30 AGUSTUSKU
“tut.. tut…” ponselku berdering tepat pukul 00:00 WIB.
ternyata batrenya habis. astaghfirulloh. ternyata aku ketiduran malam ini.
bagaimana bisa? aku langsung berlari menuju tempat chargerku kemudian
mengaktifkan kembali ponselku. kudapati 2 pesan whatsapp. ya dari dia. Mantan
komitmenku yang sekarang berada di Madura untuk melanjutkan pendidikan di sebuah
universitas Trunojoyo Madura. Ternyata balasan singkat darinya, anehnya kenapa
ketika aku ketiduran dia tak bangunkan aku? biasanya dia meneleponku atau
sekedar mengirim sms. aku mengetikkan sedikit kata maaf dan menunggu balasan
darinya.
15 menit berlalu. Tapi Mas iyan tak kunjung membalas.
Oktaviyano itulah namanya. Meskipun kami sudah putus komitmen tapi aku selalu
mengusahakan untuk bisa kembali kepadanya. 4 kali aku mencoba mengajaknya
balikan tapi hasilnya nihil. tanggal 8 Agustus malam sempat kami balikan atas
kemauannya. Tapi dia menyatakan bahwa dia sempat mencintai orang lain. Sekarang
adalah tanggal 13 Agustus malam jika komitmen kami berlanjut mungkin sudah 7
bulan tepat kami berkomitmen. Tapi semua itu salahku. Egoisku tak sebanding
dengan kesabarannya. Hingga saat dia benar-benar pergi di situlah aku baru
mengubah sikapku.
Aku mengirim sebaris kalimat untuknya. “Aku harap selama aku
ketiduran tadi kamu gak chat cewek lain dengan perasaan cinta kamu sama dia
mas.” itulah isi chatku. karena dia belum balas chatku aku kembali mengirim
pesan yang isinya “kamu masih ingat dengan kata ini *semenjak aku mengenalmu
aku tak lagi tertarik dengan orang lain* tahukah kamu? aku merasakannya.
benar-benar merasakannya saat ini.” Beberapa menit kemudian dia membalas
chatku. Dia meminta maaf kepadaku karena ternyata dia kembali chatting dengan
perempuan yang sempat ia cintai dulu seusai putus denganku.
Hatiku hancur. Aku membalas chat sekadarnya saja. kemudian
aku menangis semampu mata ini terbuka. Aku berlari menuju tempat wudhu dan
bersujud di hadapan Sang Maha Cinta. Aku mengatakan segalanya. Aku menceritakan
segalanya kepada Allah. Dulu kami bertemu tanpa sengaja. Hingga kemudian saling
timbul rasa. Rasa yang tumbuh begitu lama. Aku trauma tapi tetap saja ia
memaksa dan dia berjanji kepadaku “aku janji Sekar. aku gak akan kayak mantan
komitmenmu si Ahmad itu” itulah isi janjimu mas Iyan.
2 hari berlalu tapi badanku masih panas. Mungkin kecapekan
abis kegiatan agustusan di kecamatan sebelah. Aku sekolah di kecamatan orang.
Jadi aku agustusan pun di kecamatan orang. Ibuku pun membawakanku seperangkat
obat-obat herbal. Aku tak tahan melihat kedua orangtuaku menangisiku lagi
karena berbagai macam penyakitku yang kini kambuh. Ibu akhirnya mengerti kenapa
penyakitku kambuh. Ya, karena patah hati tentunya.
Apakah aku sebodoh ini Tuhan? aku sudah berjanji tidak
menghubunginya lagi tapi apa? aku masih saja mengetikkan kata-kata perhatianku
padanya. hatiku sejuk tiap kali dia membalas chatku. hingga akhirnya suatu hari
dia cuek padaku. sejak saat itu aku tak lagi menghubunginya. hingga kini tepat
tanggal 20 Agustus. aku menemukan cinta baru. Bukan cinta sungguhan. Hanya
sekedar kagum kepada seorang anak Paskib bernama Ady. aku menyukainya hanya
agar aku tak membenci anak paskib yang salah satunya adalah sosok perempuan.
sahabatku yang berhasil membuat Mas Iyan jatuh cinta padanya dan terus berjuang
memberi perhatian hingga hati Mas Iyan berhasil berpaling dariku. Tapi kenapa
harus dengan sahabatku? ah dia bukan wanita baik.
Maafkan aku Mas Iyan kini aku mencintai lelaki lain. tanggal
21 Agustus malam aku berhasil mendapat nomor Mas Ady dari temanku yang
sejurusan dengannya. Aku menghubunginya dengan memberi sedikit tautan islami.
Dia membalas chatku. Dan ketika dia tau aku adalah perempuan dan berasal dari
anak IPS dia tak lagi membalas chatku. Dari situlah aku berhenti berharap.
Dan sekarang adalah tanggal 30 Agustus. Ternyata ada kejutan
dari Allah untukku. Aku kecelakaan dan di bawa ke Rumah Sakit terdekat sekitar SMA
ku. Lagi-lagi Agustusku hancur. Mataku minus 3 bagian kanan dan 2 bagian kiri.
Dan aku kehilangan sebagian ingatanku. 30 Agustusku yang paling berkesan di
umur ke-17 ku. Terimakasih Tuhan telah memberiku kesempatan untuk mengawali
segalanya lagi. Bismillah. Allahuakhbar.


0 komentar:
Post a Comment