SEBUAH AFEKSI
Rambut panjang nan lembut berwarna amber senada dengan bola
matanya yang besar, kulit putih bersih bak porselen dan sebuah tas berisikan
gitar menemaninya sore itu.
Matanya menatapku tepat saat bola basket milikku
bergelinding ke arah kakinya yang jenjang, ia tersenyum saat aku masih
terkesiap akan kecantikannya yang rasanya tak akan pernah luntur sampai mati
pun.
“Milikmu?” katanya sambil menyerahkan bola berwarna oranye
cerah itu kepadaku. Ia lebih tinggi dariku saat itu, dan cengirannya memberikan
warna pada hariku.
Dan semenjak itu pula, bangku cokelat dibawah pohon apel
yang berada di taman kota menjadi tujuanku tiap pulang sekolah.
***
Tiap jam setengah empat sore tepat, akan terlihat seorang
gadis berambut panjang yang bersenandung kecil sembari menggerakkan sedikit
kepalanya mengikuti ritme lagu yang didengar melalui earphone.
Juga tiap jam setengah empat sore tepat, akan ada seorang
pemuda yang setia duduk di ayunan selama beberapa jam hanya untuk mengawasi
gerak-gerik gadis berambut amber itu. Ya, pemuda itu aku.
Hingga sore di hari kelima semenjak aku mulai mengamatinya,
ia tiba-tiba berjalan ke arahku dengan tas gitarnya lalu duduk di ayunan kosong
yang berada di sebelahku.
“Bagaimana kalau kita berteman?” kata-kata itu meluncur mulus dari bibir tipisnya, ia
mengulurkan tangan sembari tersenyum lebar, aku tertawa kikuk lalu menyambut
uluran tangannya.
Sore itu, kita resmi berteman.
Hari demi hari berlalu, jarak diantara kami seolah menipis.
Jika dulu hanya ada aku yang memperhatikan dirinya dari jauh, maka kini ada aku
yang berjalan di sebelahnya mendengarkan ceritanya tentang hari-hari beratnya
di sekolah musik dan berakhir dengan kami tertawa bersama sesampainya di taman
kota.
Bangku cokelat itu favoritku dan dia, tempat dimana kami
berbagi cerita juga sedih dan tawa, tempat dimana kami menghabiskan waktu
dengan menghitung buah apel yang hampir masak, tempat dimana kami bisa bermain
bersama.
***
Umurku sembilan belas tahun waktu itu, dan sang gadis
berambut amber itu sudah memasuki dua puluhan. Kami bertemu di bangku cokelat
yang tertutup daun-daun kering yang berguguran tertiup angin musim kemarau.
“Maaf,” dia tersenyum kecut, tanganku berada di
genggamannya, “Aku harus pergi.”
Aku menatapnya, tepat di matanya, kembali mengagumi betapa
indahnya warna amber yang kulihat saat ini. Aku tidak menangis, aku laki-laki,
aku tidak akan menangis, namun nyatanya tangan kurus miliknya bergerak di
pipiku, menghapus aliran air yang seketika jatuh dari mataku.
“…tanpamu aku bisa apa,” cicitku sambil menunduk, tidak
ingin ia melihat diriku yang hancur.
Suara tawa yang kudengar tiap sore itu memasuki telingaku,
“Bocah, kau pasti bisa!” dan tepukan lembut di kepalaku serta usapan kecil yang
ia berikan membuatku tenang kembali.
Dan sore berikutnya, tidak ada lagi sang gadis berambut
amber yang biasa kunanti tiap harinya, tidak ada lagi gadis dengan tas gitar
yang bercerita tentang guru botak yang memarahinya setiap hari karena ia selalu
lupa kunci, tidak ada lagi teman yang bisa kuajak berbagi senyum dan tangis,
tidak ada lagi sahabat yang selalu menunjukkan tingkah konyol tiap aku sedih
agar senyumku kembali, tidak ada lagi gadis berambut amber sang genius gitar
yang menjadi cinta pertamaku.
***
Hingga aku mulai beranjak dewasa, tidak pernah kulewatkan
satu hari pun untuk tidak datang ke taman tempat dimana banyak kenangan indah
terjalin di sana, bangku cokelat yang terbuat dari jati pun masih kokoh berdiri
dan setia menjadi saksi bisu kunjunganku.
Umurku dua puluh tiga saat ini, tumbuh dengan baik dan
merasa beruntung karena mendapat pekerjaan yang dapat mencukupi kehidupan
sehari-hariku.
Waktu terus berjalan, tahun pun tetap berganti namun
pikiranku seringkali melayang keempat tahun lalu disaat gadis berambut amber
yang selalu mencuri atensiku pergi begitu saja.
Rindu? Sudah pasti.
Namun kali ini aku berusaha untuk berpikir secara logis,
kala itu aku masih muda, mana mungkin mengerti banyak soal cinta, ibuku sendiri
berkata kalau itu hanya cinta monyet, cinta jadi-jadian, cinta palsu.
“Hei, bocah, apa kabar?”
Semenjak gadis itu pergi, aku sering berkhayal,
berhalusinasi seolah gadis amber itu ada di hadapanku. Seperti saat ini. Namun
ada yang aneh, aku yakin aku sudah berulang kali mengerjapkan mataku namun
bayangan gadis itu tetap bertahan.
“Wah, kau sudah besar,” mata gadis itu masih amber, yang
berubah hanya warna rambut yang terlihat lebih gelap dibanding empat tahun
lalu. “kau pasti masih sering bermain basket, tinggimu bahkan sudah
mengalahkanku.”
Aku masih terdiam, saat gadis itu tersenyum pun mataku masih
termangu menatapnya. “Aku asli kok.” Senyuman di wajah gadis itu melebar, dan
aku tahu benar kalau hatiku sudah jatuh untuk kedua kalinya pada orang yang
sama.
***
Gadis itu menyukai astrologi, segala hal berbau kebumian dan
segala teori tentang tata surya adalah favoritnya. Karena itu aku selalu fokus
belajar tiap Pak Heru—guru fisikaku saat SMA dulu —menerangkan bab astronomi di
kelas.
Mulai dari perbincangan tentang konstelasi bintang sampai
omongan soal Betelgeuse yang lebih besar dari matahari membuat malam itu terasa
hangat.
“Itu Venus, bukan?” gadis itu menunjuk ke arah cahaya di
langit yang bersinar lebih terang diantara yang lain, aku tertawa sebentar
sebelum menjawab, “Bukan. Itu kejora.”
Tawa gadis itu adalah kesukaanku, karena itu aku akan
lakukan banyak cara untuk membuatnya tertawa lebih sering. “Sama saja, pintar!”
tawanya menenangkan, wajahnya yang berseri juga sudah bisa membuatku tenang.
“Eum,” aku bergumam kecil, kembali berpikir apa saat ini
adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaanku. “Aku—” suaraku tercekat,
tertahan di tenggorokan dan itu menyiksa, menyukaimu, lanjutku dalam hati.
Kepalaku menunduk saat bola mata seindah langit senja itu menatapku dengan
hangat, “Ya? Kau kenapa?” suaranya bagai zat adiktif yang membuatku ingin terus
mendengarnya bicara mulai dari pagi hari sampai malam menjelang.
Aku menelan salivaku lambat, lidahku kelu, tak ada kata yang
bisa kukeluarkan saat ini. Gadis itu tiba-tiba mengikik pelan, “Aku boleh
bertanya?” aku menatap gadis itu bingung namun aku tetap mengangguk.
Jemari lentik gadis itu bergerak menyisir rambutnya yang
berwarna cokelat tua, “Apa kau pernah jatuh cinta?” tanyanya, ada senyuman
simpul yang tersungging setelah ia menanyakan hal tadi.
“Pernah.” Aku menjawab dengan pasti, meminum cokelat hangat
yang disediakan dengan rakus karena aku mulai grogi dengan suasana canggung
seperti ini.
Gadis itu menatap langit yang penuh gugusan bintang dan
bulan sabit ikut meramaikan pemandangan malam ini, “Jatuh cinta itu,” ia
kembali mengalihkan pandangannya kearahku. “indah ‘kan?”
Aku tidak menjawab, mataku masih menatap mata ambernya penuh
dengan afeksi yang tidak bisa dijelaskan oleh kata. Ia berumur dua puluh lima
tahun, tapi wajahnya masih terlihat seperti anak baru lulus SMA, masih sebersih
saat pertama kali aku bertemu dengannya, tidak ada bercak noda nakal atau bekas
jerawat yang menganggu. Gadis itu manis.
“Ya—”
“Dan kau tahu bagaimana rasanya dilamar dengan sebuket bunga
baby’s breath putih? Itu jauh lebih indah!” ia memotong ucapanku, dan suaranya
pun berubah menjadi sangat riang.
Aku menggeleng, jelas aku tidak tahu bagaimana rasanya
dilamar karena aku laki-laki. “Kau harus datang ke acara pernikahanku empat
bulan lagi, aku akan berdandan secantik mungkin karena itu kau harus
melihatku!” ujarnya penuh semangat, wajahnya begitu sumringah hingga rasanya
tidak mungkin untuk tidak tersenyum di hadapannya.
“Wah, selamat, aku turut bahagia.” Aku mengacak surai
cokelatnya yang lembut, terus tersenyum dan berusaha menyembunyikan segala
perasaanku yang sudah bercampur aduk.
Aku tidak tahu mana yang lebih pedih, ditinggal pergi
selamanya oleh gadis itu atau gadis amber yang kusukai kembali muncul di
hadapanku bersama calon suaminya yang jelas jauh lebih baik jika dibandingkan
denganku. Yang pasti yang bisa kulakukan sekarang hanyalah tersenyum.
Karena aku mencintai gadis itu, maka bahagianya juga
termasuk bahagiaku.
fin


0 komentar:
Post a Comment