APAKAH KAU
Sudah seminggu sejak jadianku dengan Romi aku mulai merasakan kejanggalan-kejanggalan yang menurutku tak masuk akal. Aku merasakan perubahan Romi yang tiba-tiba. Mulai dari yang selalu menatap ke cermin dan tersenyum-senyum sendiri sampai aku pernah melihatnya tidur dengan mata terbuka. Aku tak pernah berani menanyakan semua itu padanya, takut nanti dia akan marah dan memutuskan hubungan ini. Sesungguhnya aku sangat menyayanginya dan tak ingin melepaskannya. Suatu hari pada jam istirahat di sekolah, seperti biasanya aku dan Romi pergi ke kantin untuk memesan makanan.
“Kamu pesan apa, Rom?” tanyaku padanya.
Dia hanya menjawab, “Sama sepertimu,”
“Oh.. baiklah kalau begitu,” Aku pun memesan 2 mangkok bakso yang pedas. Sambil menunggu pesanan kami datang, Romi mulai berbicara padaku.
“Cupit, kenapa kamu pesanin aku bakso? Kan aku gak suka bakso?” dia mulai berbicara yang tidak-tidak padaku. Dan dia memanggilku dengan sebutan Cupit.
“Kenapa kamu manggil aku Cupit? Kamu tahu dari mana nama itu?” tanyaku penasaran.
“Aku kan Capitnya kamu,”
“Maksudmu?” lalu, dia langsung berlari ke kamar mandi dan mau tak mau aku harus mengikutinya.
Setelah sampai di kamar mandi, dia mulai mengaca pada sebuah cermin. Seperti biasanya lagi, dia tersenyum-senyum sendiri. “Kamu kenapa, sih? Pas bercermin selalu senyum-senyum sendiri,” kataku.
“Karena aku Capitnya kamu.”
“Capit apaan, sih?”
“Capit dan Cupit akan selalu bersama,”
Seketika itu juga aku kaget karena setelah aku melihat ke cermin, yang ku lihat bukanlah bayangan Romi, tapi bayangan orang lain. Yang tak lain adalah…
“Romi.. kenapa bayanganmu berbeda. Itu seperti bukan kamu, deh. Kamu bercanda ya,”
“Aku gak bercanda, Cupit,”
Sekarang yang ku lihat di cermin adalah bayangan Fero, pacarku dulu yang sangat ku cintai. Aku dan Fero berpacaran sangat lama, hampir 3 tahun. Aku dan Fero punya panggilan khusus untuk kami berdua, yaitu Cupit dan Capit. Tapi, sayangnya dia meninggal karena dia kehilangan banyak darah pada saat kecelakaan. Aku pun menangis di sana sambil memeluk Romi yang bayangannya adalah Fero.
“Fero… aku kangen sama kamu. Kenapa kamu ada di badan pacarku yang sekarang?” ujarku sambil menangis. Bayangan Fero itu hanya tersenyum menatapku.
“Walaupun aku udah gak ada di dunia ini, tapi aku tetep hidup kok,” sahutnya.
“Maksudmu?”
“Aku tetap hidup.. di dalam tubuh Romi ini. Hahahaha,”
“Apa? Jadi kamu membunuh Romi?”
“Betul, dan sekarang aku akan membawamu juga bersamaku… hahaha!”
Tiba-tiba dari arah belakang cermin itu, ada sebuah sabit yang melengkung amat tajam menembus kulitku. Aku menjerit kesakitan dan darahku banyak yang bercucuran. Entah bagaimana nasibku kini.

0 komentar:
Post a Comment