KARENA DIUNDANG
Aku menutup kedua mataku. Tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Apa aku masih akan tetap hidup? Ya, Tuhan. Apa aku bodoh bertanya seperti ini? Billy mendelikkan matanya, “Oh, ayolah, Helen. Sekarang giliranmu.” Aku yang mendengarnya lantas membuka mataku dan melotot ke arahnya. “Kau harus bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padaku.” Ujarku tajam. “Cepatlah, Helen. Aku ingin segera pulang. Aku sangat mengantuk, tahu?” Keluh Christy sambil mengetukkan jarinya ke meja. “Baiklah, baiklah.” Aku mengalah, dan pada akhirnya aku ikut bermain.
Aku mencoba memikirkan apa yang akan aku tanyakan. Dan aku tahu apa yang harus aku tanyakan.
“Charlie, Charlie, apakah kau di sana?” Aku menunggu, dan menunggu. Nyatanya pensil yang dibuat menjadi tanda tambah itu tidak bergerak. Berarti benar ini permainan tidak nyata. Untuk apa aku ketakutan seperti tadi ya ampun.
“Haha, tidak berge–” Tidak, tidak. Tidak mungkin. Apa pensil itu baru saja bergerak? Ini tidak nyata. Tidak nyata. “Oh, Tuhan. Dia bergerak! Kalian lihat bukan? Kau hebat Helen. Kita telah mencoba bicara tapi dia bergerak ketika giliranmu.” Ucap Nancy tampak bangga.
Bangga? Apa dia bodoh? Ini menyebalkan.
“Cukup! Aku tidak mau bermain kembali.”
Aku mendorong bangku yang ku duduki lalu beranjak meninggalkan meja. Tapi Rey menahan tanganku. Lantas aku berbalik dan memandangnya sinis. “Permainan ini tidak akan menghantui siapa pun ketika dia bilang dia akan berhenti bermain.” Ucap Rey lantang. Aku menghela napas panjang. Aku seperti tidak peduli dan tetap melangkah menjauh sambil berteriak, “Cepat kalian pulang. Sebentar lagi orangtuaku akan kembali.” Mereka semua sepertinya menatapku hingga aku hilang di balik tangga menuju kamarku. Setelah itu, aku mendengar pintu terbuka. Sepertinya mereka sudah pergi. “Itu hal bodoh yang pernah ku lakukan.” Bisikku sambil menjatuhkan tubuhku di atas kasur yang terbilang empuk.
Aku mengambil handphone yang tak jauh dari jangkauan tanganku. Lalu membuka beberapa aplikasi sosial media. Melihat apa yang sedang hits saat ini. Tapi niatanku berubah ketika semua orang membicarakan permainan yang baru saja aku mainkan dengan Christy, Nancy, Billy dan Rey. Atau mereka biasa menyebutnya Charlie Charlie Challenge. Aku berdecak kesal. Tidak adakah hal lain yang bisa mereka bicarakan? Dengan kesal aku menaruh handphone milikku di atas laci kecil di samping tempat tidur. Perlahan aku mulai menutup mataku. Menghilangkan beban di pikiranku.
Tap.. Tap.. Tap..
Aku membuka mataku dengan cepat. Apa aku baru saja mendengar suara langkah kaki di depan pintu kamarku? Apa kedua orangtuaku sudah kembali ke rumah? Aku membuka pintu kamarku, “Ibu? Ayah?” Tak ada satu pun suara di sana. Mungkin aku salah dengar. Aku kembali menutup pintu. Tapi tiba-tiba suara itu kembali terdengar. Oh, Tuhan. Lindungi aku. Apa yang baru saja ku dengar? Langkah itu kembali terdengar. Aku benar-benar takut. Ibu, Ayah, cepatlah pulang.
Aku segera mengunci pintu. Bersembunyi di balik pintu setelah mengambil handphone di atas laci. Beberapa kali aku menghubungi Ibu dan Ayah. Tapi mereka tidak menjawab panggilan dariku. Ah, ini menyebalkan. Aku pun segera menghubungi salah satu teman yang sangat akrab denganku, Christy. Beberapa saat kemudian panggilan itu terjawab. “Halo? Chris? Apa itu kau?” Aku menunggu jawaban darinya. Tapi bukannya jawaban yang aku dengar. Suara jeritan Nancy terdengar begitu keras. Aku tak pernah mendengarnya menjerit seperti itu. Tiba-tiba panggilan itu terputus.
Darah mengalir begitu deras. Suhu tubuhku berubah begitu saja. Aku ketakutan. Sangat ketakutan. Dan akhirnya aku putuskan untuk menghubungi Billy. Sama seperti Chris, tidak butuh waktu yang cukup lama menunggu panggilan itu terangkat. Samar-samar aku mendengar suara deru napas dan langkah kaki yang sangat kencang. Tak ada jawaban. Sepertinya Billy sedang berlari sangat kencang. “Billy? Billy? Ku mohon jawab.”
“Jangan sekarang, Helen. Ada seseorang mengejarku.”
Deg. Jantungku berdegup dengan kencang mendengar jawaban itu. “Aku takut.”
“Aku juga. Ini semua salahmu. Seandainya kau tidak menghentikan permainan itu begitu saja, pasti seka–” Suara itu menghilang tatkala aku mendengar suara hantaman. Entah apa itu aku tidak mengerti. Dan beberapa saat kemudian ada yang berbicara, “Giliranmu.” Tut. Panggilan kembali terputus.
Kali ini aku merasa lebih takut dari sebelumnya. Rasanya aku sangat ingin loncat dari balkon saat ini. Tunggu. Balkon? Tidak. Tidak. Siapa itu di balkon? Ada sekelebat bayangan di sana memegang sebilah kapak. Aku menjerit pasrah. Tidak tahu harus berbuat apa. Aku menangis sejadi-jadinya. Menenggelamkan kepalaku di antara lipatan tangan yang ku buat. Ketika aku mengangkat kepalaku, dia pergi. Tak ada apa pun di sana. Tiba-tiba terdengar suara, “Helen, kau di mana?” Suara Ibu. Itu Ibu. Ibu tolong aku. Dengan seluruh sisa kekuatan yang aku miliki, aku segera membuka pintu. Berniat menghampiri Ibu. Tapi niatan itu luntur saat yang aku lihat bukanlah Ibu.
“Tak ada Ibu di sini,”
The End

0 komentar:
Post a Comment