JERAT
Aku masih terpaku melihatnya dari jauh. Rambut hitam lurus tergerai itu terpercik jernihnya air sungai. Kepalanya serasa terayun seirama dengan gerak tangan yang menaik turunkan kain-kain cuciannya. Aku tak mampu menggerakkan kaki melihat punggung wanita itu.
Itulah yang kulihat di wajah Tini. Sosok wanita yang menjadi bunga desa. Bunga desa karena kecantikan alaminya. Ia terkenal karena tatapan dan kerlingan matanya. Semua laki-laki di desa ini tahu yang didinginkan ketika bertemu dengan Tini.
Sebagaimana diriku adalah laki-laki normal. Aku ikut merasakan seperti mereka. Diriku seolah disihir oleh pesona matanya. Selalu terbayang kerlingan indah setiap Tini berlalu melewatiku kemarin. Mataku tak henti-henti mengekor tubuhnya hingga tenggelam di balik batas jalan. Aku tak bisa berpaling dari pesona itu. Sungguh-sungguh memikat.
Namun pikiranku masih waras. Semua orang tahu siapa Tini. Bunga desa penuh duri. Banyak desas-desus mengenai dirinya. Berbagai cerita dari tetangga selalu berbeda setiap ku dengar. Yang satu mengatakan ini, lainnya membantah dengan itu. Yang satu bercerita itu, di tambah dengan ini. Tidak ada yang jelas. Semua hanya bualan bibir penuh cemburu.
Cemburu dan iri. Itulah yang kutangkap dari para tetangga. Ibu-ibu yang kesal karena sang suami main mata dengan Tini. Gadis-gadis desa yang iri akibat kecantikannya tak sebanding dengan kecantikan Tini. Harus kuakui tidak ada satupun yang sebanding dengan kecantikan Tini di desa ini. Bahkan gadis desa satu tingkat di bawah Tini, kecantikannya tidak memenuhi setengah dari kecantikan Tini. Jadi bisa di tebak betapa harum bunga ini hingga banyak lebah dan kumbang berhamburan mendekatinya.
Aku salah satu dari kumbang itu. Sejenak aku masih berdiri bodoh di tempat ini. Tidak berkedip terus terpaku dengan tubuh ayu wanita itu. Andai saja ia menoleh padaku. Pasti jantungku akan segera copot saat itu juga.
Tidak sia-sia aku menunggu. Butuh dua jam aku menunggu tatapan mata itu menuju diriku. Aku bisa melihat dirinya tersenyum. Gigi putih dan rapi tersungging dan itu untukku. Waktu serasa berhenti berputar.
“Tini, untuk kedua kali kau memberiku senyuman itu,” desahku
Entah apa yang menggerakkan kaki ini untuk mendekat. Tanpa kusadari aku telah berdiri tepat didepannya. Sekarang aku bisa melihat wajah ayu nan anggun itu dari dekat. Benar-benar keindahan Tuhan yang tiada duanya. Ingin sekali menatap wajah itu berlama-lama.
“Ada apa mas, kok bengong,” tiba-tiba suara itu mengagetkan diriku.
Tersadar apa yang kulakukan didepannya, aku segera membenahi diri dan jiwa. Berusaha bertingkah normal. Aku masih menghargai dirinya. Tidak akan kutunjukkan pikiran hitam yang berulang kali mencoba masuk. Kucoba menepis bayang kelam itu.
“Gak ada apa-apa. Oh iya kenapa sendirian di sungai. Bisanya bareng Bi Sumi,” kataku.
Entah telah biasa, atau memang begitulah perangainya. Ia selalu mendahului dengan kerlingan di mata indah itu. Lagi-lagi aku dituntut untuk menahan diri dan tak bertingkah bodoh. Aku laki-laki terhormat, kataku dalam hati.
“Bi Sumi kebetulan lagi ke pasar. Terpaksa aku sendiri. Tapi bukankah ada Mas disini,” jawab Tini.
Lagi-lagi suara itu mengalun merdu menggoda jiwa. “Tidakkah sedetik saja kau hapus pesonamu,” seruku dalam hati. Serasa dipaksa untuk membuka tabir dunia di balik wajah ayu itu.
“Kau ini bisa saja. Lebih baik aku antar pulang. Tidak enak berdiri disini. Apalagi hanya berduaan,” kataku cepat.
Aku segera membalikkan badan. Tini tanpa bersuara mengikuti tubuhku. Kini kami telah berjalan bersama. Ia telah berada disisiku. Jalanan dengan bebatuan serasa lembut di kaki. Inilah pesona yang kudapatkan ketika berada didekatnya.
Aku dan Tini adalah teman lama. Dulu kami sering bermain bersama di masa kecil. Bercanda seolah tidak peduli dengan hubungan-hubungan aneh antar anak manusia. Kami bermain seolah-olah tak ada lagi hari esok. Berlari-lari di tepi sungai sambil mencari udang yang terperangkap di balik batu. Atau menggali belik-belik air untuk mendapatkan air jernih. Itulah dunia yang kujalani antara aku dan Tini dahulu.
Namun kehidupan tidak harus berujung suka. Aku harus pindah mengikuti orang tua. Kami terpisah lama. Dan bertahun-tahun tak saling bertemu. Aku tidak lagi mendengar kabar tentangnya. Apakah dia masih di desa atau telah merantau seperti anak muda lainnya?
Bertahun-tahun semua terjawab kemudian. Tini sekarang berbeda dengan dulu. Ia menjadi bahan omongan warga desa. Aku yang baru tiba kemarin, terketuk hati untuk segera melihat dirinya. Semua berlalu cepat hingga tidak sengaja kemarin aku berpapasan dengannya saat hendak ke sungai.
Semenjak pertemuan kilat itu. Pandangan itu menghantui malamku. Aku terjerat oleh pesona matanya. Keindahan itu seperti menari-menari di mimpiku. Hingga pagi hari, keinginan kuat mendorongku untuk kembali ke sungai. Ingin sekali menemui dirinya.
“Kapan mas kembali ke kota?” tanyanya sambil membetulkan gendongan di punggung.
Ia berjalan seiringan denganku. Padahal aku telah mencoba mempercepat langkah kaki. Namun tetap saja terasa lambat. Aneh, mengapa tiba-tiba lama sekali untuk menuju rumah.
“Rencana minggu depan. Setelah nenek membaik. Aku kembali ke kota,” jawabku seketika.
Dunia benar-benar terasa lambat. Tak kukira, Tini sanggup menabur waktu dengan pesona kecantikannya. Aku serasa bukan diriku lagi. Aku adalah laki-laki yang telah terpedaya olehnya. Namun aku suka itu. Aku tak berusaha menolak.
“Pasti Mas telah mendengar omongan orang-orang tentang diriku. Aku bukan wanita baik-baik. Aku adalah bunga beracun. Tidakkah kau merasa khawatir mati di tanganku,” katanya.
Tiba-tiba aku merasakan angin semilir berhembus menerpa tubuhku. Dingin merasuk melalui pori-pori kulit. Kalimat terakhir perkataannya membuatku terperajat. “Mati di tanganku,” kepalaku mengulang kata-kata itu. Aneh sekali aku seperti terhanyut dalam setiap kata-kata yang diucapkan Tini.
“Apa maksudmu? Kau ini aneh sekali, mana mungkin wanita cantik sepertimu bisa membunuh orang. Lengan gemulaimu saja tak sanggup menggenggam pedang. Apalagi menebas kepala,” kataku sembari melirik kearah lengan terbuka putih itu. Sangat gemulai dan anggun sekali.
“Mas ini bisa saja. Aku jadi tidak enak. Bisakah Mas membantu membawakan pakaianku. Pegal sekali rasanya,” pinta Tini.
Dengan sigap ia menyodorkan gendongannya kearahku. Aku segera menerimanya. Bau harum pakaian basah itu menusuk hidungku. Kini aku bisa melihat ia berjalan tegak.
Tini setinggi bahuku. Tepat di bawah leher. Rambut hitam itu masih dibiarkan terurai. Bercak-bercak air masih menempel disana. Lagi-lagi aku terbuai oleh keindahan dirinya. Tubuh sintal nan anggun memancing kembali pikiran hitam diotakku.
“Apa yang kupikirkan tentangnya?” kataku dalam hati. Aku mengutuk diriku yang tidak kuasa menahan diri melihat tubuh indah itu.
Sekali lagi aku tenggelam oleh pesona kecantikan alami itu. ‘Tini mengapa kau membuatku gelisah,” desahku lirih.
“Apa yang Mas dengar tentang aku dari para penduduk desa?” katanya.
Ia berjalan seirama dan lemah gemulai. Aku mengikuti dia disampingnya. Aku berpikir untuk menyusun kata-kata menjawab pertanyaan itu. Sangat indah, itulah kata pertama yang tertulis di kepalaku.
“Mas kenapa bengong. Tolong jawab pertanyaanku. Apa yang Mas tahu tentang Tini dari penduduk disini,” desaknya.
Ia tidak sabar menunggu jawaban yang entah mengapa susah sekali keluar dari mulut ini. Ada rasa iba yang menghalangiku untuk berkata-kata. Aku tidak ingin melihat wajah ayu itu tertunduk murung.
‘Aku bingung Tini. Mereka bilang kau adalah wanita penggoda. Selalu main mata dengan para lelaki. Namun aku jadi bertanya-tanya apakah kau benar-benar pernah menikah. Maksudku adakah laki-laki yang pernah menjadi suamimu. Karena setahuku kau tinggal dengan Bi Sumi. Hanya berdua dirumahmu itu,” jawabku dengan rasa penasaran.
Ia menoleh kearahku dan tersenyum. “Ingin sekali aku bercerita kepadamu. Seperti masa-masa kecil dulu. Kau selalu bermain dan tidak ragu untuk berada disisiku,” kata Tini.
Ia kembali mengalihkan pandangan. Matanya terpaku pada semak-semak yang tumbuh rapi di tepi jalan.
“Apa maksudmu? aku tak mengerti,” timpalku.
Aku mendengar desir angin yang berhembus menimpa dedaunan jatuh ke tanah. Aliran arus deras sungai sayup-sayup terdengar dari kejauhan dan mulai menghilang. Mataku menangkap seekor burung bertengger di dahan pohon. Suara mencericit keluar dari paruh mungil itu.
“Diriku penuh dengan kemalangan Mas,” kata Tini memulai ceritanya. “Aku tak lagi dianggap sebagai manusia oleh mereka. Mereka menganggapku hanya binatang jalang. Aku tampak tegar diluar dengan selalu menyunggingkan senyum kepalsuan, tetapi hatiku rapuh dan terkoyak. Aku menangis dalam hati mendengar penilaian mereka tentangku. Aku bukan manusia. Aku adalah binatang pembunuh,” lanjutnya.
Suara lembut itu telah beralih dengan dengusan dan isakan. Tini berubah seketika. Tidak ada lagi mata indah disana. Yang ada hanya sendu membaur dengan air mata yang hampir menetes. Kerlingan penjerat itu telah terganti oleh kedipan layu memelas sedih. Aku heran dengan perubahan pada dirinya.
“Mereka jahat Mas. Mereka benar-benar tega merobek hatiku. Suara-suara cemohan itu membuat desing bising di telingaku. Telinga ini hampir pecah. Itu semua karena mereka. Mereka jahaT,” tangis meledak dan kami terhenti di tepi jalan.
Aku menurunkan gendongan itu. Tubuhku mendekat kearahnya. Tak kusadarai tanganku telah menggenggam jemari lentiknya. Ia menangis di hadapanku.
“Tuhan apa yang harus kulakukan,” mohonku dalam hati.
Antara iba dan hasrat bercampur menjadi satu. Tak kupedulikan kegelisahan hitam yang meraung dikepalaku. Hatiku tergerak untuk menyandarkan kepalanya dibahuku.
Rambut indah itu kini terjuntai di tubuhku. Wangi tubuhnya tercium pekat. Aku mendengar isakannya semakin keras.
“Tenanglah. Tidak perlu cemas. Aku selalu ada disisimu,” seketika kata-kata mengalir keluar begitu saja.
Aku tidak lagi tenggelam dalam pesona kecantikannya, tetapi terbalut kesedihan hatinya. “Kau tidak seburuk yang mereka katakan,” kataku menenangkan hati.
Jemari Tini semakin erat menggenggam tanganku. Kini ia tak lagi bersandar tapi memeluk diriku. Aku terdiam melihat tingkahnya. Naluri, hasrat, dan perasaan saling bertarung di ragaku. Naluriku untuk melindungi dirinya dari kemalangan. Hasrat tersembunyi yang berusaha keluar liar. Perasaan ingin menyentuh hati yang sedang bersedih.
“Sudahlah Tini, tak perlu cemas. Kau jangan pedulikan kata mereka. Mereka tidak tahu dirimu seutuhnya. Mengapa tidak kau coba menjauh dari desa ini. Mungkin suasana baru membuatmu melupakan segala kenangan pahit di masa lalu,” ujarku. Aku membalas pelukannya. Sesungguhnya kebimbangan masih menyelimuti diriku.
“Tapi Mas, tak ada yang sudi menerimaku. Aku hanya benda mati tak bernyawa. Aku hanya penganggu. Sudah sejak lama ingin kuakhiri hidup ini. Namun Bi Sumi selalu membuatku tegar,” katanya disela-sela tangis yang perlahan mereda. Kini hanya terdengar isakan kecil tertahan dari mulutnya.
Tini mengangkat wajahnya dan memandangku. Mata kami saling bertemu. Percikan-percikan penuh makna tercermin di mata masing-masing. Aku saja yang merasakan hal itu. Apakah dia juga mengalami hal yang sama? Aku hanya bisa menduga-duga.
“Apakah Mas melihat diriku kotor?” suara parau keluar dari bibir itu. “Aku yakin Mas masih normal. Apakah Mas melihatku seperti yang mereka lihat tentang diriku, tentang tubuh ini, tentang mata ini?” ceracaunya disela serak tertahan dari bibir Tini.
Aku dibuat tidak mengerti oleh pertanyaan itu. Ingin sekali kujawab jujur, tetapi naluriku memberontak.
“Tini maafkan aku. Sungguh tidak ada maksud menilai rendah dirimu. Aku hanya ingin membantu memikul bebanmu. Adakah yang bisa kulakukan untuk meringankan penderitaan hatimu?” lagi-lagi kata-kata sumbang keluar dari mulutku.
Tini melepaskan diri dari tubuhku. Ditatapnya mataku lekat-lekat. “Mas bohong. Mas sama saja seperti mereka. Aku tahu dari suara degup jantungmu. Detakan penuh nafsu yang siap menerkam mangsa. Tidakkah itu yang kau rasakan? Jangan bohong padaku,” Tini berteriak. Mata itu tak lagi sendu, tak lagi penuh pesona, tapi menyala buas.
Kesedihan bercampur kemarahan kini menghinggapi tubuh ayu nan anggun itu. Rambutnya semakin terurai tak karuan. Tini seolah berubah untuk kedua kali. Ia tidak lagi sama ketika terdekap di pelukanku.
“Apa yang terjadi padamu?” kataku dalam hati.
“Apa yang kau katakan, Tini. Aku memang tak bisa jujur tentang dirimu. Aku bukan bohong kepadamu. Aku hanya bimbang melihat kau. Kau membingungkan penilaianku. Kau yang manis dan melenakan, kemudian berubah sekejap menjadi rapuh dengan tangis mengiris hati. Lalu tiba-tiba kau berdiri penuh kemarahan. Apa yang kau inginkan sebenarnya? Apakah kejujuran dari hatiku?” aku berseru dihadapannya.
Kuakui aku tak sanggup marah tentang sikapnya, tetapi kekesalan membuatku berteriak kearahnya.
“Jawab pertanyaanku Tini,” kataku lirih. Kuberanikan meraih jemari lentik itu.
“Mengapa kau bisa seperti ini. Jelaskan padaku. Ceritakan semua. Aku akan mendengarnya dengan baik. Seperti yang sering kita lakukan dulu. Percayalah padaku,” kembali aku bersuara lirih. Aku berusaha melemaskan jemari yang tampak kaku menegang oleh bara kemarahan.
Tini terdiam. Deburan napas yang keluar terdengar mendengus. Ia masih diliputi kemarahan. Perlahan ia merasakan sesuatu bergerak di tangannya. Ia menatap tanganku yang mencoba menenangkan tubuh ayu itu. Ia membalas dengan satu sentakan keras.
“Cukup jika Mas ingin mendengar penjelasanku, mengapa harus menungguku di tepi sungai. Mengapa harus melihatku ketika sedang mencuci? Mengapa menemuiku saat ku sendiri?” serunya.
“Tidakkah kau sama saja seperti laki-laki lain. Tidakkah kau sadar akan tatapanmu ketika menelusuri tubuhku di tepi sungai. Kau tak benar-benar ingin mendengar uraian hatiku,” ia kembali berteriak meski tertahan isakan.
“Baiklah aku mengakui yang kau tuduhkan. Aku memang berpikiran hitam tentangmu. Aku memiliki maksud lain dengan menemuimu. Aku jujur itu terjadi sejak aku bertemu denganmu kemarin,” timpalku seketika.
“Sekarang aku mengerti. Mengapa kau mudah berubah. Aku mulai mengenal dirimu. Tini yang kini berbeda dari kenanganku. Aku ingin mengenal Tini yang sekarang berdiri di hadapanku. Bisakah kesempatan itu diberikan kepadaku?” lanjutku sambil berusaha menata hati.
Aku memang salah dalam menghadapi wanita misterius didepanku. Ia bukan lagi gadis yang dulu ku kenal.
Sepi sunyi menghias diri kami yang berdiri terpatri. Perlahan perubahan terlihat di dirinya. Ia memperlihatkan mata indah itu sekali lagi. Senyuman kecil tersungging di bibirnya. Aku dibuat heran kali ini. Itu senyuman yang membuat terjerat. Mengapa bisa kembali tersungging untukku?
“Jika kau ingin sekali mengenal diriku. Ikutlah bersamaku,” lambaian tangannya menarik diriku untuk mengikuti dirinya.
Tini berbalik badan dan melanjutkan perjalanan. Tidak tampak lagi bekas air mata dipipinya. Tak tampak kemurungan yang sempat bersandar dibahuku. Tini seketika menjadi wanita pujaan yang ayu nan anggun.
Kecantikan itu kembali melenakan jiwaku. “Ada apa ini?” tanyaku dalam hati. Aku seperti hanyut dalam sebuah permainan. Aku terpana, kemudian merasa iba, lalu bersimbah salah, hingga kembali terpesona. Seperti duduk disebuah ayunan. Sesaat aku dibawah untuk meluncur keatas, tiba-tiba jatuh kembali.
Namun itu semua tidak mengurangi kekagumanku terhadap dirinya. Tini berjalan perlahan. Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Aku tidak lagi berdiri disisinya. Aku tercucuk untuk mengikuti elokan tubuh itu. Mataku seperti terbang menembus tubuh Tini.
“Mau kemana Tin,” tanyaku tiba-tiba. Aneh aku tak mengenali jalan yang kini kutempuh. Terasa asing dengan pepohonan tinggi dan besar-besar. Cahaya matahari tercetak disela-sela daun yang memayung. Suara burung semakin riang. Terdengar riuh ramai tak beraturan.
Tini masih saja diam. Berjalan tak menoleh seolah-olah kehadiranku hanya bayangan dirinya. Suara aneh mulai terdengar di atas pohon-pohon besar itu. Aku mendongakkan kepala. Tidak ada apapun disana. Hanya burung yang saling berloncatan antara satu dahan ke dahan lain.
“Tin, tunggu dulu. Kau mau ajak aku kemana?” kali ini aku sedikit berteriak.
Dia tetap tenang dan diam. Berjalan dengan mantap seperti tidak mendengar panggilanku. Anehnya, aku terus mengikuti Tini dari belakang. Rupanya keanehan ini telah hinggap ditubuhku. Tiba-tiba aku merasa dingin di telapak kaki. Aku tak lihat jalan tanah sebelumnya. Hanya ada batu=batu kecil tersusun rapi dan dibatasi dengan batu besar seukuran kepalan tangan.
Pohon-pohon besar itu tidak ada lagi. Hanya terlihat hamparan taman berumput dengan beberapa tanaman bunga. Jalanan ini membelah taman menuju bukit kecil di seberang sana. Terlihat cahaya matahari terpendar dari balik bukit.
Aku diliputi perasaan gelisah. Sesuatu tak biasa terjadi disini. Mataku tak henti-henti melihat sisi kiri dan kanan jalan. Tanaman mawar mendominasi taman ini. Ada beberapa bunga lainnya tapi tidak sebanyak mawar itu. Mawar itu sedang berbunga dan aromanya semerbak terbawa angin. Aku bisa menghirup wangi mawar itu.
Tiba-tiba aku terperajat ketika tak sadar telah berada di puncak bukit. Ternyata bukit itu hanya sebuah tepian jurang. Terdapat jurang dalam dibaliknya. Aku tidak bisa melihat ke dasar jurang itu. Gelap terselimut disana.
“Dimana ini? Aku tidak mengenal tempat ini?” gumamku seketika. Aku menoleh ke arah taman. Tidak kutemui sosok Tini yang tadi membawaku kemari.
“Tin.. Tini… Tini… dimana kau? Aku berteriak memanggilnya. Ku sapu seluruh taman itu dan tak ada satupun sosok lain selain diriku.
Aku mulai di rundung perasaan takut. Takut terjadi sesuatu pada Tini. Takut karena aku tak mengenal tempat ini. Aku tak melihat jalanan batu yang tadi kulewati. Benar-benar menghilang. Aku jelas tidak bisa pulang karena tak tahu arah. Ketakutan kembali meninggi.
“Mas ingin mengenalku,” sayup=sayup dari kejauhan terdengar suara lembut Tini memanggilku.
“Tini dimana kau?” aku berteriak.
“Jangan takut Mas. Aku akan memberimu kesempatan untuk mengenalku. Kau akan ada dihatiku. Seperti laki-laki lain yang berhasrat kepadaku,” suara itu terdengar dari segala penjuru. Dari depan, belakang, samping, seberang, hingga bawah jurang. Suara itu bergerak mengelilingi diriku.
“Mengapa harus takut. Tidakkah Mas suka dengan diriku. Lihatlah diseberang sana. Aku melambaikan tangan untukmu,” suara itu kembali merasuk kepalaku.
Sontak aku menoleh keseberang jurang. Samar-samar terlihat sosok wanita. “Kau disana Tini,” aku kembali berteriak. Ku usap berkali-kali mata untuk memastikan dia adalah Tini.
“Ya Mas, kemarilah. Aku ingin memeluk dirimu. Kita akan bersatu untuk memenuhi hasrat jiwa. Aku suka padamu,” suara disana terdengar jelas sekali.
Tidak ragu lagi, aku yakin dialah Tini. “Tunggu aku disana,” sahutku sambil berteriak.
Dengan hasrat bergelora aku meloncat melewati jurang. Angin berhembus kencang dari balik tubuhku. Aku merasa kepalaku berputar cepat. Lenganku tergantung tak beraturan. Aku melihat cahaya semakin meredup menjadi sebuah titik. Tidak terdengar lagi dengusan napas memacu hasrat.
“Tin… Tini… Tini…"


0 komentar:
Post a Comment