LORONG TAK BERUJUNG
Aku adalah siswi SMP di salah satu sekolah swasta di Kotaku. Awalnya aku tak pernah mengira bahwa aku akan mengalami kejadian yang tak pernah ku bayangkan seumur hidupku. Saat itu aku dan teman-teman akan membuat kejutan untuk salah satu teman kami yang sedang berulang tahun, seperti biasa anak seusiaku tak tahu bagaimana cara mengadakan acara kejutan dengan baik dan benar terutama dalam hal berkata-kata. Saat itu kami telah usai belajar, lalu kami melanjutkan rencana kami dengan kejutan-kejutan ala anak remaja dengan Kue Tart (BlackForest) yang sengaja kami pesan untuknya, sebuah kado istimewa yang berisi boneka Teddy Bear kesukaannya, lalu cream yang sengaja kami buat dari mentega dan gula untuk merias wajahnya.
Tak lama kami pergi menuju tempat kediaman teman kami sebut saja dia Vero, saat itu kami sengaja tak pulang bersamanya karena kami tak mau Vero tahu dan sengaja memusuhinya. Karena kami tahu dia akan pulang dengan menaiki angkot jadi kami yakin sampai terlebih dahulu, karena aku dan teman-teman menggunakan mobil pribadi yang dikendarai oleh supir dan kami memutuskan untuk tidak parkir di dekat gang rumah Vero, karena takut akan ketahuan. Akhirnya kami memutuskan untuk parkir di sebuah Mal yang cukup besar namun mal tersebut kabarnya akan ditutup karena itu tempat parkirnya pun sepi hanya beberapa mobil saja saat itu.
Kejadian itu bermula saat kami turun dari mobil kira-kira pukul 16.00, kami berceloteh Ria sambil berjalan menuju pojok tempat kami parkir karena di ujung tempat kami parkir ada sebuah lorong yang bisa menembus ke dekat gang rumah Vero. Saat itu lorong tersebut begitu gelap hanya sedikit cahaya yang menerangi lorong itu, aku ingat betul kalau aku dan ke 4 temanku berjalan mengikuti jalan yang biasa kami lewati, tapi mengapa aku merasa ada sesuatu yang aneh awalnya aku pikir mungkin karena aku berjalan di paling belakang jadi terasa lama, tapi semakin aku berjalan dan melangkahkan kakiku lagi bukan aku saja yang merasa ternyata keempat temanku Ola, Eby, Fani dan Alin pun mulai merasakannya tapi mereka hanya berpikir kalau kami salah jalan.
Akhirnya kami berbalik arah karena takut kalau-kalau kami tersesat ketika kami berbalik arah ternyata jalan yang kami lalui tidak salah dan kami mencoba melewati untuk yang kedua kalinya, seperti tadi posisiku ada di jajaran paling belakang. Ketika kami berjalan terus ke lorong itu aku merasa ada seseorang yang ikut berjalan bersama-sama dengan kami, karena tak begitu jelas saat ku tengok ke belakang aku tak merasakan ada yang mengikuti atau berjalan bersama dengan kami. Tak lama kemudian kami sampai gang rumah Vero dan harus menyusuri gang kampung itu lagi karena rumahnya cukup jauh dari depan gang. Yang kami tahu di daerah rumahnya itu banyak pemakaman yang akan kami lewati kira-kira 3 pemakaman, seperti biasa karena aku yang dianggap paling berani jadi aku harus berjaga-jaga di belakang karena gang tersebut pun tidak cukup ramai alias sepi, karena itu kami pun membuat kegaduhan di sepanjang perjalanan dengan guyonan-guyonan gak penting.
Selama 30 menit kami sudah berjalan akhirnya kami sampai di rumahnya, karena Vero hanya tinggal berdua saja dengan Ibunya jadi rumahnya pun cukup sepi kalau warung yang dimiliki Ibunya itu tutup rumahnya tak besar tapi sedang-sedang saja 1 ruang tamu dan tv, 1 kamar mandi, dapur dan 1 kamar tidur untuknya dan Ibunya. Saat kami datang kami disambut oleh Ibunya yang sedang berjaga, lalu kami membicarakan maksud kedatangan kami dan kami pun menunggu atau bersembunyi di kamar Vero karena kamar Vero hanya ditutupi oleh hordeng jadi jika terhempas angin sedikit saja akan terbuka atau bergoyang saat tak lama kemudian Vero datang dan akhirnya kami mengucapkan, “Surprisseeeee!!! Happy Birthdayy!!” dan berpesta dengan colek-colekan Cream.
Setelah itu Vero pun meniup lilin yang telah menyala yang menunjukkan 15 tahun saat itu kami masuk kembali ke kamar Vero karena takut mengganggu pembeli di luar rumah saat di dalam kamar salah satu teman kami Marlin pun berdoa sebagai tanda ucapan terima kasih kami kepada yang Maha Kuasa atas kelahiran Vero. Tak lama aku merasakan hal yang aneh saat kami berdoa tak sengaja aku membuka mataku karena rok seragam sekolahku terjepit sesuatu dan ingin ku betulkan, ketika kami selesai berdoa dan kebetulan posisi kami melingkar aku yang menghadap langsung ke arah pintu kamar aku melihat ada seseorang yang lewat dan menghempaskan hordeng kamar Vero, awalnya aku abaikan aku pikir itu si tante, Ibunya Vero tapi setelah beberapa menit ku tunggu kok gak balik lagi ya.
Aku pikir si tante bisa jalan belakang ternyata ketika aku ikuti ke belakang aku cari-cari di dapur dan kamar mandi ternyata tak ada siapa pun dan aku membuka pintu belakang rumah Vero setelah ku buka ternyata itu kebun kangkung yang penuh dengan air, aku tersentak dan ketakutan akhirnya aku kembali ke dalam tanpa menutup pintu kembali sambil berjalan cepat. Ketika Ibunya Vero melihatku yang berjalan cepat dengan tegang dia bertanya, “ada apa sisi?” aku tak berani berkata apapun dan hanya tersenyum saja.
Tak lama kemudian aku mulai menceritakan kejadian tadi pada teman-temanku dan kami pun mencoba untuk berdoa kembali saat kami berdoa aku merasakan ada seseorang yang sedang mengelilingi kami dan aku mencoba membuang prasangka itu tapi tiba-tiba ada seorang wajah perempuan yang mendekatiku saat ku coba semakin memejamkan mata. Karena kejadian itu aku tak mau kembali mengunjungi rumah temanku itu karena selama 1 minggu aku selalu merasa ada yang menghantuiku. Setelah 3 hari berlalu kira-kira pukul 04.00 aku merasa ada yang mendekati tempat tidurku dengan cara merangkak ketika ku membuka mata suasana mencekam itu tiba-tiba hilang dan saking takutnya aku pun berteriak memanggil Mamah.
Setelah kejadian-kejadian aneh yang terjadi aku pun menceritakannya pada keempat temanku termasuk Vero dan ternyata beberapa dari mereka pun mengalami hal yang sama tetapi tidak semua. Karena kami penasaran akhirnya kami membujuk Vero untuk mencari tahu apa yang terjadi. Karena Vero pun baru 6 bulan tinggal di rumah itu jadi dia tak tau menahu soal asal-usul rumah itu. Dan setelah Vero mencari tahu dari tetangga dan teman sekitarnya ternyata dulu ada seorang wanita yang pernah bunuh diri di rumah itu dan mungkin rohnya merasa terganggu karena keributan yang kami buat, oleh karena Vero telah tahu asal-usul tersebut jadi dia memaksa Ibunya untuk pindah rumah setelah seminggu kemudian Vero pun pindah rumah dan kami merasa sudah tak merasakan hal-hal mistis terjadi.

0 komentar:
Post a Comment