QUEER (CAP OF TOOTH PASTE)
Salma pulang ke rumah dengan terengah-engah. Dia baru saja dari bioskop bersama teman-temannya. Dia tahu dia bolos sekolah saat jam kedua demi menonton film horor baru yang sudah ia nantikan bersama Peri, dan Rina. Selepas menonton film tersebut. Entah kenapa. Salma merasa aneh. Mungkin adegan-adegan di film horor itu sangat ‘disturbing’ dan membekas di setiap sel-sel otaknya. Salma lalu melepas sepatunya kemudian kaos kakinya dan melemparkan tasnya ke atas tempat tidurnya dengan kasar. Kaki putih mulusnya melangkah menuruni tangga dan menuju ke dapur.
“Salma. Ibu pergi dulu ke rumah Tante Gita. Mungkin Ibu pulangnya sekitaran jam 8 malam. Makan malam ada di dalam kulkas. Tinggal kamu panaskan di Microwave. Hati-hati sementara waktu ya. Mama,” Salma menemukan memo itu di atas meja makan. Lalu dengan malas, ia membuka lemari es. Ia melihat ada beberapa box khusus makanan yang tertutup rapat. Isinya ada sup, pasta berbumbu, daging panggang. Semua lengkap sesuai kesukaan Salma. Pukul 6.35. Salma melamun di atas kursi di ruang keluarga. Padahal di depan matanya televisi menyala. Sepertinya ia masih memikirkan adegan-adegan di film horor yang tadi siang ia tonton bersama teman-temannya.
PRAK!
Suara piring terjatuh terdengar dari arah dapur mengagetkan Salma. “Apaan sih?” Salma mendengus. Perasaan takutnya kian menumpuk. Ia lalu bangkit dari atas kursi dan menuju dapur dengan langkah berat. “Chima! Dasar kucing nakal!” gerutu Salma kala melihat Chima kucing betina miliknya yang ternyata menjatuhkan piring bekas ia pergunakan makan tadi. Salma pun bernapas dengan lega. Ternyata kucing yang menjatuhkan piring.
Selepas membersihkan pecahan piring. Salma lalu mencuci tangannya di wastafel. Kemudian ia langkahkan kaki ke dalam kamar mandi. Tangan mungilnya membuka tutup pasta gigi lalu mengeluarkan isinya ke atas bulu bulu sikat gigi miliknya yang serba pink. Ia lalu menyernyihkan mulut kecilnya itu sehingga tampak gigi gigi putih dan rapinya terpantul di cermin bersama bayangan dirinya. Ia oleskan sikat gigi berisi pasta mint itu ke seluruh bagian giginya dengan perlahan dan gerakan membulat, kadang abstrak dan tak teratur. Setelah dirasa cukup Salma lalu memuntahkan sisa sisa busa di dalam mulutnya. Kemudian segera ia berkumur dengan cairan khusus kumur-kumur.
HAAHHH! Dengan pede nya Salma menghembuskan napas segarnya. Tiba-tiba, ia teringat satu adegan di film horor itu. Dimana saat tokoh utama sedang berkaca di toilet tokoh itu diganggu oleh sosok hantu berwajah pucat dengan rambut terurai hitam dan acak-acakan lalu hendak mencekiknya. Salma mengibaskan tangannya sehingga tanpa tersadar Salma menjatuhkan sikat gigi dan tutup pasta giginya ke lantai. Dengan sigap ia mengambil sikat gigi itu dan langsung berlari ke luar. Namun…
“Aaaa….” Kakinya menginjak tutup pasta gigi yang belum sempat ia ambil. Tubuhnya tergelincir kemudian terjatuh dengan kasar. Darah ke luar dari lubang hidungnya dengan cukup deras. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan ngilu. Ia paksakan untuk berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Tangan kanannya meraih tutup pasta gigi yang menyebabkan ia terjatuh. Dengan geram ia lemparkan benda kecil itu ke arah cermin.
PRAK!
“Aa….” naas sekali. Seperti di dalam game. Tutup pasta gigi yang ujung-ujungnya bergerigi itu memantul tepat ke arah mata kiri Salma. Darah segar kembali mengalir kali ini lewat mata kirinya. Tangannya membekap mata kirinya itu. Salma menjerti kesakitan. “Aaaww… Mama!” teriak Salma menjerit kesakitan.
SRETTT!
BLUKK!
Salma tergelincir karena kembali menginjak tutup pasta gigi itu. Tubuhnya pun menghantam lantai. Sebelum terjatuh, tangannya sempat menarik gantungan besi. Sehingga gantungan itu ikut ambruk dan menimpa leher Salma. Tangan salma bergerak gerak lemah. Kakinya pun demikian.
“Mama pulang. Salma!” teriak Ibu Salma. Ia meletakkan tas lengannya di atas meja di ruang keluarga.
“TV nyala. Tapi Salmanya ke mana?” Ibunya pun menaiki tangga menuju kamar Salma.
“Nggak ada,” sahutnya. Kemudian langkahnya membawanya ke arah dapur.
“Toiletnya kok kebuka,” gumamnya. Saat Ibunya hendak menutup pintu toilet.
“Salmaa…. Ya Tuhan! Salmaa….” Ibu berteriak histeris kala melihat putri sulungnya itu tergeletak lemah tak bernyawa bersimbah darah. Tubuhnya bergemetar ketika memeluk raga anaknya yang sudah tak bernyawa. Ditambah, ia sangat terkejut saat melihat sebuah goresan tulisan di cermin berwarna merah darah.
“Jangan hiraukan dan remehkan benda sekecil apa pun. Aku peringatkan,”
“Jangan pernah!”
“Jangan!!!”


0 komentar:
Post a Comment