bagiku empat tahun bukanlah waktu yang pendek dalam penantian. Kubuang jauh angan untuk berpaling, kututup rapat dinding hati kala ada yang mencoba untuk mengetuk dengan berbagai macam cara. Hingga kukorbankan perasaan kedua orangtuaku yang hendak menjodohkanku dengan pria pilihan mereka.
Aku tidak ingat dengan jelas kapan pertemuan kita terjadi, yang aku ingat bahwa kau adalah seorang pria yang tampan, penuh pesona, gagah dan senyummu itu selalu meluluh lantahkan hatiku. Aku selalu menyanjungmu, menempatkan dirimu nomor satu, sampai terkadang aku lupa pada siapa yang telah menciptakanmu. Meski usia kita berbeda 6 tahun, namun kau bisa membuat aku nyaman berada di dekatmu.
Aku yang kala itu masih muda belia, masih lugu dan ingusan, sangat mendamba pria sepertimu, kau istimewa dan selalu seperti itu bagiku. Kau selalu hiasi hari-hariku, kau buat aku bangkit dari keterpurukanku dengan pria terdahulu. Aku sangat menyayangimu. Hingga di suatu hari kau ditugaskan ke luar pulau demi pengabdianmu pada Negeri ini.
Pagi itu 1 April 2001, mentari masih malu untuk membuka hari, angin dingin menyapu wajahku yang tengah bersedih. Kau hampiriku yang sedari tadi menunggumu di bawah pohon asam dekat sekolah. Kau genggam jemari tanganku, kau ucapkan janji akan selalu setia padaku, kau memintaku untuk menunggu empat tahun lagi dan kita akan hidup bersama. Tanpa terasa air mataku jatuh berderai, tak bisa kutahan tangis ini, kulepaskan kepergianmu dan genggam erat janji ini. Dengan kecupan di keningku kau tenangkan aku, kau yakinkan aku agar aku tegar.
Waktu terus berlalu, tiada kabar berita sedikitpun darimu, namun aku tetap menanti janjimu. Tak terasa sudah empat tahun aku menantimu.
Tepat 1 april 2005 kau kembali ke kampung halamanmu. Sejak kudengar berita kedatanganmu aku tak henti berucap syukur “Penantianku telah berakhir” bisiku lirih. Kubuang jauh rasa malu, aku bergegas menuju rumahmu, hanya satu tujuanku, “aku ingin bertemu pujaan hatiku”.
Namun, apa yang kulihat tak sesuai dengan harapanku. Kau kembali bersama seorang wanita dan dia adalah istrimu. Lumpuh rasanya kaki ini, tak kuat menopang tubuhku yang rapuh. Meskipun hati ini berdarah kucoba untuk tegar di hadapannya. Kau terkejut saat melihatku berbincang dengan perempuan yang memperkenalkan dirinya sebagai istrimu.
Dengan muka memerah kau ulurkan tanganmu menyapaku, sambil terbata-bata kau tanyakan kabarku. Tanpa kujawab pun kau tahu kalau aku sedang terluka. Tak lama kemudian aku pamit pulang. Lama kutatap wajah tampan yang selalu bersemayam dalam hati selama ini, yang telah tancapkan janji empat tahun kembali, namun apa yang kudapat kini?
Aku menjerit, menangis sekuat-kuatnya, kumuntahkan segala emosi, kurobek semua kenangan indah yang selama ini terpatri. Hanya kamar sunyi ini yang setia menjadi saksi, turut menangisi kisah hidupku yang sunyi, sepi dan mati.


0 komentar:
Post a Comment