GETAH HIDUP
Takdirmu jelas bukan takdirku. Takdirku hanyalah kesunyian diriku
yang tak ada satu pun orang mengetahuinya. Mungkin ada beberapa orang yang bisa
merasakan indahnya dunia ini namun Kehidupanku tak kunjung membaik, hari-
hariku biasa saja. Orang-orang melihatku sebagai makhluk yang tak berjiwa, ku
hanya dibuang dan diabaikan dalam dunia nyata. Mungkin akulah satu-satunya
orang yang mempercayai bahwa suatu saat nanti pasti kita akan merasakan getah
dari kehidupan ini. Semua kebaikan pasti berdampingan dengan keburukan yang
menghampiri setiap individu. Hidupku ini membawaku sebuah pendapat bahwa setiap
orang yang hidup memiliki pengikutnya yang beragam dan merekalah yang
menentukan seberapa beruntunglah orang tersebut atau seberapa sial orang
tersebut.
Aku pernah melihat seorang temanku diikuti oleh sosok besar sekali
mungkin tingginya 20m. Sosok itu suka memberikan perlindungan ke dirinya, ia
menjaga rumahnya, membunuh semua musuhnya, sampai membantu setiap kesulitannya.
Walaupun ia adalah anak indigo tetapi ia tidak bisa merasakan kehadiraanya.
Hanya orang tertentulah yang bisa melihatnya. Mungkin hanya akulah yang bisa
melihatnya. Mungkin untuk mempercayai ini sangat sulit, dan beberapa orang akan
memanggilku musyrik. Tetapi ku mengabaikannya. Setiap hari, ku berlaga biasa
saja seperti orang-orang biasa. Berdiam diri mungkin pilihan yang tepat, karena
dengan bertemu orang-orang ku bisa melihat sosok-sosok yang absurd yang
mengikuti di belakangnya. Dahulu aku pernah melihat sesosok makhluk gaib
berwarna merah dengan muka berlumuran darah. Sosok ini mengikuti ibu saya
setiap hari. Tetapi sosok itu sudah hilang, tak ada lagi yang mengikuti ibuku
selain seekor kucing yang setiap hari mengikutinya. Tak ada rasa takut yang
menghampiriku setiap melihat ibuku. Diriku tak bisa berubah, hanya ada rasa
takut di setiap hari-hariku.
Pengelihatan ajaibku bermula saat saya duduk dibangku SMP tepatnya
kelas 9 SMP yaitu tahun 2001. SMP ku terletak di Jakarta Timur di daerah Lubang
Buaya. Sekolah ku dikelilingi oleh pohon karet dan kononnya banyak sekali
penampakan-penampakan yang sering menggangu sekolahku. Suatu hari di tengah jam
isitirahat, saya dan Badhir bosan dan ingin mencoba hal-hal yang baru. Mungkin
karena kita sudah memasuki remaja, kita ingin melakukan hal-hal yang aneh yang
tidak membosankan.
“Woy bosan nih.” ujar Badhir.
“Ya udah mau ngapain sekarang,” ucap diriku.
“Terserahlah bosan kalau bisa ajak-ajak yang lain biar serulah,”
lanjut diriku.
“Ya udah sana panggil yang lain,” ujar Badhir.
Tak lama kemudian 1 orang temanku datang.
“Oke gimana kalau kita main jalangkung, tapi jangan disekolah,
mainnya ditengah hutan karet,” Ya udahlah kalau begitu.
“Ah gw gak ikut, takut, gw mau ke kelas aja. Ya udah lah sampai
nanti Sigit, Badhir,” Ucap temanku.
“Takut loe, gak berani, ya udah nanti aja pas pulang sekolah biar
greget, kalau bisa udah mau magrib,” Ujar diriku.
Setelah mengikuti pelajaran di sekolah diriku dan Badhir bertemu
di depan gerbang sekolah. Ia membawa boneka Leak Bali yang ia temukan di
kelasnya. Aku dan Badhir lekas menuju ke belakang sekolah dan berjalan sekitar
200 m dari sekolah. Keadaannya sangat sepi, hanya terdengar suara burung dan
serangga-serangga. Konon di hutan ini banyak sekali sosok halus yang absurd dan
aneh-aneh wujudnya. Ada yang bertubuh besar setingi 10 m dengan 2 tanduk
tertusuk di kepalanya. Manusia berkepala macan, yang disebutnya oleh warga
sekitar sebagai siluman, yang selalu mencari mangsa di hutan, Pocong,
Kuntilanak, Genderuwo yang berbadan besar dan bongsor dengan taring. Terdapat
makhluk yang berukuran sama dengan manusia yang memiliki muka datar dan
diselimuti oleh darah, makhluk-makhluk ini hanya sebagian kecil dari
makhluk-makhluk yang ada di hutan karet ini. Sesampainya ditengah-tengah hutan
kita mulai menaruh boneka itu didepan kita dan selembar kertas dan pensil yang
sudah diikat dengan Leak tersebut. Tanpa diduga si Badhir membawa HP nya dan ia
langsung memutarkan lagu Lingsir Wengi yang katanya untuk memanggil Kuntilanak.
Ia memutar lagu itu sampai habis. Setelah lagu itu selesai kita mulai memainkan
jalangkungnya.
“Cepat nyanyi lagunya,” ujar Badhir.
Dengan serentak kami berdua menyanyikan lagu Jalangkung itu.
Jelangkung jelangsat
Di sini ada pesta
Pesta kecil-kecilan
Jelangkung jelangsat
Datang tidak diundang
Pergi tidak diantar
Setelah menyanyikan lagu itu Leak itu bergerak kesana kemari, kami
pun memegangnya dengan sangat keras. Kami pun mulai menanyakan pertanyaan ke
Leak tersebut yang sudah dirasuki oleh makhluk gaib.
“Assalammualaikum, kami disini tidak mau menggangu tapi kami hanya
ingin berinteraksi dengan dunia kalian,” Ujar saya.
“Siapa nama anda,” ujar diriku.
Leak tersebut menulis dengan sendirinya lalu ia menulis namanya
Silawarti. Tak sempat menanya banyak hantu ini merasuki Badhir. Aku pun panik
tetapi berusaha untuk tenang. Lalu aku pun mulai menanyakan beberapa pertanyaan.
“Mengapa kamu bisa disini,” ucap diriku
Badhir menjawab dengan tubuh dirasuki “Aku dibunuh setelah
diperkosa oleh lelaki jahanam yang tak tahu diri.”
Baru saja menanyakan pertanyaan kedua, makhluk gaib itu keluar
dari Badhir. Badhir pun lemas tetapi masih sanggup untuk berdiri. Tiba-tiba
Leak itu meledak.
“Gila!!!!! Meledak tuh Leak.”
Kita berdua lari ke arah sekolah, dan ditengah pelarian. Kami
berdua dikelilingi oleh makhluk-makhluk gaib yang abstrak. Ada 5 Genduruwo
disekitar kita dengan Pocong dan Kuntilanak. Mereka semua berbadan besar dengan
dilumuri oleh darah. Genduruwo tersebut bermuka Leak, matanya melotot dengan
taring menjulur keluar dan tanduk menusuk di kepalanya. Kami berdua panik dan
tidak bisa apa-apa. Lalu kami berdua lari saja tanpa melihatnya, kami berdua
mulai membaca doa yang kami ingat, semua doa yang kami ingat dibacakan satu per
satu. Tetapi makhluk gaib tersebut tidak mau hilang. Kami pun dengan berpikiran
kosong langusng berlari sekencang-kencangnya menuju gerbang sekolah. Sekitar 10
menit berlari kita sampai di sekolah dan bertemu dengan satpam sekolah.
“Sudah jam 5 sore, sana pulang cepat! Gerbang sudah mau ditutup!”
suara lantang dari si satpam.
“Ia pak, kita akan keluar,” ujar Badhir.
“Badhir gw nginap dirumah loe dulu, dirmah gw gak ada orang
semuanya pada ke luar kota dan gw ketakutan habis main jalangkung,” Ucap
diriku.
“Oke nggak apa-apa, loe tidur dirumah gw aja sampai besok.”
Kami pun pulang menggunakan Kopaja ke arah Tebet. Sesampainya
dirumah Badhir saya langsung tidur dan berusaha untuk melupakan semuanya yang
sudah terjadi. Keesokan paginya diriku menjadi aneh, merasa berat di kepala dan
kupaksakan diriku untuk bersekolah bersama Badhir. Sesampainya disekolah ku
melihat gendurowo yang kulihat dihutan. Aku pun pingsan dan langsung dibawa ke
klinik sekolah.
Setelah 1 jam tertidur aku pun bangun dengan kepala pusing dan
berkunang-kunang.
“Ada apa Sigit,” ujar guruku.
“Tadi pagi waktu saya masuk ke gerbang sekolah, saya melihat
genduruwo besar sekali dan menyeramkan.”
“Gak mungkin ada kan disini bersih, semua makhluk gaib sudah
dihilangkan. Buktinya di kelas 7A ada anak indigo. Ia sering melihat hantu di
belakang sekolah tapi ia tidak pernah melihat hantu di sekolah. Katanya
hantunya tidak berani masuk ke lingkungan sekolah, hanya berani di hutan karet
belakang sekolah kita,” ujar guruku.
Pada saat inilah aku percaya bahwa diriku bisa melihat hantu
melebihi orang-orang indigo. Mungkin hanya khyalan, tetapi saya yakin ini
sungguh benar terjadi kepada diriku. Ilmu yang melebihi orang-orang. Mungkin
diriku yang sial, karena Badhir tidak kenapa-kenapa.
Mungkin ini sebuah getah yang menempel di diriku. Rasa penasaranku
membawaku menemui malapetaka. Mungkin hanya diriku yang memiliki ilmu lebih
dari indigo. Setelah beberapa tahun, saya muak dengan penglihatan ini saya
berusaha untuk menghapus pengelihatan ini dengan cara apapun hingga akhirnya
aku bertemu teman SMP ku Badhir, yang bersedia untuk menolongku.
“Dhir nanti ketemuan di rumah gw, gw mau ngomongin sesuatu sama
loe.” diriku memberi pesan singkat ke Badhir.
“Ya udah jam 10 pagi, nanti gw bawain pak ustad yang katanya ahli
dalam menghilangkan pengelihatan dunia lain.” balas Badhir.
“Ya sudah, semoga berhasil,” Ku membalas.
Setelah 2 jam menunggu Badhir pun datang dengan pak ustad.
“Assalamuaikum.”
“Waalaikumsalam, silakan duduk.”
“Iya makasih” jawab Badhir.
“Jadi apa keluhannya, katanya kamu bisa melihat makhluk gaib yang
tidak semua orang bisa dan orang indigo bisa.”
“iya betul pak, bukan sekedar lihat saja, saya bisa merasakan
sifat-sifat dari makhluk gaib tersebut dan pengaruh apa yang mereka bawa kepada
pengikutnya”.
“Oh, dulu saya seperti kamu, saya memiliki ilmu melebihi orang
indigo, persis seperti kamu. Dulu saya bisa merasakan dan melihatnya. Saya
melihat setiap orang pasti ada yang mengikutinya, bisa jin baik atau jin jahat
dan jin-jin tersebut bisa mempengaruhi hidup orang tersebut jika mereka tidak
memiliki iman yang kuat. Jin-jin ini beragam-ragam ada yang abstrak, jahat,
tinggi, besar, kecil hingga cantik. Jin-jin ini bisa berubah wujud dan terus
mengikuti orang yang sama hingga mati. Jika orang tersebut mati, jin tersebut
akan mengikuti orang yang lainnya. Hanya imanlah yang bisa menolongmu nak, Iman
kepada Allah SWT. Dengan memperkuat iman kamu bisa menghilangkan penglihatan ke
makhluk gaib.” Ujar pak ustad.
“Jadi saya harus bagaimana pak?” tanya diriku dengan rasa takut.
“Kau harus masuk pesantren di Bondowoso, seperti saya. Pesantren
ini bukan sekedar pesantren biasa. Pesantren ini membawamu ke jalan yang lebih
terang dan menghapus semua rasa takut yang ada di dirimu. Semua murid-murid di
pesantren ini memiliki kasus yang sama sepertimu. Saya sarankan untuk pergi ke
pesantren Al Nahdlatin di Bondowoso dan tinggal untuk 3 tahun. Kau harus
meninggalkan semua kesibukan di Jakarta jika kau mau selamat. Karena jika
dibiarkan begitu saja kau akan bisa melihat hal-hal yang lebih gila.” Tutur pak
ustad.
“Oh begitu, kalau begini saya pikir-pikir dulu.”
Ya sudahlah saya mau pulang, karena masih ada urusan lagi,” ucap
Badhir.
Pak ustad dan Badhir meninggalkan rumahku dan keadaan menjadi
hening. Keputusan ada ditanganku apakah aku ingin menderita untuk seumur
hidupku atau menderita selama tiga tahun meninggalkan semua kesibukan.
Seminggu setelah memikirkan baik-baik akhirnya ku membuat
keputusan yaitu aku akan pergi ke Bondowoso dan melakukan semua ucapan pak
ustad yang mengunjungiku seminggu yang lalu. Diriku merasa pesimis dan merasa
tidak yakin dengan apa yang dikatakan pak Ustad.
Keesokan harinya aku bersiap-siap, memasukan semua bajuku untuk
persedian tiga tahun kedepan karena di pagi hari aku akan berangkat. Saat
magrib tiba ku berkunjung ke rumah Pak Ustad yang memberikan penerangan
ke diriku. Ku meminta restu agar selamat di jalan dan semua berjalan dengan
lancar.
Pukul 3.00 WIB aku sudah ada di terminal Kampung Rambutan Ku
menunggu bus jurusan Jakarta- Bondowoso. Dengan membayar Rp.75.000,- ku siap
menempuh perjalanan selama 2 hari. Selama di bus ku hanya bisa membaca buku dan
tidur.
Setelah 2 hari perjalanan akhirnya ku sampai di Bondowoso Ku
mencari angkot berwarna hijau yang akan membawaku ke Pesantren Al
Nahdlatin dan dilanjutkan dengan menaiki ojek selama 2 jam. Setelah
menaiki ojek ku turun dan berjalan selama setengah jam karena pesantren ini
tidak bisa dilalui oleh kendaraan apapun. Sesampainya disana aku langsung
disambut oleh pemilik Pesantren ini.
“Apakah kamu yang bernama Sigit?” Tanya Pak Amin.
“ Ya… betul..,.” dengan rasa tegang menjawab pertanyaannya.
“Ngomong-ngomong bapak tau nama saya dari mana?”
“Oh saya tau dari Ustad Paino yang di Jakarta. Katanya ia mau
mengirimkan seseorang ke sini. Kamu bisa memanggilku dengan Pak Amin atau Ustad
Amin.” ujar Pak Amin.
“Sekarang saya kasih kamu kamar, mungkin kamar ini tidak sebagus
di Jakarta. Disini ada 30 santri seperti kamu, yang memiliki kasus yang sama
seperti kamu. Disini kita Sholat berjamaah dan melakukan semua perintah Allah
dengan benar, ikhlas dan berusaha menjauhi semua larangan-larangan Allah.
Sekarang kamu istirahat dulu, nanti kita sholat Magrib berjamaah,” ucap Ustad
Amin.
Senja pun tiba, Saya bergegas untuk pergi ke masjid. Di sana semua
orang berkumpul dan melakukan sholat Magrib berjamaah. Tak disangka-sangka ku
bertemu teman baru yang lebih tua dibandingkan saya. Seperti Ajiono, Ambar,
Brata dan masih banyak yang lain. Kita mengobrol sampai adzan Isya
berkumandang. Setelah saya melaksanakan sholat Isya kita membaca Al-Quran
selama 1 jam. Tiba-tiba mereka semua bergegas keluar masjid dan saya pun ikut keluar.
Mereka semua bergegas menuju hutan dibelakang pesantren secara menyebar. Diriku
panik dan akhirnya ku bertemu dengan Pak Amin.
“Pak ada apa ini?” ujar diriku dengan jantung berdebar.
“Nanti kamu akan seperti itu, ini merupakan pelatihan untuk kita
semua yang bertujuan untuk menghilangkan pengelihatan kita terhadap hal-hal
gaib. Mereka akan bersemedi ditengah-tengah hutan secara terpencar. Mereka
harus pergi dari area pesantren minimal 2 KM. Disana mereka akan diam dan
mencuci otaknya selama 3 jam. Mereka akan melakukannya untuk dua kali sehari 4
jam setelah subuh yang dimulai pada pukul 6.000 dan 3 jam setelah Isya yang
dimulai pada pukul 20.00 sampai 23.00. Nanti kamu akan terbiasa dan lama
kelamaan pengelihatanmu terhadap hal gaib akan pudar. Besok kita akan mulai
kegiatannya.”
“Terima kasih atas penjelasannya,” ujar diriku.
“Sama-Sama.”
Keesokan harinya ku bangun pukul 4.00 dan bergegas melaksanakan
sholat Subuh. Setelah melakukan sholat subuh ku menghampiri Pak Amin.
“Sudah siap?” tanya Pak Amin.
“Siap pak,” dengan rasa tegang.
Kemudian ku dibawa oleh Pak Amin kedalam hutan tersebut. Baru saja
menginjakan kaki di hutan tersebut ku langsung merasakan dan melihat hal-hal
aneh dan gaib. Ku melihat seseorang tanpa kepala sedang berjalan kesana-kesini
untuk mencari kepalanya. Saya melihat 10 kepala terbang kesana kemari tanpa
arah. Terdapat ibu-ibu yang menjerit kesakitan. Jeritannya jelas terdengar
sampai kedalam otak saya. Terdapat Siluman Macan dan Babi Ngepet yang sedang
berjalan persis disebelahku. Ku melihat sebuah kerajaan yang sangat besar yang
dijaga oleh 2 raksasa yang tingginya sekitar 30 m dengan taring keluar, mata
melotot dan badan dilumuri oleh darah terutama dibagian tangannya. Ku bisa
merasakan bahwa didalam kerajaan itu terdapat makhluk-makhluk yang lebih
abstrak. Tetapi yang paling jelas terlihat adalah Kuntilanak berwarna merah
sedang menunggu di pohon sebelahku. Kuntilanak ini memiliki lubang di
punggungnya dengan tinggi 5m. Ku tidak bisa tahan dengan hal-hal disekitar ini.
Bau amis yang melekat dan makhluk-makhluk gaib di hutan ini akan ku hadapi
selama 3 tahun. Pak Amin memaksa ku untuk tetap tahan dan ia menyuruh ku duduk
di depan raksasa itu. Ku berusaha tenang, Pak Amir hanya duduk disebelahku.
“Kosongkan pikirinmu, jangan rasakan, jangan ikuti perintah
mereka. Kau adalah makhluk yang sempurna.” Pak Amin membisikanku.
“AHHHHHHH!” ku berteriak sangat kencang melepaskan semua rasa
takut ku.
“Tidak apa-apa coba kosongkan pikiranmu,” kata Pak Amin.
Setelah berusaha untuk mengosongkan pikiran, dengan mata ditutup
saya tidak merasakan apapun. Tidak sedikit apapun. Ku tak berani membuka mataku
karena ku yakin pengelihatanku masih berjalan. Tiga jam tak berjalan dan
tiba-tiba Pak Amin menyampariku.
“Sigit sudah selesai,” ujar Pak Amin.
“Cepat sekali ku tak merasakan apapun. Mungkin pertamanya saja ku
merasakan ketakutan tetapi setelah mengosongkan pikiranku, diriku tak merasakan
apapun.”
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi
tahun ku tak berasa sudah 3 tahun sudah ada di pesantren ini. Hari demi hari
pengelihatan ku semakin menurun, sekarang ku hanya bisa mendengar hal-hal gaib
tetapi tidak bisa merasakannya dan melihatnya. Ku merasa berterima kasih kepada
Pak Amin dan akhirnya ku memutuskan untuk pulang pada tanggal 27 September
2012, 5 hari sebelum Lebaran. Diriku sudah bersih dari noda-noda hal-hal gaib.
“Pak Amin besok saya akan pulang ke Jakarta. Saya merasakan
manfaatnya sekarang saya sudah seperti orang biasa saja,” Ujar diriku.
“Sama-sama, saya juga berterima kasih kepada kamu. Tetapi saya
mempunyai satu pesan untukmu,” ujar Pak Amin.
“Apa itu?”
“Sesampainya di Jakarta kamu harus pergi ketempat dimana kau bisa
mendapatkan pengelihatanmu. Karena ku yakin pengelihatanmu bukan dari lahir. Kamu
akan ketempat dimana kamu mendapatkan pengelihatanmu ini dan meminta maaf
dengan membaca Ayat Kursi.”
“Kalau begitu saya akan laksanakan perintah anda,” ujar diriku.
Keesokan hari pun tiba, ku pamit ke semua santri yang ada di
pesantren ini dan kepada Pak Amin. Ku menempuh perjalanan yang sama. Setelah 2
hari perjalanan, akhirnya ku sampai di Jakarta yang disambut oleh Badhir. Ku
langsung pulang ke rumah dan menaruh barang-barang di rumah. Ku ajak Badhir ke
tempat dimana kita bermain jalangkung dibelakang sekolah kita di Lubang Buaya.
Walaupun sekolahnya sudah tiada ku mempunyai firasat bahwa hutan tersebut masih
ada. Kita pun masuk kedalam hutan itu dan langsung membaca Ayat Kursi dan
tiba-tiba diriku merasa lega. Semua beban di diriku keluar. Ku merasa bahwa
diriku mempunyai jiwa yang baru dan hidup yang lebih baik.


0 komentar:
Post a Comment