LUKISAN API NIESTRE
Malam
berselimut asap pekat di sebuah kota. Suara bising mesin-mesin kendaraan
berlalu-lalang, Gemerlap cahaya warna-warni lampu kota telah membutakan
penduduk yang berdesakan tinggal di dalamnya. Angin malam menyerbak, membekukan
hingga ke rongga-rongga tulang, seakan meneror penduduknya untuk tetap terjaga
dalam realita, seakan meneror penduduknya takluk dalam mimpi-mimpi tiada akhir.
Sementara gedung-gedung korporasi berdiri angkuh melawan alam, di langit kota
turun perlahan tiga makhluk yang berjubah sehitam malam, berkepala ular. Mereka
bukan manusia, mereka makhluk yang diutus para dewa untuk menjadi saksi sebuah
peristiwa malam ini. Mereka melayang dari langit ke bumi sambil menembangkan
syair
Kini Ahasveros mewabah di atas bumi
Petualang yang tak pernah tahu jalan kembali
Demi mencari arti diri, terbang hingga ke arsy
Harus berakhir hangus, terbakar matahari!
Di sudut kota itu terdapat sebuah bukit, puncaknya tertutup oleh rimbunan
hutan, seakan terpisah dari peradaban kota di bawahnya. Di Balik rimbunan hutan
itulah sebuah rumah kayu sederhana berdiri muram, didiami seorang lelaki tua
yang tak kalah muram. Wajahnya layu, pakaiannya kumal tak terurus dinodai
sisa-sisa cat. Lelaki tua itu terus melukis pada sebuah kanvas, ditemani
ratusan lukisan hasil karyanya yang dipajang memenuhi dinding-dinding rumah.
Lukisan-lukisan itu dipenuhi debu namun masih memancarkan berbagai pemandangan
dan peristiwa di dalamnya. Lukisan-lukisan dengan detail yang sangat cermat.
Begitu hidup dan nyata. Namun, lukisan-lukisan itu kini hanya mampu memandang
cemas pada lelaki tua yang telah menciptakannya. Bagaimana tidak cemas? Sudah
beratus-ratus tahun sejak lelaki tua itu mengunci diri dalam gubuk kayunya,
berfokus pada satu lukisan yang kini tengah dilukisnya. Sebuah lukisan yang
menggambarkan kobaran api yang menyala-nyala seakan mampu menghangatkan seisi
ruangan. Sambil terus melukis sesekali mulutnya bergumam pelan “Siapa aku?”.
Niestre nama lelaki tua itu.
Zaman dahulu ketika malam masih berselimut kabut tebal di sebuah desa yang
begitu terpencil. Jauh dari suara bising mesin-mesin kendaraan, Jauh dari
cahaya warna-warni lampu kota, angin malam masih menyerbak, menembus sela-sela
rumah kayu yang dibangun seadanya, seakan membujuk penduduk untuk tidur lelap
dalam rumah gubuknya yang sederhana, seakan membujuk penduduk untuk hanyut
dalam mimpi-mimpinya yang sederhana. Di desa itulah Niestre dilahirkan. Sejak
baru dilahirkan telah ia tunjukan sebuah mukjizat layaknya seorang nabi. Ketika
tabib mengangkat tubuh bayi mungilnya dari rahim ibunya dan menimangnya, ia
tidak menangis seperti bayi kebanyakan. Justru telunjuk tangannya
bergerak-gerak melukis sesuatu dari darah bekas persalinan, Niestre lukis
bunga-bunga padma di tangan si tabib sebagai tanda terima kasih, Tabib itu takjub
keheranan. Namun si bayi kecil Niestre hanya membalas keheranan itu dengan
tersenyum manis. Kabar pun tersiar ke seluruh desa, tentang bayi ajaib yang
mampu melukis ketika baru saja dilahirkan, desa kecil itu kemudian geger hingga
kabar itu menjadi topik yang ramai dibicarakan dimana-mana.
Waktu pun berlalu Seiring bertambahnya usia, kemampuan melukis Niestre semakin
bertambah. Kabar tentang si bayi ajaib tidak juga surut, justru setiap hari
Niestre mendatangkan keajaiban-keajaiban baru bersama lukisannya. Bahkan bagi
mereka yang tidak mengerti tentang lukisan pun dapat melihat bahwa
lukisan-lukisan Niestre begitu hidup, Lukisan-lukisan Niestre bukan hanya indah
tapi mampu mendatangkan perasaan ajaib dan magis bagi penikmatnya. Berbagai
cerita ajaib muncul dari Niestre dan lukisannya. Sewaktu remaja Niestre yang
sedang asik jalan-jalan di sore yang cerah bertemu dengan Orpheus, yang sedang
duduk di sebuah batu di padang rumput, memainkan lagu duka cita atas hilangnya
istrinya, nada-nada yang dimainkan dari harpanya begitu memilukan menusuk dada,
sambil memetik senar harpanya ia tembangkan syair-syair berisi ratapan karena
kehilangan Euridice. Kesedihan Orpheus karena tak mampu menyelamatkan Euridice
dari kematian seakan mengubah cuaca cerah sore itu menjadi gelap dan mendung.
Niestre yang merasa kasihan pada sang dewa musik membuatkannya sebuah lukisan
Euridice dan memberikannya pada orpheus. Orpheus begitu gembira melihat lukisan
Euridice yang bukan saja mirip namun melihat lukisan itu Orpheus merasa seperti
bertemu Euridice secara utuh kembali. Ia peluk erat lukisan Euridice, cinta
sejatinya telah kembali hidup dalam sebuah kanvas. Ia berterima kasih
sebanyak-banyaknya pada Niestre. Ia tinggalkan harpa di padang rumput, sambil
membawa pulang lukisan Euridice ke rumahnya. Orpheus pun menjalani hidup dengan
bahagia.
Selain menyelamatkan Orpheus dari duka citanya, Niestre bersama lukisannya
bahkan mampu menyelamatkan kehidupan sebuah desa. Konon suatu ketika, di ujung
timur negeri ini terdapat sebuah desa yang sangat miskin. Desa Kwor namanya,
seringkali desa ini tertimpa bencana hingga menimbulkan wabah kelaparan yang
sangat parah. Bayi-bayi busung lapar, orang dewasa kurus tak bertenaga,
sawah-sawah kering tak terurus, dalam kondisi yang begitu mengkhawatirkan itu
para pemimpin desa malah lari tunggang-langgang enggan bertanggung jawab pada
nasib penduduknya, maka datanglah Niestre ke sana, sesampainya di Desa Kwor
Niestre langsung mulai melukis berbagai macam buah-buahan lezat dan berbagai
hidangan makanan di sebuah kanvas setinggi dua tubuh manusia dan di pajangnya
di depan balai desa. Seketika bayi-bayi lapar yang melihat lukisan itu berhenti
menangis seakan baru saja diberi asi, begitu juga orang-orang dewasa yang
menatap lukisan itu, mereka seketika kenyang dan bertenaga, lalu ramai-ramai
bangkit dari rasa laparnya dan berbondong-bondong mengolah sawahnya lagi. Walau
bencana kembali datang, namun setiap melihat lukisan Niestre di balai desa,
penduduk desa kwor menjadi semakin kuat dan tangguh. Tidak lama kemudian desa
tersebut menjadi makmur bahkan menjadi salah satu desa termakmur di Negeri ini.
Namun kini segala kisah-kisah heroik Niestre telah jauh berlalu, kini Niestre
hanya pelukis tua muram dalam gubuk kayu muram yang tenggelam dalam satu
lukisan. Lukisan-lukisan masa lalunya kini menderita melihat sang pencipta yang
tak lagi menyala seperti dulu. Sesekali Nistre menatap lukisan-lukisannya yang
lain sambil bertanya pada mereka “Siapa aku?”, Lukisan-lukisan itu berusaha
menjawab pertanyaan Niestre, namun Niestre tidak pernah mampu mendengar
suara-suara itu, Niestre hanya mendengar keheningan. “kalian semua telah
kucipta namun tidak juga mampu menjawab siapa aku”. Putus asa karena tak pernah
mendengar jawaban dari lukisan-lukisan itu ia kembali melanjutkan lukisan yang
nampak seperti kobaran api yang terus dibuatnya semakin detail, lebih hidup,
tambah menyala. Seiring pudarnya kisah-kisah Niestre yang tenggelam dimakan
waktu, seiring meredupnya cahaya kemanusiaan dalam tubuhnya. Seiring turunnya
tiga mahluk berjubah hitam berkepala ular di atas rumah kayunya. Namun Niestre
tidak juga mendengar suara-suara lukisannya yang menembangkan syair
Kini Ahasveros mewabah di atas bumi
Petualang yang tak pernah tahu jalan kembali
Demi mencari arti diri, terbang hingga ke arsy
Harus berakhir hangus, terbakar matahari!
Kabar Niestre yang telah menyelamatkan desa kwor dengan lukisannya tersebar ke
seluruh penjuru bumi, sepulangnya dari Desa Kwor berbagai sanjungan dan pujian
menyambut Niestre di desa kelahirannya. Orang-orang desanya turut bangga dengan
apa yang Niestre lakukan pada Desa Kwor. Ia dinyatakan sebagai pahlawan.
Niestre yang hanya pemuda sederhana kini disanjung seluruh kota. Kepulangan ke
desanya disambut dengan syukuran di balai desa. Setiap sore anak-anak kecil
meneriakan nama Niestre seperti pahlawan saat mereka sedang asyik bermain di
lapangan, ibu-ibu mendongengkan anak-anaknya sebelum tidur dengan kisah Niestre
yang menyelamatkan Desa Kwor seperti musa yang menyelamatkan kaum Yahudi dari
Firaun. Bapak-bapak mulai mendiskusikan kemungkinan Niestre menjadi demang desa
pada saat mereka kumpul-kumpul di sore hari, dan yang lebih membuat kalut
adalah ketika perempuan-perempuan desa mulai cari-cari perhatian saat melihat
Niestre jalan-jalan santai di sore hari.
Hingga di suatu senja pintu gubuk kayu Niestre diketuk seseorang, begitu pintu
itu dibuka terlihatlah seorang perempuan muda dengan rambut hitam terurai lurus
sepunggung dengan warna kulit coklat kemerahan di ambang pintu rumah. Mata
perempuan itu berbentuk almond dengan garis wajah oval, ia sunggingkan senyum
anggun namun menggoda dari bibirnya yang kemerahan, penuh, dan sensual “namaku
Empousa, senang bisa bertemu dengan anda”, Niestre yang tidak biasa kedatangan
tamu begitu gugup dan hanya senyum seadanya kedatangan tamu perempuan sore-sore
seperti ini. “Ya, ada apa?”. Jelas mata tajam dan senyum sensual Empousa telah
membius logika Niestre hingga hanya bisa berkata ada apa. “tidak ada, hanya
ingin tahu bagaimana kediaman seorang pelukis sekaligus pahlawan yang
dielu-elukan semua orang”. Jawabnya dengan nada datar namun sopan. Niestre
kehilangan logika untuk melontarkan pertanyaan, Niestre hanya menjawab “Ya,
beginilah, sama saja seperti orang-orang lain”. Empousa mulai masuk ruangan
sebelum dipersilakan, melewati Niestre yang hanya diam mematung dengan segudang
tanda tanya di kepala, ia pandangi sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh
lukisan-lukisan. “Kau terlalu merendah Niestre, dinding rumah orang pada
umumnya tidak dipenuhi oleh lukisan-lukisan luar biasa seperti ini” mata
perempuan itu mengerling pada Niestre dan tubuhnya gemulai seperti menari
ketika ia berjalan mengagumi satu-persatu lukisan Niestre. Niestre seakan
terhipnotis oleh setiap langkah perempuan itu. Di akhir langkah gemulainya, perempuan
itu menatap nakal mata Niestre, kilau impulsif terpancar dari sana, ia berkata
“Lukisan-lukisan yang luar biasa, coba ceritakan padaku maksud dan arti setiap
lukisan-lukisanmu”
Maka sejak itu setiap matahari hampir terbenam Empousa mengunjungi rumah kayu
Niestre di puncak bukit, saling bercerita tentang arti dan makna setiap
lukisan-lukisan Niestre. Lukisan-lukisan Niestre sangat banyak dan tak
terhitung jumlahnya. Tak akan pernah habis untuk diceritakan satu-persatu.
Pertemuan demi pertemuan terus terjadi, membuat mereka semakin dekat, dan
kehilangan batas. Terkadang bila malam terlalu dingin mereka berdua malah lupa
bercerita tentang makna lukisan dan asik bercinta sepanjang malam. Semua
kedekatan mereka terhenti ketika sebuah pertanyaan terlontar dari Empousa
“sudah banyak kau ceritakan makna lukisanmu, namun tidak adakah dari
lukisan-lukisanmu yang mencurahkan hati dan perasaanmu sendiri? kau hanya sibuk
melukis karena orang lain atau karena mengagumi suatu hal”, “Perasaan sendiri?
untuk apa?”. Empousa menjawab tenang. “ya ini semua tentang dirimu, ini
kehidupanmu, kau berhak tahu siapa dirimu, sampai kapan kau hanya mengagumi
orang-orang lain, benda-benda lain, kau punya anugerah yang luar biasa,
gunakanlah, lukislah dirimu sendiri agar aku bisa mengenal siapa kamu?”. “Siapa
aku?” pikiran Niestre benar-benar kacau mendengar pertanyaan itu, pertanyaan
yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. “ya kau adalah manusia yang luar
biasa, mudah saja bukan untuk melukis tentang dirimu.” Niestre diam, pikirannya
jauh menerawang, “Aku akan datang saat kau telah mengetahui arti dirimu”
“Tunggu sebentar! aku tahu siapa aku, akan aku lukis sekarang juga”, Niestre
bangkit mengambil kanvas, kuas, serta cat, segera membuat sketsa dari
pikirannya. Tidak sampai 15 menit lukisan itu sudah jadi. “inilah aku” katanya
sambil menyerahkan sebuah lukisan bunga padma pada Empousa, bunga padma yang
sama yang pernah ia lukis sewaktu baru dilahirkan. Hanya saja kali ini dengan
penggambaran yang lebih detail dan hidup. Bunga padma itu berwarna kuning,
dengan kilau ceria di atas sebuah kolam yang jernih. Seperti biasanya lukisan
Niestre begitu hidup. Riakan kolam yang lembut dalam sebuah kanvas seakan
menceritakan suatu ketenangan, bunga padma yang berkilau seakan menceritakan sebuah
kebahagiaan. Kebahagiaan dan ketenangan, titik spiritualitas tertinggi seorang
manusia. Menerima lukisan itu Empousa hanya mengulum bibir Niestre dan berkata
“kau lebih dari itu Niestre, lihatlah lagi ke dalam dirimu dan kau akan tahu
siapa dirimu. Aku dapat melihatnya, dirimu sesungguhnya bukanlah bunga padma
yang kau lukis ini”. Empousa pergi, meninggalkan Niestre dalam labirin tanya
siapa aku.
Sejak itu Niestre mulai mencari jati dirinya, ia tenggelam dalam sebuah tanya
di kepalanya, tanpa pernah mendengar suara dari lukisan-lukisannya yang
tergantung di dinding rumah kayunya, yang berada di tangan Orpheus, yang ada di
Desa Kworr. Semua lukisannya jelas telah mengetahui jawabannya. Namun
suara-suara mereka semua berbeda dan hanya menghasilkan keheningan di telinga
Niestre. Niestre ambil kanvas dan kuas sebagai senjatanya untuk menaklukan
misteri terbesar semestanya, akan ia lukis siapapun manusia yang menciptakan
bayangan dari cahaya api di hadapannya. Kemudian waktu pun bergulir desa
berubah menjadi kota, pahlawan-pahlawan super bermunculan, Iron Man, Batman,
saras 008, menyingkirkan nama Niestre yang hanya sekedar pahlawan di benak
anak-anak yang kini tak lagi bermain di lapangan, Ibu-ibu sudah tidak lagi
mendongengkan anak-anaknya, harga sembako membumbung tinggi, setiap malam
mereka menakar-nakar kebutuhan beras untuk esok pagi. Bapak-bapak tidak lagi
punya waktu kumpul membicarakan desa, kini mereka dihantui sistem kompetisi
kota, mereka kerja pagi-malam demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kisah-kisah
Niestre tersingkir dari peredaran zaman.
Tiga mahluk berjubah hitam berkepala ular telah sampai di depan gubuk kayu
Niestre. Begitu mereka menginjakan kaki di atas bumi dalam sekejap lukisan api
niestre berubah menjadi api sesungguhnya. Bukan sekedar hidup sebagai obyek
lukisan, tapi benar-benar telah menjadi api seutuhnya. Lukisan api itu kini
bukan hanya mengubah persepsi, namun telah melampaui batas-batas fisiknya
sebagai lukisan. Api dalam lukisan Niestre menjalar ke luar dari kanvas.
membakar tangan Niestre yang sedang melukisnya. Niestre terkejut, ia kibaskan
tangannya yang terbakar api, namun api dalam lukisan itu tiba-tiba saja meledak
mementalkan tubuhnya, Niestre jatuh terkulai lemas, sebelum otaknya mampu
bertanya apa yang terjadi, lukisan itu telah membakar seluruh rumah kayu dan
lukisan-lukisan Niestre yang lainnya. Api dari lukisan berkobar semakin besar,
membakar apapun di sekeliling Niestre, Api itu mengitari Niestre, menjalar
mendekatinya dari berbagai arah, kemudian membakar tubuh Niestre. Dalam kobaran
api yang menyala-nyala membakar dirinya, Niestre dapat melihat tiga mahluk
berjubah hitam membahana menembangkan syair. Dalam kobaran api yang
menyala-nyala membakar dirinya, Niestre dapat mendengar suara-suara dari
lukisannya yang terbakar. membahana menembangkan syair
Kini Ahasveros mewabah di atas bumi
Petualang yang tak pernah tahu jalan kembali
Demi mencari arti diri, terbang hingga ke arsy
Harus berakhir hangus, terbakar matahari!
Api dari lukisan terus membakar apapun. Semakin besar tak terkendali. Bahkan
api dari lukisan telah membakar lukisan itu sendiri, membakar dirinya sendiri.
Saat itu dari kobaran api munculah Empousa di hadapan Niestre. Empousa masih
sama seperti ratusan tahun lalu saat Niestre pertama kali melihatnya di ambang
pintu. Seorang perempuan muda dengan rambut hitam lurus terurai sepunggung
dengan warna kulit coklat kemerahan, mata berbentuk almond dengan garis wajah
oval, dan bibirnya yang kemerahan. Namun ada yang sedikit berbeda. Di atas
kepalanya terdapat sebuah tonjolan yang mirip sekali dengan tanduk “Sesuai
janji aku datang padamu saat telah kau lukiskan siapa dirimu sebenarnya. Kaulah
manusia, makhluk penuh ambisi yang merusak dan membakar kehidupannya sendiri”.
Empousa tertawa melengking, suara tawanya terus meninggi memekakkan telinga,
kemudian seperti tertiup angin suara tawanya menghilang seiring hilang kembali
dirinya. Lukisan api telah terbakar habis menjadi arang, lukisan yang Niestre
ciptakan selama ratusan tahun kini tak jauh berbeda dengan kertas putih yang
terbakar. Menyaksikan tragedi di bawahnya langit hitam mulai menangis,
menurunkan hujannya. Air hujan yang jatuh ke bumi seperti membelai api yang
bergolak, kemudian menggelayut manja dan padam. Tinggal asap yang tersisa
ditinggal api yang kemudian hilang ditelanjangi angin. Maka selesailah sudah
seluruh sandiwara.
Tangan Niestre telah menjadi arang, hanya sedikit sisa-sisa darahnya yang belum
habis diuapkan api, namun kesadarannya belum hilang. Kini ia merasa asing
setelah perjalanannya mencari arti diri yang begitu panjang. Kepulangannya kini
tak lagi disambut seperti kepulangannya dari Desa Kwor. Di ujung hayatnya
Niestre melihat dari atas bukit, desa kelahirannya telah menjadi kota,
pohon-pohon telah berubah menjadi gedung-gedung tinggi, Niestre berada dalam
realita yang sudah tak dikenalnya lagi. Niestre telah menjadi makhluk purbakala
dan mati tanpa jejak. Tidak! Ia tidak mau mati di atas tanah yang tak
dikenalnya. Ia kini begitu rindu pada kampung halamannya. Pada pohon-pohon yang
melambai diterpa angin. Pada kabut yang sejuk membelai mimpi-mimpi. Pada senyum
tulus dari penduduknya yang sederhana. Maka, bertinta hitam arang dan merah
darah, ia buat sebuah lukisan terakhirnya di atas tanah. Dengan sisa
keajaibannya ia buat sebuah lukisan yang menggambarkan desa kelahirannya.
Padang rumput hijau membentang luas, dengan empat sungai yang mengalir membelah
bukit, ditumbuhi pohon-pohon apel besar nan meneduhkan. Di atas lukisan itulah
Niestre menghembuskan nafas terakhirnya. Di atas sebuah lukisan tentang desa
yang permai dan sederhana yang di zaman ini orang-orang mengenalnya sebagai
Taman Eden.


0 komentar:
Post a Comment