BOOMERANG
“Akhirnya selesai juga nih cerpen. Tinggal dikirim deh.” Kataku sambil menutup laptopku. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Hari yang sangat melelahkan. Pikirku. “Mana kemarin lembur tugas. Ujian mendadak pak dosen killer. Tugas yang ketinggalan gara-gara bangun kesiangan. Argh.” Kataku sambil membalikkan tubuhku ke arah kanan. Ku raih guling yang baru saja jatuh karena ku tendang. “Huaaiii. Nih pasti gara-gara kecapean nih. Ngebocan dulu ah (bobo cantik).” Dan kesadaranku mulai hilang. Matahari mulai menampakkan sinarnya. Aku tiba-tiba terbangun karena teringat sesuatu.
“Astaghfirullah ini kan jamnya Pak Nas. Aduh.” Kataku sambil melihat ke arah jam minions di samping kasurku. Panik. Tinggal 10 menit lagi. Aku segera mengganti baju tidurku dengan baju yang biasa ku pakai saat kuliah. Aku buru-buru berangkat ke kampus tanpa menyentuh air sedikit pun. Ku tancap gas motorku. Tak ku pedulikan lagi komentar dari teman-temanku nanti. Itu urusan belakang pikirku. Aku tak ingin mengulang mata kuliah ini. Akhirnya aku sampai. Buru-buru aku berlari menuju lift. Lift ini terasa lama sekali. Jantungku berdegup kencang. Peluh membasahi tubuhku. Ini namanya mah mandi keringat. Kataku dalam hati. Pintu lift pun terbuka. Aku segera berlari menuju ruang 305. Ku buka pintu ruangan itu. Tapi ruangan itu kosong.
“Hah?” Kataku tak percaya. Ku lihat jam di tanganku. “Aish aku lupa memakai jam.” Ku ambil hp yang ada di tas ranselku. Jam 07.15. Iya benar. Ini jamnya pak Nas. Tapi “Astaga ini kan hari Minggu. Pantesan.” Aku duduk di lantai koridor kampus. Napasku terengah-engah. Kakiku berkedut. “Ya Allah udah buru-buru ke kampus sampe nggak mandi segala eh nggak tahunya hari Minggu. Kok bisa lupa gini sih aku.” Omelku pada diriku sendiri. Suasana koridor saat itu tiba-tiba gelap. Ku lihat ke arah jendela. “Mana mendung lagi. Aduh.” Lagi-lagi aku mengeluh. Tiba-tiba seseorang menepuk punggungku.
“Mbak?!” Aku menoleh. Seorang wanita berperawakan tinggi, berambut panjang, dan berkulit putih.
Ini mahasiswa sinikah? Tapi aku kok nggak pernah ngelihat dia ya. Kataku dalam hati. “Iya.”
“Mbak ngapain di sini. Ini kan hari Minggu.” Katanya ramah. Aku lantas berdiri.
“Hehe iya Mbak. Saya lupa. Saya pikir ini hari Sabtu.” Kataku cengengesan menahan malu. Ia hanya tersenyum. Lalu berlalu melewatiku tanpa sepatah kata pun. Namun ada hal yang aneh pada bagian belakang tubuhnya. Pisau? Aku melihat wanita itu lagi. Namun ia sudah menghilang. Di punggung wanita itu tertancap sebuah pisau.
“Astaghfirullah jadi yang..” tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku buru-buru meninggalkan kampus. Selama di perjalanan aku memikirkan wanita itu lagi. Aneh kalau dia bener hantu kenapa dia baik terus senyum-senyum sama aku. Tiba-tiba tiiiiin!!! Klakson mobil di belakangku mengagetkanku. “Woi buruan jalan.” Aku melihat ke depan. Ya ampun udah ijo. Aku lalu melajukan motorku. Aku pun sampai. “Assalamualaikum.” Hening. Aku mengernyitkan dahi. “Tumben nggak ada yang jawab.” aku langsung masuk. Sepi. “Nih orang rumah pada ke mana sih.” Aku menuju dapur. Lagi-lagi tidak ada orang.
“Ma!! Bik Inah!! Mang Diman!” Aku mengabsen semua orang yang ada di rumah ini. Tidak ada jawaban. Aku membuka meja makan. Kosong. “Ya ampun tega banget ninggalin aku di rumah tanpa makanan.” Dengan terpaksa aku membuat mie instan yang ada di rak. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan lewat di belakangku. Begitu cepat seperti angin. “Siapa?” Aku berteriak. Suaraku memecah keheningan saat itu. Tak ada jawaban. Aku tak menghiraukannya. Namun tiba-tiba seseorang memanggilku dari arah lantai dua. “Kinan.. Kinan..” Seperti suara mama. Aku mematikan kompor. Segera aku melangkah menuju lantai dua. Saat sudah sampai di lantai dua aku mendengar mama memanggilku dari lantai bawah. Aku turun lagi. Namun baru saja aku menginjakkan kaki di lantai satu lagi-lagi mama memanggilku dari lantai dua. Tiba-tiba aku sadar. Aku lalu segera menuju kamarku lalu ku kunci pintu. Ku tutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Tiba-tiba..
Tok, tok, tok. Aku gemetar. “Aduh masa iya ada hantu pagi-pagi gini. Rajin bener.” Tok, tok, tok, tok, tok. Dug, dug, dug, dug. Suara jantungku berdegup keras. Dan pintuku terbuka. Aku pura-tidur di balik selimut. Aku bisa mendengar suara langkah kaki sedang mendekatiku. Tapi kenapa ada banyak suara langkah kaki. Oh tidak dia makin dekat. Aku memejamkam mataku.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh tubuhku. Lalu ada tangan lain menyentuh bagian tubuhku yang lain. Lalu ada lagi dan lagi. Astaghfirullah ini tangan siapa. Dan kenapa mereka ada di sini. Tangan-tangan itu lalu mencakar tubuhku. Untung saja tubuhku masih dilindungi bed coverku yang tebal. Tapi sepertinya kuku mereka terlalu tajam. Bed coverku pun menyerah. Aku memberanikan diri membuka mataku perlahan. Alangkah terkejutnya aku melihat mereka sudah ada di hadapanku. Tepat di depan mataku. Wajah mereka sangat menyeramkan. Ada yang dagingnya terkoyak seperti digigit binatang buas. Ada yang wajahnya hancur dan seluruh wajahnya penuh darah. Ada juga yang dipenuhi belatung. Ahhh ini membuatku mual. Aku tercekat. Aku tak bisa bergerak. Bahkan untuk berteriak pun aku tak bisa. Mereka lalu menjauh.
“S..siapa kalian?” Suaraku tiba-tiba muncul kembali.
“Bukankah kau yang menciptakan kami. Kaulah dalang dari semua ini. Kau yang membuat image kami semakin buruk. Kau yang membuat tubuh kami seperti ini. Kau juga yang membuat orang-orang takut dengan cerita bohongmu tentang kami. Kami sudah lelah. Kami ingin kau merasakan apa yang kami rasakan. Kau harus mati.” Kata orang yang seluruh wajahnya dipenuhi belatung.
“Ap-apa?” Kataku tak percaya. Mereka lalu mendekat. Tangan mereka dengan kuku-kuku yang panjang mengacung kedepan seakan siap menerkamku.
“Jangan aku mohon jangan.” Kataku memelas.
“Kau harus mati. Kau harus mati. Kau harus mati.” Kata mereka berulang-ulang.
“Tidaaaaaaakkk!!!”
***
“Makanya kalau tidur itu baca doa.” Kata seorang wanita di sebelahku sambil membuka tirai jendela kamarku.
“Mama?” Kataku sambil membuka mataku perlahan. Aku melihat ke arah jendela.
“Alhamdulillah itu cuma mimpi.” Tapi aku masih bisa merasakan cakaran kuku-kuku mereka yang tajam di tubuhku.
Ku lihat tubuhku. Tidak kenapa-kenapa. Aku lalu turun dari kasur lalu segera ke kamar mandi. Syukurlah itu hanya mimpi kalau tidak aduh nggak tau deh aku bakalan jadi apa. Kataku dalam hati. Hari ini berjalan seperti biasa. Ku coba membuka situs cerpen online di laptopku. Akhirnya diterbitin juga cerpenku. Aku membaca cerpenku yang sudah ku kirim tiga bulan yang lalu itu. Aku tersenyum puas. Ku lihat ada beberapa orang yang mengomentari cerpenku. Alhamdulillah mereka suka dengan cerpenku. Namun saat ku lihat komen terakhir bulu kuduku seketika berdiri. KAU HARUS MERASAKAN APA yang KAMI RASAKAN. Aku langsung menshutdown laptopku. Keringat dingin mengucur deras di dahiku. Aku lalu turun. Ku ceritakan semua yang ku alami pada mama.
“Mungkin cuma halusinasimu aja. Makanya baca doa dulu kalau tidur jangan main asal pelor aja.”
“Tapi itu tuh kayak yang nyata banget. Bahkan aku masih bisa ngerasain cakaran mereka.”
“Udah ah sana salat.” Kata mamaku seraya berlalu. Malam ini aku takut tidur sendiri. Aku lalu ke kamar mama. Namun mamaku menolakku untuk tidur di sana. Aku ke kamar Bik Inah namun pintunya dikunci. Pasti Bik Inah sudah tidur. Aku pun kembali ke kamar dengan langkah gontai.
Saat ku buka pintuku, “Ahh syukurlah tidak ada apa-apa.” Segera ku tarik selimut lalu ku pejamkan mataku. Di tengah tidurku aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku terbangun. “Siapa sih yang berisik itu.” Ku lihat sekitar. Hei itu siapa. Ku lihat seorang wanita yang mirip denganku sedang duduk di depan laptop yang juga sama dengan milikku. Aku mendekatinya. Aku memanggil orang itu berkali-kali. Tapi ia tak menghiraukanku. Ku lihat layar laptop yang ada di depannya. Ini kan cerpenku. Ya benar ini cerpenku. Tiba-tiba seseorang memanggilku. Ku lihat dari jendela. Teryata Riko pacarku.
Orang yang mirip denganku itu berlalu melewatiku begitu saja. Ia menemui Riko. Dari caranya berbicara dan berjalan sangat persis denganku. Mereka lalu pergi. Ku ikuti mereka. Sepanjang jalan mereka bersenda gurau dengan mesranya. Hatiku sakit melihatnya. Namun sebuah truk yang ada di depan mereka tiba-tiba oleng. Dan Duaaarrr. Pletak. Suara itu cukup keras. Aku segera menghampiri mereka. Ku lihat Riko terpental jauh kira-kira 10 meter. Dan wanita yang mirip denganku itu keadaannya mengenaskan. Kepalanya pecah, tangan dan kakinya terlepas dari tubuhnya. Aku tak tega melihatnya. Namun tubuhku tiba-tiba menjadi transparan.
“Ada apa ini? Apa yang terjadi. Oh tidakk, tidakk, tidakkkk!!” Aku terbangun. Peluh membasahi tubuhku. Aku harus mengubah ending cerita itu. Ya aku harus merubahnya. “Sudah terlambat.” Kata seseorang berbisik di telingaku. Lalu sebuah tangan mencengkeram tanganku. Lalu ada tangan lain mencengkeram kakiku. Aku tak bisa bergerak. Dan…
***
“Kinan! Bangun sudah subuh!” Tak ada jawaban. “Huh kebiasan anak itu. Kinan!! Bangun ayo salat subuh.” Kata mama Kinan sambil menggedor-gedor pintu kamar anaknya.
Lagi-lagi tak ada jawaban. Lalu mamanya membuka pintu itu. Alangkah terkejutnya ia melihat tubuh anak gadisnya sudah kaku dengan luka di sekujur tubuhnya serta mata dan mulut yang melotot. Mama Kinan menangis histeris melihat pemandangan itu. Tanpa mamanya sadari ada segerombol makhluk di kamar itu sedang tersenyum lebar. Kini mereka dan sang penulis akan menjadi partner di cerpen-cerpen selanjutnya. Dan mereka akan mencari partner lain untuk bergabung dengan mereka. Bersiap-siaplah mungkin kalian target selanjutnya.

0 komentar:
Post a Comment